Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #32

Bisikan Tengah Malam

Saka POV

Masih ada satu hari sebelum kuliah dimulai. Aku ingin mengajak Agnia jalan-jalan. Semalam aku sampai lebih malam dari yang aku kira. Aku langsung mengabari Agnia setelah sampai di kos, karena dia memintanya. Setelah itu, kami masih berkirim pesan hingga kantuk menyerang. Lucu juga, hanya dengan berkirim pesan, bahkan yang sederhana sekalipun, mampu membuatku tersenyum, menghangatkan hatiku. Tak heran banyak orang menggunakan cinta sebagai inspirasi, karena apa yang bisa dihasilkannya memang luar biasa.

Kemana ya kami nanti? Apa Agnia tidak bosan melihatku? Setelah kuliah pun dia akan sering melihatku karena kami memiliki kelas yang sama dan kami duduk bersebelahan. Tapi orang lain juga begitu. Kubayangkan teman-temanku yang memiliki pacar sekelas. Mereka juga duduk bersebelahan. Semoga dia tidak bosan, karena aku ingin menghabiskan hari dengannya saat ini.

Selamat pagi... ada acara hari ini?

Aku tak ingin terlihat memaksa. Jika dia sudah memiliki acara maka ya sudah, tak apa.

Agnia membalas satu jam kemudian.

Selamat pagi, hehe. Aku tidak ada acara. Mau mengajakku ke mana?

Aku tersenyum membacanya.

Bagaimana kalau makan siang bersama? Lalu kita bisa pergi ke mana, terserah kamu. Aku juga tidak ada acara hingga pukul tiga.

Oke. Aku akan menjemputmu pukul... 11?

Aku melupakan sesuatu. Bukankah seharusnya aku yang menjemputnya?

Aku saja yang ke rumahmu.

Tidak usah. Rumahku jauh. Ada motor di sini juga. Aku akan menjemputmu jam 11, lalu kita pergi seperti biasa. Oke?

Kecuali tempat makannya ada di dekat rumah Agnia, aku tak akan bisa membuatnya setuju.

Bagaimana kalau makan di dekat-dekat rumahmu saja? Aku yang akan datang ke rumahmu.

Ya tidak apa. Tapi di sini tak sebanyak di sana pilihannya. Lagipula aku ingin nonton film. Lebih dekat dari kosmu kan, kita makan di dekat sana sekalian. Jam 11 aku datang, oke?

Aku tidak punya alasan logis kali ini. Agnia mau nonton.

Baiklah. Tapi lain kali aku yang akan ke rumahmu.

Aku tidak melarangnya kok. Oh ya, aku sarapan ini. Sesuai anjuranmu kan?

Aku tersenyum lagi.

Terima kasih ya sudah sarapan. Selamat makan. Nanti hati-hati bawa motornya.

Okay.

Aku masih melihat pesan dari Agnia meski tak ada lagi pesan yang aku kirimkan. Seantusias ini ya, jatuh cinta.

Jam 11 lebih 10 menit, Agnia sudah sampai di bawah. Dia menyeringai.

“Maaf ya telat. Agak macet tadi,” katanya.

“Gak papa, yang penting kamu sampai dengan selamat.”

“Ah, seperti aku baru bawa motor saja,” serunya sambil memberikan kunci motor padaku. “Padahal kalau dilihat-lihat, aku dan kamu, lebih lihai aku naik motornya.”

“Apa?” aku tak terima. “Dari mana bisa dibilang begitu?”

“Ya... dari pengamatanku. Saka lebih pelan.”

“Itu karena aku hati-hati,” sanggahku.

Lihat selengkapnya