Saka POV
Aku membetulkan tali sepatu yang entah sejak kapan terlepas sambil duduk di beranda kelas, menunggu Agnia. Di sela kesibukan kami sebagai mahasiswa semester akhir dan pekerja paruh waktu, bisa menghabiskan waktu dengannya dua kali seminggu adalah hal yang sangat menyenangkan. Cuaca cukup cerah; matahari belum terlalu terik, dan aku bisa merasakan hembusan angin. Akan menyenangkan jika kami berjalan-jalan di taman kota atau area terbuka lainnya. Aku jadi berpikir, selama kami berpacaran, belum pernah aku mengajaknya ke suatu tempat yang spesial. Naik gunung? Tidak. Rasanya aku belum berani. Meski Agnia sering berkata kalau dia ingin naik gunung dan sudah sering melakukan aktivitas outdoor semacam itu, aku tidak berani. Jika sesuatu terjadi pada Agnia, seperti yang terjadi pada Arjuna, aku tidak akan selamat. Mungkin suatu saat nanti. Mungkin kali ini kami bisa pergi ke tempat wisata air terjun, candi, atau tempat lain—yang pasti outdoor. Satu dari beberapa hal yang kami miliki sebagai kesamaan adalah kami sama-sama menyukai alam.
Agnia datang lima menit kemudian dari arah lorong kedua, tempat kelasnya berlangsung tadi. Dia menggunakan celana panjang berwarna krem dan kemeja dengan warna senada. Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat dia tersenyum padaku, dan karena senyumnya itu, aku ikut tersenyum.
"Sudah lama?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Kusambut tangannya, lalu aku berdiri.
"Tidak juga. Yuk, aku sudah bawa helm. Kutitipkan di motor Dodit." Agnia mengangguk, lalu kami berjalan beriringan dengan satu tangannya di dalam genggamanku.
Aku tidak bekerja hari ini. Agnia mengajakku ke sebuah pasar rakyat, katanya sudah lama dia tidak mengunjungi pasar tradisional. Dan setelah kami sampai di sana, ternyata bukan pasar biasa. Pasar rakyat ini hanya dibuka selama dua minggu. Di sana ada banyak jajanan tradisional dari berbagai daerah. Selain itu, juga ada penjaja buku lawas yang langsung menjadi toko pertama yang kami kunjungi, beberapa stand baju anak, dan panggung hiburan. Sayangnya, panggung hiburan baru akan dimulai di malam hari.
Kami duduk di sebuah kursi taman yang disediakan di sekitar area pasar lawas. Agnia menimang buku lawas yang berhasil dia temukan tadi, membuka halaman-halamannya yang sudah menguning.
"Aku suka membeli buku lawas dibandingkan buku baru," katanya sambil membaca coretan yang dituliskan oleh pemilik sebelumnya di halaman pertama. "Selain lebih murah dengan isi yang sama, kita akan mendapatkan bonus."
"Bonus apa?" tanyaku.
"Ini," jawabnya sambil menunjukkan padaku halaman dengan coretan tadi. Di sana ada catatan kecil yang ditulis seseorang bernama Ridho.
Untuk Nia,
Selamat ulang tahun,
21 September 2019