Saka POV
"Saka..." suara Agnia mengagetkanku.
"Ah iya..." jawabku sambil mengubah posisi duduk.
"Kamu ngalamunin apa sih?" Agnia duduk di sebelahku.
"Aku gak ngalamun kok. Kamu kok baru datang?" Aku melihat jam tangan, biasanya Agnia tidak datang sesiang ini.
"Iya, tadi macet di jalan. Padahal aku langsung berangkat setelah kirim pesan ke kamu tadi pagi." Aku mengangguk.
Jika memungkinkan, aku ingin sekali menjemput Agnia lalu mengantarnya kembali ke rumah. Membiarkan dia mengendarai motor menempuh perjalanan yang cukup panjang setiap ke kampus menghasilkan rasa khawatir yang tidak bisa aku hilangkan, meskipun Agnia bukanlah pengendara motor yang sembrono. Namun, perasaan khawatir ini semakin dalam, mungkin karena rasa bersalah yang tak bisa hilang.
Selain merasa khawatir, akhir-akhir ini aku ingin sekali menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan Agnia. Jika aku tidak memiliki jadwal kerja, maka aku ingin menghabiskan waktu dengannya. Aku tak keberatan mengantarnya pulang lalu setelah menghabiskan hari menemaninya di rumah, aku pulang menggunakan bus. Sepertinya aku ingin menghindari berada di kosku. Entah kos yang aku hindari atau waktu tanpa Agnia yang tak ingin aku hadapi.
Tapi di balik itu, ada sesuatu yang terus-menerus menghantui pikiranku—Saskia.
Kebiasaan Saskia meneleponku setiap beberapa hari kini mulai menimbulkan dilema dalam diriku. Bukan karena dia menelepon, namun lebih pada kenapa aku tidak memberi tahu Agnia. Mungkin Agnia akan mengerti mengapa aku menerima telepon Saskia. Tapi setelah aku membiarkan hal ini selama beberapa hari, semakin lama semakin tak yakin. Setiap kali aku melihat Agnia, aku membayangkan apa yang sudah terjadi antara aku dan Saskia—meski sebenarnya tak terjadi apa-apa, tapi perasaan bersalah ini semakin berat. Setiap kali Saskia meneleponku, aku selalu teringat Agnia. Dua dunia yang berbeda ini seperti terus bertabrakan di dalam kepalaku.
"Mau aku antar pulang nanti?" tanyaku setelah kelas kami selesai. Teman-teman sudah mulai meninggalkan bangkunya.
"Jangan dong. Kan kamu kerja nanti sore." Agnia merapikan bawaannya ke dalam tas.
"Tapi kamu baru datang dua jam yang lalu. Apa gak capek naik motor pulang sekarang?"
"Tidak kok. Aku mau sekalian belanja dulu sebelum pulang."
"Oh..." Agnia memang memiliki kebiasaan berbelanja di toserba yang tak jauh dari rumahnya.
Aku mengantarnya sampai ke parkir motor. Panas matahari sudah mulai menyengat. Kukeluarkan motornya dari jajaran motor para mahasiswa yang berhimpitan. Saat melakukan itu, perasaan gelisah kembali muncul—kenapa aku tidak jujur padanya? Tapi mulutku tak pernah bisa mengeluarkan kebenaran soal Saskia.
"Sudah sana pulang istirahat," kata Agnia.
"Iya, kamu hati-hati ya."
Agnia mengangguk lalu menghidupkan motornya dan melaju meninggalkanku. Aku memandangi punggungnya yang menjauh, ada rasa hangat yang menyelimutiku, tapi juga ada rasa takut.
Aku sengaja tidak mau diantar ke kos siang ini. Aku ingin jalan kaki. Mungkin, aku butuh waktu untuk berpikir.
Setelah selesai bekerja, seperti biasa aku langsung mandi. Waktu malam juga adalah waktu yang aku tunggu karena aku akan menelepon Agnia. Biasanya, berbicara dengannya menenangkan semua kekacauan dalam kepalaku. Setelah mengeringkan rambutku dengan handuk, aku mencabut ponsel dari kabel pengisi daya. Aku membuka tab notifikasi. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Saskia. Lalu ada beberapa pesan dari Agnia, dan satu pesan dari Saskia dengan sebuah foto yang tidak terlihat jelas. Aku membukanya.
Sebuah foto pusara bertuliskan nama Arjuna dan tanggal kelahiran serta kematiannya.
Jantungku terasa berhenti sesaat. Hari ini adalah hari ulang tahun Arjuna, jika dia masih ada. Aku sama sekali tidak mengingatnya, tapi pasti lain dengan Saskia. Perasaan bersalah yang sudah lama tertahan dalam diriku muncul kembali, menyesakkan dada. Saskia datang ke pusara Arjuna tadi. Aku sendiri belum pernah kesana.
Tanpa sadar, jariku sudah menekan tombol dial di nomor Saskia. Mungkin karena dorongan emosional yang tiba-tiba muncul. Hanya beberapa detik, terdengar suara Saskia dari sana.
"Saka," seperti biasa, dia langsung memanggil namaku dengan nada yang begitu akrab.
"Saskia, bagaimana perasaanmu?" tanyaku. Suaraku serak, dan aku sendiri tak tahu apakah aku siap mendengar jawabannya.
"Entahlah. Percaya tidak, dari tadi aku mencoba untuk mengenali perasaanku sendiri. Tapi masih belum aku temukan."
"Begitu ya... Tapi, bagaimana dengan kondisi Saskia sekarang?"
"Tidak apa-apa. Tadi aku mengajak ayahku ke pusara Arjuna karena ini hari ulang tahunnya. Keluarganya juga baru saja kesana, aku melihat bunga-bunga segar di makamnya. Itu kali pertama aku ke makam Arjuna. Aku tidak bisa menganggap dia tidur di sana." Suara Saskia terdengar bergetar sedikit.
"Bagiku, Arjuna menghilang di gunung, atau di rumah sakit sejak aku mengingat kalau selama ini yang menjengukku adalah dirimu. Tapi Arjuna tidak pernah meninggal di sana. Sepertinya hasilnya sama saja, tapi otakku tidak mau menerima seperti itu."
Aku tak bisa berkata-kata, tenggorokanku tercekat.
"Sepertinya tidak apa-apa. Asalkan Saskia selalu bercerita padaku, pada dokter dan keluarga, sepertinya semua akan semakin baik-baik saja," kataku. Aku mendengar suaraku sendiri, namun tak yakin apakah benar. Ini lebih terdengar seperti penghiburan kosong, tanpa dasar.