Saka POV
Hari sudah siang saat aku turun dari kereta api di stasiun Palagan. Hawa siang yang terik langsung menyambutku begitu aku melangkah keluar dari gerbong. Seperti kebiasaan yang aku lakukan setahun yang lalu, aku makan siang dulu di stasiun. Tak lupa aku memberitahu Agnia kalau aku sudah sampai di Palagan. Pesan yang kukirim hanya berisi beberapa kata sederhana: 'Aku sudah sampai, akan mengabari lagi nanti.' Tidak ada tambahan lelucon seperti biasanya. Dia tak membalasnya, mungkin sedang melakukan sesuatu. Aku menghela napas pelan, memandangi pesan itu sejenak sebelum memasukkan lagi ponselku ke dalam saku kemeja. Aku masih ingat betul di mana rumah Saskia, meskipun rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ke sini. Sebelum ini, aku mencari tahu bagaimana cara sampai ke rumahnya tanpa menggunakan ojek online, hanya agar aku lebih bisa menikmati kota Palagan. Namun kali ini berbeda. Ada perasaan tergesa yang membuatku ingin menyelesaikan pertemuan ini secepat mungkin. Aku hanya ingin menemui Saskia, melihat keadaannya, menceritakan padanya mengenai Agnia, lalu pulang. Aku ingin semuanya selesai, agar pikiranku tak lagi terbebani oleh masa lalu. Aku tak sabar memberi tahu Agnia kalau aku sudah tiba di Sibaru, menunggunya menelepon seperti yang biasa kami lakukan tiap malam.
Perjalanan ke rumah Saskia terasa lebih cepat dari yang kubayangkan. Perasaan cemas membuat langkah kakiku ringan, namun juga berat di saat yang sama. Pukul 1 lebih aku sudah sampai di depan rumah Saskia. Rumahnya masih sama, tidak banyak berubah. Tapi entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang membuatnya terasa lebih sunyi, lebih kosong. Ibunya yang menyambutku kali ini. Aku mengingatnya, sepertinya beliau terlihat semakin tua hanya dalam satu tahun terakhir. Wajahnya yang dulu penuh ketegasan kini tampak lebih rapuh, lebih letih. Dulu ibu Saskia mampu menopang tubuh Saskia yang lemah karena pikirannya berkabut, kini sepertinya beliau juga membutuhkan topangan untuk berjalan. Wajahnya tampak kuyu, dan aku bisa merasakan penderitaan yang begitu mendalam. Alangkah hebatnya penderitaan memakan kesehatan seseorang. Seperti aku mengenalinya, ibu Saskia juga masih mengingatku.
“Nak Saka ya?” tanyanya.
“Betul, Bu. Maaf saya mengganggu siang-siang seperti ini. Boleh saya bertemu dengan Saskia?” tanyaku.
“Tentu, Nak. Silakan masuk.” Aku mengikutinya masuk.
Rumah Saskia sepertinya banyak yang berubah. Aku mengamati sekelilingku dengan hati-hati, mencoba mencari tahu apa yang terasa berbeda. Tidak ada renovasi sepertinya, tapi ada yang lain. Suasana rumah ini tak lagi hangat seperti yang dulu. Setelah menunggu selama 10 menit, aku baru menemukan apa perubahannya. Tak banyak hiasan-hiasan meja di sini, bahkan tak banyak foto-foto. Seingatku dulu banyak sekali, dari hiasan meja, piagam penghargaan, hingga foto-foto keluarga. Foto-foto yang dulu memberi kehidupan pada rumah ini sekarang lenyap. Sekarang hanya foto yang ada di dinding.
“Diminum, Nak,” ibu Saskia kembali sambil membawakan segelas minuman dingin. “Sebentar ya, Saskia lagi bersiap-siap. Dia gugup sekali bertemu dengan Nak Saka,” ibu Saskia tersenyum padaku.
“Iya Bu. Saya akan menunggu.”
“Ibu masuk lagi ya, mau bantu Saskia. Kebetulan ayahnya lagi keluar.” Aku mengangguk lagi, lalu ibu Saskia masuk kembali ke dalam.
Aku menyandarkan tubuhku ke sofa, mencoba menenangkan diri. Tetapi pikiran-pikiranku terus berlarian. Saskia... Apa aku benar-benar siap bertemu dengannya lagi? Kuminum minuman di meja. Perasaanku lebih tenang dibandingkan saat di stasiun tadi. Namun, kegelisahan kecil masih merayap di sudut hatiku. Agnia sedang apa ya? Aku ingin sekali berbicara dengannya, mendengar suaranya yang menenangkan, tapi ini bukan waktu yang tepat, apa tadi dia sudah membalas pesanku? Aku hendak mengambil ponsel di saku-ku saat suara Saskia terdengar.
“Saka...” aku menoleh ke arah suara.
Saskia berdiri di sana, ibunya di belakangnya. Mereka sama kurusnya, tapi Saskia tetap terlihat cantik. Senyumnya terlihat dipaksakan tak seperti ketika aku bertemu dengannya terakhir kali di rumah sakit, meski begitu dia tetap cantik. Namun, ada bayangan kesedihan yang sulit diabaikan di balik mata indahnya. Aku berdiri menyambutnya sambil tersenyum. Saskia duduk di sofa tunggal yang paling dekat denganku. Ibunya pamit ke belakang, memberi kami waktu untuk berbicara tanpa pendengar yang lain.
Kami duduk berhadapan, tapi rasanya seperti ada jarak yang jauh di antara kami—jarak yang tidak bisa dijembatani hanya dengan kata-kata.
“Bagaimana penampilanku? Aku gugup sekali mau bertemu Saka,” kata Saskia sambil merapikan rambutnya.
“Kamu tetap cantik seperti dulu,” jawabku, membuatnya tersenyum.
“Terima kasih mau datang kemari. Pasti melelahkan perjalanannya.”
“Tidak juga. Naik kereta selalu menyenangkan.” Kami terdiam sejenak. Suasananya tidak sama dengan di rumah sakit ketika Saskia melihatku sebagai Arjuna. Saat itu, ada ilusi yang melindungi kami. Sekarang, semuanya begitu nyata, terlalu nyata. Tapi aku ke sini tidak untuk menjadi Arjuna kembali. “Bagaimana keadaanmu?”
Saskia mengangguk-angguk. Matanya melamun sejenak, seperti mencari jawaban di dalam dirinya sendiri. “Aku telah memikirkan berhari-hari apa yang harus aku katakan kalau Saka bertanya seperti itu. Rasanya hingga saat ini aku tidak tahu apa jawabannya. Aku hanya berharap saat Saka datang, aku dalam keadaan yang baik.”
“Apa sekarang Saskia dalam keadaan yang baik?” tanyaku.
Dia mengangguk. Ragu-ragu, namun mengangguk. “Ya, jika tidak, aku pasti ada di kamar, hilang, atau menangis, bahkan ibu bilang aku pernah melempar barang-barang di kamarku. Aku tak ingat, tapi sepertinya memang benar karena kini tak ada lagi barang di luar almari. Mengerikan ya?” Dia tersenyum, memandangku sebentar lalu menunduk kembali.
“Pasti hanya sementara. Apa kata dokter?”
“Entahlah. Ayah yang selalu bicara dengan dokter. Aku ingat kami masih sering mengunjungi rumah sakit, mungkin seminggu sekali atau dua kali, aku tidak pandai mengingat waktu. Kadang kakak yang mengantarku. Tapi sekarang hanya ayah. Mungkin kakak sudah benci padaku. Aku hanya menjadi beban bagi mereka, membuat ayah dan ibu susah.”
“Jangan berpikir seperti itu. Mungkin kakakmu sibuk.”
“Tidak. Aku pernah mendengar kakak menyuruh ibu memindahkanku ke rumah sakit lagi. Tapi ibu menolak.” Dia menggigit bibirnya, ekspresinya terisi rasa bersalah yang begitu dalam. Saskia meremas-remas tangannya. Ingin sekali aku menggenggamnya. Namun, aku tahu aku tak bisa. Ada batas yang harus kutetapkan, meski hati ini terasa berat.
“Aku juga berpikir kalau ada baiknya aku tinggal di rumah sakit lagi seperti dulu. Tapi saat ayah membawaku ke sana untuk bertemu dokter, aku menjadi takut. Aku takut sekali kalau ayah akan meninggalkanku.” Suaranya bergetar di akhir kalimatnya, dan aku bisa merasakan ketakutannya menular padaku.
Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Di dalam hati, aku merasakan perasaan yang pernah ada saat dulu aku menjadi Arjuna—perasaan ingin melindunginya, membawanya keluar dari rasa sakit. Jika aku sebagai Arjuna saat ini, aku akan memeluknya, meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi aku Saka, apa yang bisa aku lakukan?