Saka POV
Sabtu pagi, tak ada kuliah hari ini. Mengumpulkan pakaian kotor, mencuci lalu jika cukup waktunya, aku akan menyetrika. Sebetulnya, dengan uang hasil bekerja, aku bisa saja berlangganan laundry, tapi sudah hampir libur semester, aku ingin membawa pulang oleh-oleh untuk Ayah, Ibu, dan Sita. Meski aku bekerja, Ayah tak pernah mengurangi jumlah kirimannya tiap bulan sehingga aku bisa menabung untuk membeli buku bacaan, pergi ke Palagan, atau sesekali makan di luar warung depan kos-an. Sebelum liburan, tentu saja ada ujian. Teman-teman kos sudah mulai jarang menonton televisi di ruang depan. Hampir semua berkutat dengan buku-bukunya di dalam kamar atau di balkon seperti yang sering Edo lakukan sambil menikmati rokoknya. Aku sempat melihatnya tertidur di balkon di mana sebagian kertasnya terbakar sisa putung rokok yang tergeletak di meja.
Sudah seminggu, belum ada email balasan dari Saskia. Seharusnya aku juga tidak terlalu mengharapkannya karena Saskia pasti disibukkan dengan rutinitas yang baru. Dia sudah kembali ke tengah keluarga, mungkin mulai diperkenalkan kembali ke masyarakat, bepergian, dan aku harap masih mendapatkan pendampingan jika dia membutuhkannya. Ya, seharusnya aku tidak terlalu mengharapkan email balasannya.
Aku lebih banyak berada di kamar kos dibanding sebelumnya. Bukan karena aku ingin lebih banyak belajar, lebih karena akhir-akhir ini Agnia jarang mengajakku keluar. Terakhir kami keluar adalah saat Agnia meminta tolong untuk menemaninya servis kendaraan. Setelah itu dia langsung pulang, dia ingin belajar. Aku ingat katanya soal ujian, “Meski aku terlihat urakan begini, tapi aku serius soal pendidikanku. Aku tidak mau gagal,” katanya, lalu pamit pulang terlebih dahulu. Aku tidak pernah meragukan tekadnya dalam hal pendidikan. Dia bisa mengejar ketinggalan saat pindah di kelas 2 SMA, dari sekolah kampung ke kota yang begini besar, sudah membuktikan dia memiliki tekad yang kuat. Dia juga beradaptasi dengan baik di semester ini setelah 1 semester cuti ketika ibunya sakit. Pasti dia memang ingin berkonsentrasi pada ujian yang sebentar lagi akan dimulai. Aku juga sebaiknya begitu. Kututup tab mail pada laptopku lalu mulai membuka modul-modul elektronik yang tersimpan di sana. Masih ada beberapa jam sebelum jam kerja Sabtu soreku dimulai. Mungkin aku juga perlu libur kerja minggu depan, bukan ke Palagan tentu saja, tapi untuk belajar.
===
Aku melangkah keluar dari ruang serbaguna yang baru saja dipakai untuk anak komunitas pecinta alam, mengadakan pertemuan. Akan ada pendakian lagi akhir semester ini. Semenjak insiden dengan Arjuna, ini akan menjadi kali pertama pendakian yang diikuti oleh hampir semua anggota. Semester lalu ada pendakian namun hanya sedikit yang mendaftar. Aku akan ikut kali ini. Sudah kutuliskan namaku sekaligus mengurus administrasi yang dibutuhkan. Dari sana aku langsung menuju kelasku.
“Hai... dari mana? Kata Dewi dia tadi sudah melihatmu di sini,” tanya Agnia yang sudah duduk di kursinya. Aku mempercepat langkahku untuk duduk di sebelahnya.
“Iya, tadi aku ke ruang Pecinta Alam sebentar.” Dia terlihat seperti biasa, dengan rambut yang menyentuh leher, tak bisa dibilang panjang, namun juga tidak pendek.
Ada senyum di wajahku setelah melihatnya. Seperti sudah lama aku tidak melihat Agnia, padahal baru dua hari lalu saja. “Apa kabar?” tanyaku. Lalu aku menyadari bahwa itu adalah pertanyaan bodoh. Kami bertemu Jumat kemarin. Apa yang bisa terjadi padanya selama dua hari, dan dia terlihat sangat baik-baik saja di hadapanku.
Namun Agnia menjawabnya. “Aku baik. Kamu?”
“Aku juga.” Kemudian Agnia sibuk dengan tas dan buku di dalamnya.
Terasa aneh kali ini karena biasanya aku dan Agnia selalu memiliki bahan pembicaraan. Lebih tepatnya Agnia akan bercerita dan aku akan mendengarkan, atau dia akan bertanya sesuatu lalu kami akan terlibat argumen. Pagi ini terasa lebih canggung. Aku mengikutinya mengeluarkan buku dari dalam tasku. Masih setengah jam sebelum jam kuliah dimulai. Lalu aku menemukan pertanyaan untuknya. “Bagaimana hubunganmu dengan Mas Bas?” Pertanyaanku menarik perhatian Agnia. Dia meninggalkan bukunya, melihatku kini. “Maksudku setelah semua yang kau ceritakan,” aku menambahkan.
Dia mengangkat bahu. “Kami baik-baik saja kurasa.”
“Maksudnya?” Aku sedikit memaksa.
“Ya... kami masih berkomunikasi, tidak sesering sebelumnya memang, tapi aku selalu membalas chat-nya, meski tidak selengkap biasanya. Kau tahu... biasanya Mas Bas akan bertanya padaku, apakah aku ingin menitip bahan belanjaan. Dia juga bertugas belanja di kafe tempat dia bekerja sekarang, lalu aku akan memberi daftar belanjaan yang aku inginkan. Dia akan mengantarkannya di hari Minggu, lalu kami akan berbincang, menata rumah, atau hal-hal lain yang dulu aku kira dia lakukan karena menyayangiku seperti adiknya. Sekarang aku tidak pernah melakukannya. Tapi aku selalu membalas chat-nya kok.” Aku mengangguk. Hubungan mereka sudah berubah, tapi mereka baik-baik saja. Aku memperhatikan Agnia, dia bercerita sambil mengerutkan dahinya, kebiasaan yang dia sering lakukan ketika berpikir atau mengingat-ingat. “Aku rasa kami baik-baik saja, ya kan?” dia bertanya padaku.
“Aku rasa begitu. Kau tidak perlu menjauhinya, kau hanya perlu menjaga jarak.”
“Betul, menjaga jarak.” Dia terdiam sejenak sambil melihatku. “Kamu sendiri? Sudah ada email balasan dari Saskia?”
Aku tertegun, lalu menjauhkan pandanganku darinya. “Belum.”
“Ah, sayang sekali. Tapi aku yakin dia akan segera membalasmu kalau dia sudah sempat. Mungkin memang belum memungkinkan,” katanya.
“Iya, aku rasa juga begitu.” Aku membuka buku dan mulai membaca meski tidak ada yang masuk dalam otakku. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Agnia berbincang dengan Dewi yang duduk di sebelahnya.
Saat jam makan siang, seperti biasa, kami makan bersama. Agnia berkata dia sangat lapar hari ini, mungkin tidak sempat sarapan pagi tadi. Tapi aku tidak menanyakan itu padanya, meski begitu sepertinya itu membuat selera makanku hilang. Buat apa dia memesan bahan makanan pada Mas Bas kalau pada akhirnya dia tidak menggunakannya untuk sarapan?
“Tidak kau habiskan makanmu? Tumben,” katanya sambil menghabiskan nasi rames yang tinggal sesuap.
“Perutku penuh,” jawabku sekenanya.