Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #40

Janji yang Lain

Saka POV

Sudah dua hari Agnia tidak menjawab telepon ataupun pesanku. Pesannya yang terakhir adalah agar aku tidak ke rumahnya tanpa izin. Aku juga belum bertemu dengannya di kampus. Aku tidak bisa ke rumahnya minggu ini karena jadwalku bekerja. Jika Agnia tidak begitu menghindariku, kami akan bertemu siang ini di kampus. Ada jam kuliah yang kami ambil bersama. Aku berharap bisa melihatnya. Rasa bersalah, khawatir, dan rindu menggunung di dadaku. Tiga hari tidak mendengar kabarnya membuat kehidupanku terasa kacau. Belum pernah aku merasa seingin ini untuk mengetahui kabar seseorang, tidak juga pada Saskia.

Saat Saskia menelepon, kukatakan padanya kalau keadaanku sedang tidak enak. Aku bertengkar dengan Agnia. Meski begitu, aku tidak menceritakan sebabnya. Saskia tidak menelepon sesering atau selama biasanya. Aku pun tidak mencarinya, yang ada di pikiranku sekarang adalah Agnia dan bagaimana aku bisa menebus kesalahanku. Aku ingin bertemu dengannya.

Aku sampai di kelas satu jam lebih awal dibandingkan jam kuliah. Belum ada Agnia di kursinya. Jika dia tak datang lagi hari ini, aku sudah bertekad akan ke rumahnya. Sepuluh menit sebelum jam kuliah dimulai, Agnia melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia tidak menatapku, namun dia tetap duduk di sisiku seperti biasa. Melihatnya masuk ke kelas saja sudah langsung menentramkan hatiku.

“Masih marah?” Di antara banyak hal yang ingin kukatakan padanya saat ini, hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku. Ingin sekali aku memeluknya dan berkata betapa rindunya aku, tapi aku tahu Agnia, dia tidak akan mau disentuh jika hatinya masih marah padaku.

“Kita bicara nanti,” jawabnya tanpa melihatku. Tangannya sibuk mengeluarkan buku diktat. Aku mengangguk. Setidaknya kami akan bicara.

Jam kuliah kali ini terasa sangat panjang. Agnia tidak sekalipun melirik padaku, sementara aku sebentar-sebentar mencuri pandang padanya. Melirik, menaksir, menerka—apakah dia juga rindu padaku? Apa yang akan dikatakannya nanti, dan maukah dia memaafkanku? Mata kuliah Bu Dibyo yang biasanya menyenangkan, kini menjadi hambar.

Setelah memikirkan tempat mana yang paling nyaman untuk berbicara, akhirnya aku membonceng Agnia ke rumahnya. Setidaknya aku tidak akan khawatir karena dia sudah di rumah, apapun pembicaraan kami nanti. Tak seperti terakhir aku kesini, kali ini Agnia lebih lunak padaku. Aku sendiri seperti tamu yang baru pertama kali ke sini, tidak masuk jika tidak diminta, tidak duduk jika tidak disuruh. Agnia mengeluarkan minuman dingin dari dalam lemari es lalu meletakkannya di atas meja dekat denganku. Dia duduk di depanku, tidak pergi ke atas terlebih dahulu untuk membersihkan diri atau menaruh tasnya.

"Aku tidak bisa seperti ini," katanya tiba-tiba. Jantungku langsung tercekat.

"Seperti ini bagaimana?" tanyaku ingin kejelasan.

"Aku tidak bisa kalau Saka memiliki perasaan pada wanita lain." Tatapannya ke depan, tapi tidak menatapku. Aku sendiri melihat matanya.

"Aku tidak menyukai Saskia seperti aku menyukaimu. Aku hanya mencintaimu, Agnia, aku yakin itu." Aku menggenggam tangannya yang ada di atas meja. Dia tidak menariknya kali ini.

Agnia mengalihkan pandangannya padaku. Aku bisa melihat lapisan bening di matanya yang dia tahan di sana.

"Kalau begitu, berhenti berhubungan dengan Saskia."

Aku sudah memikirkan kalau mungkin hal inilah yang akan diminta oleh Agnia. Sebelum aku menjawab, Agnia berkata lagi dengan suaranya yang bergetar.

Lihat selengkapnya