Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #33

Rantai Tak Terlihat

Saka POV

Sudah hampir tiga minggu, kabar aku dan Agnia berpacaran sudah tersebar di kampus. Banyak yang memberi selamat pada kami. Ada yang sekadar menepuk bahuku, ada juga yang bersiul menggoda saat aku berjalan bersama Agnia. Rasanya aneh diberi selamat karena memiliki pacar. Tapi mungkin karena aku belum pernah berpacaran selama kuliah di sini, dan itu berarti tiga tahun lamanya. Apalagi beberapa teman mengetahui kalau Agnia adalah pacar pertamaku. Mereka antara memberi selamat namun juga sedikit ada olokan di dalamnya, meski aku tidak terlalu menanggapi, aku sering kali tersenyum canggung, tertawa kecil untuk menutupi kegugupanku. Rasanya lucu juga.

Saat kami ada kelas yang sama, seperti biasa Agnia akan duduk di sebelahku, dan aku selalu menunggu kedatangannya dengan antusias, meskipun aku tak pernah mengatakannya secara langsung. Jika tidak, kami akan makan siang bersama di kantin. Kadang dia membuatkanku makan siang yang dimasaknya sendiri. Ada rasa hangat yang mengalir setiap kali dia memberiku kotak makan siang dengan senyuman itu. Setelah masuk kuliah, aku hanya bekerja empat kali seminggu, satu shift sehari. Karena kami sudah bertemu di kampus, aku dan Agnia hanya keluar bersama di akhir minggu dan sesekali di weekdays. Bagaimanapun juga, ini adalah semester 7, semester akhir seharusnya. Aku sendiri sudah mempersiapkan Tugas Akhir sejak semester 5, seharusnya aku bisa lulus tahun ini. Sedangkan Agnia, dia bahkan sudah mempersiapkan risetnya sejak dia cuti kuliah. Dia selalu bercerita dengan semangat tentang ide-idenya, dan aku melihat kegigihan yang membuatku semakin kagum padanya. Sambil menunggu ibunya di rumah atau rumah sakit, dia mencari ide Tugas Akhir apa yang akan dia ambil. Aku harap kami sama-sama bisa lulus tahun ini. Kalau aku ingin mengambil kuliah profesi sebagai akuntan, Agnia ingin mengembangkan kembali kafe ayahnya. Katanya, dia menabung semua sisa uang yang dikirimkan oleh ayahnya. Selain itu, ayahnya juga memiliki tabungan yang cukup untuk dijadikan modal membuka kafe dengan skala yang lebih besar. Saat membicarakan masa depan, sesekali aku teringat Arjuna dan Saskia. Bayangan mereka sering kali muncul tanpa sengaja, membawa kenangan yang tak sepenuhnya hilang. Apa yang akan mereka lakukan jika mereka juga lulus seperti kami?

“Saskia belum membalas emailmu?” tanya Agnia tiba-tiba saat kami sedang makan siang. 

“Belum,” jawabku sambil menggeleng. “Kenapa?” 

“Tidak apa-apa.” 

Aku seperti mengerti apa yang dia pikirkan. Ada kilatan keraguan di matanya yang membuatku ingin segera meyakinkannya. “Jika Saskia membalas emailku, aku akan menceritakannya padamu.” 

“Apa kau masih merindukannya?” Suara Agnia terdengar pelan, nyaris tak terdengar. Pertanyaan ini memang tak sering dia lontarkan, tapi aku tahu Agnia masih belum sepenuhnya percaya padaku. 

“Tidak rindu seperti aku merindukanmu. Rasanya berbeda, dan aku ingin kamu tahu itu. Aku hanya masih ingin tahu kabarnya, hanya untuk membuatku tenang. Bagaimanapun juga dia temanku.” 

Dia mengangguk. Aku harap jawabanku cukup baik untuk menenangkan pikirannya. Tapi aku juga merasa ada sesuatu yang masih menggantung di antara kami, sesuatu yang belum sepenuhnya terpecahkan. Kuambil tangannya yang bebas lalu menggenggamnya. “Aku hanya ingin bersamamu mulai sekarang. Saskia adalah masa lalu.” 

Lihat selengkapnya