Agnia POV
Sekitar pukul setengah dua siang aku berdiri di depan restoran tempat Saka bekerja. Ini kali pertama aku kesini. Apa Saka sedang bekerja hari ini? Aku tidak menghubunginya kalau mau datang. Kalau tidak ada ya sudah, aku memang mau makan siang. Kalau ada pun, mungkin dia sibuk sehingga tidak bisa menemaniku makan. Bagaimanapun dia bekerja disini.
Aku memilih meja luar, sudah ada menu di setiap meja, aku tinggal memilih lalu memanggil pelayannya. Aku ingin makan steak hari ini. Medium rare beef steak dengan lemon tea. Kutulis nomor mejaku sambil sesekali melirik ke arah pintu restoran, berharap melihat sekilas sosoknya. Aku memanggil pelayan yang paling dekat dengan meja. Seragamnya oke juga, pasti Saka juga menggunakannya saat kerja. Dimana ya dia...
“Agnia...” sebuah suara mengagetkanku, aku alihkan pandanganku dari halaman depan ke arah pemilik suara. Itu Saka. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang.
“Hai...” jawabku, berusaha tetap tenang.
“Kenapa tidak memberitahu kalau mau kesini?” tanyanya sambil meletakkan pesananku.
Aku menggeleng. “Aku tidak mau mengganggu Saka. Hanya mau makan siang. Kalau ketemu, ya syukurlah, kalau tidak, ya tidak apa-apa.”
“Kapan tiba di Sibaru?” Dia tetap berdiri di samping mejaku, matanya memperhatikan wajahku dengan lembut.
“Dua hari yang lalu. Aku tak ingin terlalu dekat dengan hari pertama masuk kuliah.”
Saka mengangguk-angguk lalu melihat jam tangannya. “Aku masih harus bekerja hingga jam 3, setelah itu aku bebas. Apa mau menunggu? Tapi kalau kamu mau pergi ke tempat lain atau pulang, tidak apa. Masih lama hingga jam 3.”
“Aku akan menunggu. Sudah bertemu Saka, berarti memang harus ketemu.” Aku tersenyum padanya. Kulihat matanya berbinar sebentar, dan aku merasa sedikit hangat di dalam dada. “Sana, kembali bekerja. Aku mau makan. Oh, kamu sudah makan?”
“Sudah tadi. Aku kembali ke belakang ya. Selamat makan.” Saka tersenyum padaku, aku membalas senyumnya sambil mengangguk lalu dia berlalu ke dalam.
Aku menghela napas panjang begitu dia menghilang dari pandangan. Kenapa aku merasa gugup sekali? Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dia. Tapi, rasanya berbeda... ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatiku.
Steaknya cukup enak, harganya juga tidak terlalu mahal dibanding restoran lainnya. Tak aneh kalau disini lebih ramai, apalagi waktu jam makan seperti saat ini. Aku memotong steakku pelan-pelan, mencoba menikmati setiap gigitan, tapi pikiranku terus berputar tentang Saka. Untung Saka tadi yang mengantar pesananku, kalau tidak, mungkin dia tidak melihatku diantara banyaknya orang yang datang.
= = = = = = = = = =
“Lama ya? Maaf ya menunggu selama ini,” kata Saka yang sudah selesai dengan shiftnya. Seragamnya tadi sudah berganti dengan kaos biasa.
“Terima kasih milkshake-nya,” jawabku. Saka tadi mengantarkan milkshake coklat yang tidak kupesan. Aku memegang gelas milkshake kosong. “Ayok, aku bawa motor.”
Setelah mengambil helm di kos, Saka mengajakku berputar-putar sebelum kami berhenti di sebuah taman kota. Aku menatap punggungnya yang tegap saat ia mengendarai motor, perasaan hangat dan gelisah bercampur di dalam dadaku. Selalu disini, di ruang terbuka, sederhana. Kami berjalan sambil membeli makanan yang dijual oleh pedagang kaki lima. Setelah itu kami duduk di kursi taman yang disediakan di setiap sudutnya.
“Pasti kakek nenekmu sedih ya kamu tinggal lagi ke kota?” tanya Saka setelah kami duduk.
“Tidak juga. Kakek sudah terbiasa dengan nenek saja, begitu juga sebaliknya. Sejak ayah remaja-pun, ayah sudah belajar di kota.”
“Kalau begitu mereka adalah orang yang beruntung, bisa menua bersama orang yang dicintai.” Aku mengangguk setuju.
Ada jeda yang panjang. Kami makan dalam diam. Suara pedagang dan anak-anak yang bermain di taman menjadi latar belakang yang samar, sementara aku tenggelam dalam pikiranku. Apakah ini saatnya aku menanyakan apa yang sebenarnya kurasakan? Apa yang dirasakannya padaku?
Kami lalu terdiam beberapa saat, sibuk menghabiskan makanan di tangan kami. Ada rasa kikuk yang tak bisa dihindari. Aku melihat ke arahnya, mencoba mencari tahu apa yang ia pikirkan. Tapi ia hanya menatap makanannya, tampak sama bingungnya denganku. Perkataan kakek terus menerus terbayang di otakku, apalagi hari masuk kuliah semakin dekat, aku tak ingin bertemu Saka di saat hatiku masih bimbang.