Saka POV
Waktu seperti berjalan sangat lambat di kampus. Tak banyak kelas yang tersisa di semester akhir ini. Aku masih memiliki waktu untuk kembali ke kos dan beristirahat sebelum memulai kerja sore hari ini, namun entah kenapa aku ingin menghabiskannya bersama Agnia. Sejak bertemu Saskia minggu lalu, ada dorongan yang lebih kuat untuk menghabiskan waktu dengan Agnia. Kami belum membicarakan soal Saskia. Agnia tidak bertanya, dan tiap kali aku ingin bercerita, dia seperti sengaja mengalihkannya. Meski begitu, sikapnya tidak berubah. Dia tetap Agnia yang hangat, selalu ada untukku, dan aku menyayanginya, rasaku padanya sangat jelas.
"Kamu yakin tidak mau pulang ke kos? Masih jam 11," tanyanya.
Aku menggeleng. "Kita jalan yuk nanti. Kamu selesai jam berapa?"
"Jam satu," jawab Agnia sambil merapikan bukunya ke dalam tas, lalu menatapku.
"Ya sudah, kita makan siang dulu di kantin sekarang." Dia mengangguk, lalu kami berjalan ke arah kantin.
Kami duduk berhadapan, memilih meja paling ujung sehingga tidak terlalu banyak orang berlalu lalang di dekat kami.
"Aku tidak suka kalau kamu tiba-tiba baik," katanya tiba-tiba setelah kami memesan makanan.
"Maksudmu? Apa aku tidak baik selama ini?"
"Bukan begitu. Biasanya, kalau nanti kamu akan bekerja, Saka akan pulang ke kos dulu untuk istirahat sebelum berangkat. Biasanya kita tidak jalan bareng kalau kamu ada jadwal kerja." Dia tidak melihatku, pandangannya terarah ke luar jendela.
Aku menghela napas. Aku bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Perkara Saskia semakin didiamkan justru semakin menggerogotinya. Aku membelai tangannya yang ada di atas meja, membuat wajahnya kini menghadapku.
"Kita harus bicara soal Saskia nanti ya. Aku tidak ingin kamu berpikir macam-macam."
Dia menghela napas. "Baiklah."