Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #27

Diantara Langit dan Rindu

Saka POV

Kujejakkan kakiku ke tanah keras Gunung Argopuro. Sudah 3 jam kami mendaki gunung dengan ketinggian 3.524 mdpl ini. Jika tak ada halangan, kami akan sampai puncaknya sebelum matahari terbit, bahkan mungkin ketika hari masih gelap. Semoga tak ada halangan. Semoga semua baik-baik saja.

Hasil ujian sudah diumumkan. Cukup baik untukku dan Agnia. Kami bisa mengambil semua jatah mata kuliah di semester berikutnya. Saat mengambil hasil ujian dan menandatangani rencana kuliah semester depan, adalah saat terakhir aku bertemu Agnia sebelum masa liburan dimulai. Dia akan pulang ke rumah neneknya keesokan hari. Aku bertanya apa dia butuh bantuan untuk membawa barang ke stasiun kereta, tapi dia menjawab kalau dia sudah mengirimkan barang dan oleh-oleh yang akan dibawanya sehingga tak ada barang berat yang menyulitkannya besok. Setelah itu, kami langsung berpisah. Dalam hatiku aku tak ingin lebih menyulitkan Agnia. Dia benar, berpisah selama masa liburan mungkin akan membantu kami untuk kembali seperti dulu, sebelum perasaan membuat situasi menjadi rumit. Aku harap dia benar.

Masih belum ada kabar dari Saskia. Aku berharap akan ada kabar meski hanya memberitahuku kalau dia sudah mulai beradaptasi dengan baik di sana. Tapi tak ada apa pun. Aku pun berhenti menunggu. Tak ada kabar bisa jadi pertanda baik. Aku berhenti sejenak untuk minum air putih hangat dari termos yang kubawa. Udara sudah jauh lebih dingin dari sebelumnya. Oksigen juga sudah lebih tipis, tapi hari masih gelap. Kami belum bisa melihat awan atau pemandangan lainnya. Tak banyak yang ikut pendakian kali ini. Hanya mereka yang sudah terbiasa dengan gunung tinggi dan terjal saja yang ikut. Mungkin kecelakaan yang terjadi pada Arjuna juga ikut mempengaruhi. Para orang tua menjadi lebih waspada ketika mengizinkan anaknya ikut kegiatan seperti ini. Aku mulai berjalan lagi bersama dengan teman-teman yang lainnya.

Teriakan Wahyu menandai sampainya kami di puncak. Pukul 02.20. Tanpa senter, semua masih gelap. Di sana sudah ada beberapa kelompok pendaki lainnya. Kami memilih tempat untuk beristirahat. Lampu emergency besar diletakkan di tengah-tengah lalu kami duduk mengelilinginya. Ada yang membangun kemah kecil. Aku sendiri tidak melakukannya. Aku lebih suka menunggu matahari terbit sambil menikmati udara malam di luar. Ridho menyalakan api dan memasak air mineral untuk menghangatkan badan.

Aku memandang kejauhan. Meski masih gelap, aku bisa membayangkan arakan awan yang ada di depan mata. Warna-warna hijau pepohonan yang jauh di bawah dan siluet gunung atau bukit lain yang jaraknya berdekatan. Begitu kecilnya manusia di hadapan alam. Begitu menggodanya alam hingga membuat manusia menjadi kurang waspada. Arjuna tidak sempat melihat keindahan dari puncak Magelung yang didakinya.

“Saka... airnya sudah mendidih.” Ridho menyenggol lenganku.

“Oh... oke.” Aku mengeluarkan termos dan mengambil tutupnya. Membuka kopi sachet dan menuangnya ke dalam tutup termos tadi. Setelah Ridho selesai menuang air mendidih ke dalam cangkirnya, aku mengambil teko dan memenuhi cangkirku. Bau kopi menyeruak meski cepat menghilang dihembus angin yang cukup kencang di atas Gunung Argopuro ini.

“Masih memikirkan temanmu? Arjuna?” tanya Ridho.

“Tidak juga. Teringat saja.” Jawabku jujur. Aku sudah jarang mengingat Arjuna, jika tidak bersama Saskia. Ridho menepuk-nepuk pundakku lalu kembali meniup dan menyeruput kopinya. Aku melakukan hal yang sama.

Apa Agnia sudah sampai di desa kakeknya? Seharusnya sudah sejak kemarin. Pasti dia sedang tertidur lelap di kamarnya yang lama. Dia akan bangun pagi lalu menemui kawan-kawan masa kecilnya. Mereka akan berlarian atau naik pohon bersama. Apa mereka masih suka melakukannya? Atau gawai sudah menjadi kesibukan semua remaja di kota hingga desa? Meski tidak bermain gawai pun, mungkin mereka sudah terlalu dewasa untuk naik pohon. Aku tersenyum membayangkan Agnia naik pohon dan aku melihatnya dari bawah. Aku sendiri bisa dihitung jari kalau soal naik pohon. Apa dia betul-betul berniat menghapus rasanya untukku? Kenapa aku tidak bisa melakukannya untuk perasaanku pada Saskia? Tapi kenapa sekarang aku justru lebih memikirkan Agnia?

Aku mengira saat aku mendaki untuk pertama kalinya, aku akan teringat Arjuna, lalu Saskia. Tapi... apa yang aku pikirkan sekarang adalah... aku ingin Agnia bersamaku, menunggu datangnya fajar, melihat arakan awan. Mendengarkan dia bercerita tentang apa saja, lalu tertawa bersama. Semakin aku memikirkannya, semakin aku takut akan apa yang dikatakannya dahulu.

 

= = = = = = = = = = = =

 

“Saka, bagaimana kuliah?” tanya ayah saat kami sedang duduk berdua di ruang tamu, sementara Sita duduk di karpet depan televisi.

“Kuliah baik-baik saja, Ayah. Saka yakin bisa lulus tepat waktu.”

Lihat selengkapnya