Saka POV
“Saka, tolong antar ini ke rumah Bu Asih ya,” kata Ibu sambil menunjuk kotak kardus yang sudah ditutup kembali menggunakan lakban. Di dalamnya, aku tebak pasti berisi sembako pesanan Bu Asih di toko kami.
“Baik, Bu.” Aku segera meletakkan bolpoin yang kugenggam lalu melangkah mengangkat kotak kardus tadi. Cukup berat memang, namun tak seberapa. Kutaruh di bagian depan motor matic yang memang biasa digunakan untuk mengantar barang.
“Setelah itu pulang saja. Ibu juga mau nutup toko habis ini,” teriak Ibu dari dalam.
“Ya, Bu,” jawabku. Toko grosir di dalam pasar memang hanya berjualan hingga siang hari. Pukul 2 biasanya Ibu dan Ayah sudah bersiap menutupnya. Ini sudah pukul 2 lebih 5 menit.
Aku menjalankan motorku menuju rumah Bu Asih. Rumah itu sudah kuhapal betul, karena Riana, teman sekelasku dulu, tinggal di sana. Kami sekelas sejak SD hingga SMA. Tapi, setelah lulus SMA, kami jarang bertemu. Apalagi, aku memang tidak pernah terlalu dekat dengan teman perempuan.
“Saka...” sapa Bu Asih sedikit berteriak dari teras rumahnya setelah motorku berhenti di depan.
“Bu Asih, apa kabar, Bu?” tanyaku sambil turun dan mengambil kotak kardus.
Bu Asih bangun dari duduknya lalu menghampiriku. “Baik. Kamu tambah ganteng saja.” Beliau menepuk punggungku.
“Bisa saja, Bu. Mau ditaruh di mana, Bu?” tanyaku.
“Dalam sekalian ya, Nak.” Bu Asih menuntunku masuk ke dalam rumahnya, memintaku menurunkannya di bagian dapur.
“Saka kuliah di Sibaru ya?” tanya Bu Asih.
“Iya, Bu. Riana kuliah di mana?” tanyaku sekadar basa-basi.
“Di sini saja. Sebentar... Riii!... Riana!! Ini lho ada Saka.” Bu Asih berteriak memanggil Riana. Aku sendiri tak bermaksud untuk bertemu dengannya.
Yang dipanggil keluar dari dalam kamarnya. Wajah Riana agak berubah dibanding terakhir kali aku ingat. Kulitnya lebih terang, rambutnya lebih pendek karena seingatku dulu selalu panjang.
“Hai, Saka,” sapanya sambil merapikan rambut di belakang telinga.
“Hai, Ri... apa kabar?”
“Baik, kamu?”
“Baik juga. Ambil jurusan apa?”
“Ekonomi.”
“Ow...” Aku sedikit merasa bersalah karena Bu Asih memanggilnya untuk bertemu denganku. Lebih baik segera aku akhiri rasa canggung ini. “Ya sudah, senang ketemu kamu, Riana, aku pulang dulu. Bu Asih, Saka pamit ya...” kataku pada Riana dan Bu Asih yang masih berdiri di dekatku.
“Buru-buru amat, Nak.”
“Iya, Bu, mau bantu Ibu nutup toko.” Aku berdalih.
“Memang dari dulu kamu anak yang baik, Saka.”
Aku hanya tersenyum lalu melangkah ke arah luar. Bu Asih dan Riana mengikutiku di belakang hingga ke teras.
“Mari, Bu.” Aku membungkukkan badan ke arah Bu Asih dan memberi senyum tipis pada Riana sebelum berjalan ke arah motorku.
Saat aku kembali ke rumah, Ibu sudah menikmati teh hangatnya di ruang tamu. Aku membersihkan diri lalu bergabung bersamanya. Sita seperti biasa sibuk dengan ponselnya sambil bersandar pada Ibu.
“Ketemu Bu Asih tadi?” tanya Ibu.
“Iya, Bu.”
“Ada Riana?”
“Ada.”
“Oh... kalian ngobrol?”
“Sedikit. Kenapa, Bu?”
“Tidak apa. Kalian kan teman sejak SD. Jangan putus silaturahmi. Kamu punya nomornya Riana?”
Aku menggeleng. “Saka sejak dulu tidak terlalu dekat dengan Riana, Bu.”
“Aih... Ibu mau jodohin Mas Saka dengan Mbak Riana,” celetuk Sita.
“Hush...” kata Ibu sambil menepuk bahu Sita. Aku hanya terdiam. “Kamu punya nomornya Mbak Riana, Sit?” tanya Ibu pada Sita. Sita mengangguk. “Kirimkan ke Mas-mu.”
“Buat apa, Bu?” tanyaku.
“Ya disimpan saja dulu. Apa salahnya. Anaknya cantik, gak neko-neko.” Ibu beralih pada Sita. “Sudah, Sit?”