Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #37

Janji Pada Sebuah Lukisan

Saka POV

Aku baru saja keluar dari ruang dosen ketika waktu sudah lewat jam makan siang. Beberapa temanku masih setia menunggu berjajar di luar tanpa memedulikan perut mereka yang mungkin sudah keroncongan. Pak Ali bisa dikatakan sebagai dosen yang super sibuk; hari ini, beliau baru bisa memberikan jadwal bimbingan setelah hampir seminggu kami memohon. Sayangnya, belum sampai sepuluh langkah aku keluar, Pak Ali sudah mendahuluiku, disambut paras teman-temanku yang kecewa. Tanpa menoleh ke belakang, beliau pergi terhuyung.

"Ya... alamat seminggu lagi baru jatah kita, bro..." celetuk seseorang.

Untung aku datang lebih pagi dibanding mereka. Hanya ada tiga mahasiswa yang berhasil bertemu beliau hari ini. Semoga yang lain segera menyusul, dan semoga Agnia bernasib lebih baik dengan dosen pembimbingnya sore nanti.

Jika tidak berencana bertemu, meski ke kampus, belum tentu jadwalku dan Agnia berbarengan. Mendekati akhir semester, kami hanya ke kampus untuk bertemu dengan dosen pembimbing, ke perpustakaan, mengurus administrasi, dan menyelesaikan empat kelas terakhir. Saat akhir minggu, aku pun harus bekerja. Selain menyempatkan bertemu di kampus, menghabiskan berjam-jam di telepon adalah cara kami tetap berkomunikasi, bertukar cerita, atau hanya saling menemani.

Seperti hari ini, aku ke kampus pagi, sedangkan Agnia hanya ke kampus sore hari ketika aku bekerja. Kuambil ponselku untuk memberinya kabar.

Aku sudah bertemu Pak Ali. Ada beberapa yang harus diperbaiki, tapi selain itu, semuanya cukup baik. Kamu sudah siap untuk sore nanti?

Kumasukkan lagi ponselku sambil berjalan ke arah kantin. Sebaiknya aku makan dulu sebelum pulang. Balasan dari Agnia aku terima ketika aku menunggu pesananku diantarkan. Suasana kantin lebih sepi dari biasanya. Tak banyak mahasiswa yang mengantri, mungkin karena ini sudah hampir jam dua.

Syukurlah, aku ikut senang. Semoga lancar untuk bab berikutnya. Doakan aku juga nanti sore. Sepertinya aku harus berangkat sekarang. Kamu kerja kan nanti? Sudah makan siang?

Ini makan di kantin. Iya aku kerja, setelah makan langsung berangkat ke restoran. Kamu hati-hati bawa motornya. Semoga lancar ya, sayang.

Aku tersenyum memandangi ponselku, lalu memasukkannya kembali ke saku bersamaan dengan datangnya pesananku. Sepertinya belum lama aku memanggil Agnia dengan sebutan mesra, kadang aku masih belum percaya aku bisa melakukannya. Agnia yang pertama kali memberi contoh. Dia memanggilku dengan beberapa panggilan mesra, memberi nama-nama lain untukku, hingga akhirnya dia lebih memilih memanggilku dengan namaku saja karena dia menyukainya. Justru aku yang terlanjur terbiasa dengan sebutan ‘sayang’ untuknya dibandingkan dengan ‘Agnia’.

Pukul sepuluh lebih, aku baru sampai kos. Seperti biasa, aku segera meletakkan tas lalu mengisi daya ponselku. Setelah mandi, aku menyambar ponsel dan mencabut kabelnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Nomor baru yang tidak aku kenal. Lalu ada pesan dari Agnia. Aku membuka pesan dari pacarku. Isinya seperti biasa, menanyakan apakah aku sudah di rumah, dan beberapa pesan yang dikirim tadi sore. Sepertinya dia juga berhasil bertemu dengan dosen pembimbingnya. Semoga kami berdua bisa lulus bersama tahun ini. Aku segera menekan tombol panggilan. Pesan terakhirnya baru beberapa menit yang lalu, pasti dia belum tidur.

"Halo... bagaimana tadi?" tanyaku begitu nada sambung terdengar.

"Lebih lancar dari dugaanku. Tak banyak revisi. Pak Eko juga suka dengan analisa yang aku tuliskan. Aku tak sabar ingin segera wisuda," jawab Agnia, disusul tawa kecilnya.

"Aku juga. Kamu makan malam di mana?"

"Tadi aku makan nasi Padang. Mas Bas datang membawakanku nasi Padang. Dia tidak memberi kabar dulu, tiba-tiba datang." jawabnya. Rasa tidak nyaman muncul di dadaku mendengar nama Mas Bas.

"Dia masih sering ke rumahmu?"

"Tidak kok. Tadi katanya dia makan di sana, dia ingat aku karena itu restoran Padang favoritku, lalu dia membelikan satu bungkus untukku. Kamu tidak suka ya? Maaf ya. Dia tidak lama di rumah kok. Kami hanya saling bertanya kabar, lalu dia pulang setelah menyerahkan nasi Padang itu."

Aku percaya pada Agnia, tidak ada hal darinya yang menimbulkan keraguan di hatiku. Hanya saja, rasa tidak suka ini tetap saja muncul. "Tidak apa-apa. Kau sudah makan, itu yang penting. Besok mau ketemu? Atau kamu ada rencana keluar?" tanyaku. Besok aku tidak bekerja, dan aku tahu Agnia ada kelas di kampus.

"Tentu. Aku akan menjemput di kosmu setelah kelasku selesai. Kita ke rumahku saja ya, sudah lama aku tidak memasak untukmu. Hitung-hitung perayaan kita untuk hari ini."

Lihat selengkapnya