Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #26

Menjaga Hati

Saka POV

Memasuki masa ujian, semua mahasiswa seperti memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Restoran di siang hari semakin sepi, namun kafe yang menyediakan tempat makan yang nyaman dan WiFi menjadi diserbu. Aku mengambil izin kerja minggu lalu, namun sepertinya aku tak bisa izin lagi minggu ini karena mereka kekurangan orang untuk membantu sementara para mahasiswa yang bekerja sama-sama meminta izin untuk belajar.

Aku sudah tidak membuka email untuk mencari balasan Saskia. Jika dia mengirim, pasti akan ada notifikasi di ponselku; aku tak perlu mengeceknya setiap hari. Semakin hari aku pun semakin lupa mengenai email itu, tahu kalau Saskia sudah lebih baik saat ini saja sudah membuatku lega. Aku dan Agnia terkadang bertemu jika kami memiliki ujian di kelas yang sama. Tapi tak banyak waktu untuk kami bisa berbincang. Meski aku dan dia sama-sama datang lebih pagi pun, dia selalu menggunakan waktu untuk membaca bukunya. Setelah ujian selesai, dia buru-buru pulang. Terkadang jika kami bertemu, dia menawarkan untuk mengantarku, satu hari aku menerimanya, sekadar ingin menghabiskan waktu dengannya, setelah itu kami hanya bertukar kabar melalui chat, itu pun bisa dibilang jarang.

Hanya ada satu ujian di hari Sabtu ini. Pukul 11 siang, setelah ujian selesai, aku mencari Agnia. Tak ada lagi ujian kecuali ada yang perlu diulang. Meski kepalaku seperti mau pecah, tapi aku yakin aku tak perlu mengulang satu mata kuliah pun, aku yakin Agnia juga begitu. Aku ingin bertemu dengannya, mengajaknya makan siang. Bertemu dengannya setelah pikiran penuh semingguan ini rasanya pasti menyenangkan.

Aku masuk ruang 5.11 setelah melihatnya memasukkan alat tulis ke dalam tas. Bisa jadi dia menghabiskan semua waktu ujian sebelum mengumpulkan hasilnya. Ruang kelasnya sudah sepi, aku masuk menghampirinya.

“Hai... bagaimana tadi?” Agnia mengalihkan pandangan dari tasnya ke arahku.

“Entahlah... sepertinya tidak masalah, tapi... seharusnya bisa lebih baik lagi. Seperti ada hal yang aku lewatkan,” jawabnya sambil menghembuskan nafas panjang. “Kau sendiri?”

Aku mengangkat bahu, “Aku sudah berusaha maksimal. Semoga tak terlalu buruk.” Setelah Agnia selesai memasukkan semua alat tulisnya, aku menambahkan, “Mau makan siang?”

Agnia berhenti sejenak, lalu memutar tubuhnya menghadapku. “Aduh... aku sudah ada rencana makan siang sama teman-temanku. Kami sudah lama tidak berkumpul bersama.”

“Oh... begitu.” Ada perasaan sangat aneh di hatiku. Rasa paling besar adalah malu, lalu tentu ada rasa kecewa. Kenapa aku berpikir kalau Agnia pasti akan setuju pada ajakanku. “Baiklah. Kalau begitu aku pulang duluan,” kataku seraya membalik badan memunggunginya. Ingin rasanya aku langsung menghilang dari ruangan ini.

“Saka...” Suara Agnia memanggil. Aku membalik badanku lagi. “Maaf ya...”

Aku mengangguk. “Tidak apa-apa. Duluan ya...” Dia mengangguk. Kulangkahkan kaki menjauh darinya. Meski kami seharusnya sejalan ke arah luar, namun aku tak ingin berjalan dengannya kali ini.

Sepanjang jalan aku tidak bisa berhenti berpikir soal Agnia. Akhir-akhir ini dia menjadi sangat berbeda, atau itu hanya anggapanku saja. Tadi dia bahkan tidak mengajakku ikut. Bukan aku ingin diajak ikut, tapi biasanya Agnia akan menawariku untuk ikut bersama. Apalagi dia sekarang naik motor, dia bilang dia lebih suka dibonceng dibandingkan di depan. Apa sudah ada yang memboncengnya? Mungkinkah itu sebabnya kini dia jarang mengajakku keluar? Entahlah, yang aku rasakan, semakin lama seperti semakin ada jarak di antara kami.

Sabtu malam, restoran lebih ramai dibanding biasanya. Para mahasiswa yang baru saja menyelesaikan ujian sepertinya ingin melepas penat dengan berkumpul bersama. Ada 3 grup besar yang sedang makan, selebihnya adalah pasangan muda-mudi yang sepertinya sedang pacaran. Mungkin Agnia juga sedang merayakan selesainya ujian dengan teman-temannya, atau teman spesialnya. Kenapa aku jadi terlalu sering memikirkannya akhir-akhir ini.

Aku selesai lebih malam dari biasanya. Ada bonus yang aku terima dari manajer resto. Tak banyak, tapi cukup untuk uang makan. Manajer di sini lebih baik jika dibandingkan restoran atau kafe lain. Aku tak pernah berpindah tempat kerja, tapi teman-teman kuliah atau kos yang juga bekerja sering bercerita tentang tempat mereka kerja. Meski aku hanya bekerja harian selama weekend, tapi rasanya, semua karyawan kafe ini sudah dianggap seperti kawan dekat. Semuanya laki-laki, hanya petugas kasir yang perempuan. Lebih efisien katanya. Mungkin ada benarnya, meski jika Agnia mendengar, sudah pasti akan didebatnya. Aku jadi memikirkan Agnia lagi.

Setelah sampai di kos, aku langsung membersihkan badan. Meski hanya setengah hari, tapi hari ini rasanya sangat melelahkan. Badanku seperti lengket akan keringat. Setelah mandi, kantuk pun menyerang, meski begitu aku masih bisa mendengar suara notifikasi dari ponselku yang menandakan adanya chat masuk. Aku melihatnya.

Pesan dari Agnia.

“Sudah tidur?”

Aku ingat peristiwa tadi siang. Berpura-pura sudah tidur mungkin lebih mudah, lagi pula aku memang sudah mengantuk. Namun akhirnya aku membalasnya.

“Belum. Baru saja menyentuh tempat tidur.”

“Malam sekali, apa baru pulang?”

“Ya. Ramai sekali tadi. Ada apa? Kenapa belum tidur?”

“Aku merasa tidak enak tadi siang. Mungkin kita bisa keluar minggu depan? Ujian sudah selesai kan.”

“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kita sudah lama tidak makan bersama karena ujian. Kalau kau tidak sibuk, oke saja.”

“Oke. Kita bicarakan lagi Senin besok. Kamu besok masih kerja kan?”

“Iya. Tidak boleh libur lagi.”

“Wah, sepertinya memang ramai di mana-mana ya, tadi restoran tempatku dan teman-teman makan juga ramai. Semangat, Saka..!”

“Haha... terima kasih.” Aku memiringkan tubuhku, rasa lelah yang tadi kurasakan perlahan menghilang. “Tadi pergi ke mana sama teman-temanmu?”

“Kami makan siang bersama. Seperti biasa, 6 orang itu. Setelah makan siang, kami ke rumah Nola, menghabiskan waktu di sana hingga sore. Melepas penat dan membicarakan hal-hal tidak penting. Karena itu aku tidak mengajakmu, pasti kamu akan bosan.”

“Tidak apa-apa. Yang penting kamu bisa bersenang-senang dengan temanmu.”

“Iya. Memang menyenangkan berkumpul dengan mereka setelah ujian. Oke, Saka, kamu perlu istirahat. Besok masih kerja lagi kan? Pasti semakin ramai.”

“Iya. Kamu juga, sudah malam. Tidur.”

“Siap.”

Lihat selengkapnya