Saka POV
“Aku pulaaaanggg...!” Suara Agnia mengagetkan kami. Aku memutar tubuhku, Agnia berdiri di ambang pintu, matanya hampir melotot melihatku. “Saka?!” Dia tersenyum lebar lalu berjalan cepat ke arahku.
Aku berdiri. “Hai, maaf tidak memberi kabar.”
Agnia masih tersenyum lalu dia berjalan lebih dekat dan langsung memeluk tubuhku. Hawa dingin masih aku rasakan di tubuhnya.
“Aku senang melihatmu di sini.” Dia melepas pelukannya. “Sudah lama?” tanyanya.
“Lumayan. Aku ngobrol dengan kakekmu.”
“Ehemmm...” Suara kakek Agnia membersihkan tenggorokannya, atau untuk mendapatkan perhatian. “Ya sudah, Agnia sudah datang, kakek tinggal masuk ya. Nak Saka, besok kita lanjutkan obrolan kita tadi.”
“Oh... saya nanti langsung ke Sibaru, Kek. Cuma mau mampir sebentar saja,” kataku.
Kakek Agnia merengut. “Mana boleh baru bertemu langsung pulang. Sudah beli tiket?” Aku menggeleng.
“Nah... kalau begitu menginap dulu barang satu dua malam. Kan masih libur.” Beliau beralih memandang Agnia. “Agnia, jangan biarkan Saka pulang hari ini ya?”
“Siap, Kek,” jawab Agnia tegas sambil memberi hormat pada kakeknya.
“Senang sekali lihat Saka.” Agnia tersenyum hingga menampakkan gigi depannya. Sadarkah kalau dia sudah mengatakannya tadi?
“Aku juga. Kamu dari mana?” tanyaku.
“Main-main saja sama teman-teman. Tadi salah satu temanku baru belajar naik motor. Aku mengikuti saja.”
“Oh ya? Temanmu belum bisa naik motor?”
Agnia menggeleng. “Dia takut dari dulu. Ini karena abangnya pergi merantau, dia baru mau belajar.” Aku manggut-manggut.
“Susah mencari rumah kakek? Kenapa tidak bilang dulu? Aku bisa jemput.”
“Tidak susah kok. Aku cuma mau mampir sebentar, tidak ingin merepotkan.”
“Kau sudah dengar kata kakek tadi. Kau tidak boleh pulang sebelum besok. Saka sudah di sini, akan aku tunjukkan tempat aku dibesarkan dengan sangat baik.”
Aku berpikir sejenak. “Baiklah kalau tidak merepotkan.”
“Sama sekali tidak.” Agnia tersenyum lagi. Entah apa karena aku tidak melihatnya dalam waktu yang lama, atau karena dia berada di lingkungannya dibesarkan, senyum Agnia sedari tadi terlihat lebih cantik dibandingkan sebelumnya. Hal ini membuatku ikut tersenyum.
Setelah berganti pakaian yang lebih santai, sore harinya, aku dan Agnia berjalan-jalan. Banyak yang menyapanya, dia memang dibesarkan di sini. Agnia membawaku ke sungai di mana dia sering bermain di sana ketika kecil. Tak terlalu dalam, hanya setinggi setengah betis. Airnya cukup jernih. Aku yang memakai celana pendek langsung menikmatinya, sementara Agnia duduk di batu besar melihatku.
“Kau cocok menjadi anak desa, Saka.”
“Winota juga bukan kota, meski tidak ada sungai,” jawabku.
“Tetap berbeda. Orang di sini lebih suka berjalan kaki, meninggalkan ponsel mereka, mengejar layang-layang, dan hal-hal kuno lainnya.”
“Kau juga begitu?” tanyaku sambil memainkan air melalui kakiku.
“Sebagian besar masih. Aku tidak lagi mandi di sungai meski masih banyak yang melakukannya kalau air lebih penuh.”
“Oh ya?” Aku menoleh ke kanan dan kiriku. Tak ada orang.
“Kau kurang beruntung. Airnya tak terlalu dalam. Hanya ada anak-anak yang bermain air kalau segini saja.” Agnia tertawa.
“Ck... aku justru takut kalau mengganggu mereka.”
“Tidak akan. Mereka akan suka melihatmu, anak kota.” Agnia terdiam sejenak. “Kenapa kemari, Saka?”
Tahu sepertinya pembicaraan kami akan lebih serius, aku beranjak dari dalam sungai, lalu duduk tak jauh dari Agnia.
“Aku ingin melihatmu. Ingin melihat tempatmu dibesarkan. Ingin melihatmu bersama keluargamu, teman-temanmu. Aku ingin melihat Agnia berlari atau memanjat pohon seperti yang kau ceritakan. Semua itu.”