Saka POV
Setelah menerima email Saskia, semuanya tiba-tiba terasa tidak semestinya. Pikiranku terus berkecamuk antara rasa tanggung jawab terhadap janji lama dan cinta baru yang tengah tumbuh. Yang pertama aku pikirkan adalah aku harus memberi tahu Agnia. Dia berhak tahu dan aku sudah berjanji padanya akan memberitahunya jika Saskia mengirim email balasan. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak ingin membuat Agnia khawatir, tapi aku tahu ini tidak bisa dihindari. Yang kedua, aku ingin menemui Saskia, melihat bagaimana kondisinya dengan mataku sendiri. Yang kedua ini, pasti akan menyakiti Agnia. Aku tahu, Agnia tidak akan bisa menghindari rasa sakit itu. Meski aku mengatakan hanya kesana untuk tahu kondisinya, tapi pasti Agnia akan sedih. Aku tak ingin membuatnya sedih. Dia sendiri tak pernah membuatku sedih. Aku harus segera melakukan sesuatu, sebelum ini semakin berlarut-larut. Menyembunyikan lebih lama dari Agnia tak akan memberi perubahan pada situasi yang aku alami saat ini.
“Ini...” kataku sambil meletakkan baki berisi dua mangkuk soto.
“Yayy... aku lapar sekali hari ini,” sorak Agnia yang duduk di depanku. Ada binar di matanya yang selalu membuatku sedikit merasa lebih ringan, meski beban di dalam hati tetap ada.
“Apa tidak sarapan tadi?”
“Sarapan kok, lapar saja. Mungkin kebanyakan mikirin kamu,” candanya sambil mengedipkan mata. Aku tersenyum saja memikirkan apa yang ingin aku sampaikan padanya, dan bagaimana caranya. Gurauan cerianya kali ini justru terasa lebih berat untukku. Bagaimana aku bisa memberitahunya tentang Saskia sekarang?
“Oh kecapnya belum ada,” Agnia hendak bangun namun tanganku mencegahnya.
“Aku saja yang ambil,” aku berdiri lalu berjalan ke meja sebelah mengambil kecap. Langkahku terasa berat, dan pikiranku terus berpacu—mencari-cari kata yang tepat.
“Kamu agak aneh hari ini,” Agnia mulai menyuap sesendok sotonya.
Aku segera mengikuti, mencoba menyembunyikan kecemasanku. “Aneh bagaimana?”
“Ya aneh saja.”
“Aku biasa saja. Sudah dimakan dulu, katanya lapar, nanti keburu dingin.” Aku tentu tak akan mengatakannya di sini, saat dia makan. Mungkin setelah ini.
Namun hingga jam kuliah selesai aku belum menemukan waktu untuk berbicara padanya. Bukan hanya karena kampus yang selalu ramai, namun juga aku tak menemukan cara memulainya. Setiap kali kami bersama, aku selalu merasakan ada tembok tak terlihat yang menghalangi. Tembok yang kubangun sendiri. Hingga akhirnya kami hendak berpisah setelah Agnia mengantarku ke kos.
“Tunggu,” kataku. Suara itu keluar begitu saja. “Aku antar kamu pulang ya?” Ya, aku katakan saja di rumah Agnia. Sudah lama aku tak mengantarnya pulang juga.
“Apa tidak kerja?” tanyanya dengan nada heran. Aku menggeleng. “Tidak cape?”