Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #30

Diantara Rindu dan Ragu

Agnia POV

“Agnia, siapa cowok yang kamu bonceng kemarin itu?” tanya Nuri sambil memakan bakso pentol yang baru dibelinya.

“Oh iya... Aku juga lihat kalian berlari ke lapangan ini terus naik pohon. Pacaran. Dih, punya pacar nggak dikenalin ke kita,” Tobi menambahkan.

“Ck... apa sih. Namanya Saka, dia bukan pacarku. Kami berteman dekat saja,” jawabku sambil mengunyah siomay.

Kami bertiga menikmati sore di lapangan sambil membeli jajanan. Aku melihat pohon yang kunaiki bersama Saka dua hari lalu, tempat dia menciumku. Ingatan ini membuatku jengkel. Kenapa harus menciumku? Lalu aku tiba-tiba tersadar dan melihat ke arah Tobi. Semoga dia tidak melihatnya. Tapi sepertinya tidak. Kalau Tobi melihat Saka menciumku, dia pasti sudah berkokok dari kemarin. Aku meneruskan makan baksoku dengan lebih tenang.

“Ganteng juga, Agnia. Apa benar bukan pacar? Kenapa dia ke sini?” Nuri masih ngotot.

“Sudah aku bilang, kami berteman dekat. Masa tidak boleh main ke rumah teman dekat? Aku sering main ke rumah kalian, sampai disuruh menyapu rumahmu juga, aku pernah kan?”

“Lain itu, kita kan tetangga,” Nuri tak sependapat. Dia lalu melihat Tobi. “Tobi, apa kamu mau ke rumah teman dekatmu yang di luar kota? Cewek.”

Tobi seperti sedang berpikir. “Tergantung, apa dia cantik? Apa dia sudah punya pacar? Apa bapaknya galak?”

“Kau tak pernah berubah,” kataku sambil mendorong sedikit tubuhnya. Nuri juga melakukan hal yang sama.

“Tapi itu benar, Agnia. Buat apa kalau tidak ada rasa suka aku mau jauh-jauh ke sana.”

“Bagaimana kalau aku pindah, aku di Sibaru. Apa kau tidak mau menjengukku sekali-sekali?” Aku masih tak mau kalah.

Tobi berpikir lagi. “Iya juga sih. Kalau aku ada kesempatan, pasti aku mau mampir ke tempatmu.” Tobi melihat Nuri. “Bisa juga begitu, Nur.”

“Ah, aku masih tak percaya. Awas saja kalau kau sudah punya pacar tapi tak memberi tahu kami,” ancamnya lalu menghabiskan pentol terakhir.

 

Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan kata-kata Nuri. Kedatangan Saka memang mengejutkanku, apalagi dia tidak memberi tahu. Lalu dia menciumku. Ciuman itu, kenapa aku tidak bisa lupa. Sialan, Saka, kenapa harus ke sini? Bagaimana aku bisa mengembalikan hatiku ke tempatnya kalau sudah begini? Aku tak mungkin menghindarimu, aku juga tak ingin membencimu, Saka.

Tanpa sadar, aku sudah sampai di rumah kakek. Kulihat kakiku kotor. Aku ingat, selama perjalanan aku menendang-nendang kerikil di sepanjang jalan. Aku langsung menuju keran air yang terpasang di luar. Kubasuh kakiku sebelum masuk. Tapi aku belum ingin masuk ke dalam. Aku duduk di teras, memandangi halaman rumah kakek. Kalau dipikir-pikir, meski dekat, arah ke Sibaru dari Winota tak melewati Prapen. Saka harus menempuh perjalanan lebih jauh ke Sibaru dari sini. Sedang apa dia sekarang? Sudah mulai kerja, kah? Katanya mau bekerja sebulan ini. Kenapa begitu ingin mengumpulkan uang? Apa tak ada orang yang dirindukannya di Winota? Atau dia mau mengunjungi Saskia juga? Dia tidak cerita, aku juga tidak bertanya. Kenapa juga aku ingin tahu. Ah, Saka, kenapa semua kembali tentangmu.

“Agnia...” Suara kakek mengagetkanku.

“Kek.” Aku menoleh padanya. Kakek ikut duduk di sampingku.

Lihat selengkapnya