Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #41

Dua hati yang Patah

Saka POV

Semakin dekat ke sidang akhir, semakin sibuk kami. Saskia tak pernah menelepon lagi, aku pun semakin jarang memikirkannya seiring dengan persiapan sidang akhirku. Agnia sama sibuknya, apalagi ayahnya akan pulang setelah Agnia sidang akhir. Ayahnya yakin Agnia bisa lulus dan dia ingin hadir di acara wisuda anaknya. Meski hingga kini dia tidak pernah menceritakan soal diriku pada ayahnya, namun Agnia sudah berencana untuk mengenalkan kami secara langsung nanti. Aku tidak keberatan.

Agnia mendapatkan jadwal sidang akhir terlebih dahulu. Aku menungguinya hingga selesai. Begitu juga saat aku sidang akhir dua hari kemudian. Agnia datang ke kampus untuk menemani dan memberi semangat. Kami berdua dinyatakan lulus tahun ini. Sebuah kabar yang menggembirakan untuk kami dan keluarga. Saat-saat di kampus tinggal menghitung minggu. Saat-saat kami menjadi mahasiswa sudah hampir berakhir.

"Kita pergi jalan-jalan yuk..." kataku saat kami duduk berdua di kedai es krim. Ada masing-masing satu mangkuk es krim di hadapan kami. 

"Ayok. Mau jalan ke mana?" tanya Agnia antusias. Bola matanya membesar seperti anak kecil yang dijanjikan gulali. 

"Aku sudah lama ingin ngajak kamu ke air terjun di Narama. Aku sudah cek, lokasinya gak terlalu jauh, alamnya indah," jawabku. 

"Oke. Kita berdua saja kan?" Agnia sedikit menggoda. 

"Tentu sayang, mau ajak siapa lagi?" Dia tersenyum.

Semenjak tak ada kabar dari Saskia, aku dan Agnia semakin dekat. Apalagi kami akan segera lulus. Meski tidak dibicarakan secara langsung, aku dan Agnia sama-sama merasa bahwa hubungan kami menjadi semakin serius. 

"Kapan perginya?" tanyanya lagi. 

"Kapan ayahmu datang?" aku ingin kami sudah pergi sebelum Om Rudi datang. 

"Mungkin seminggu lagi." Dia menghabiskan suapan es krimnya yang terakhir. 

"Oke," aku berpikir sejenak. "Bagaimana kalau Jumat besok? Kita sudah tidak ada jadwal kan? Aku tidak suka pergi akhir pekan, pasti ramai, lagipula aku harus kerja." 

Agnia mengangguk. "Iya, jangan weekend. Weekend aku ingin di rumah, membersihkan rumah. Ayah kan akan datang." Ada senyum lebar di bibirnya. Sepertinya hubungan Agnia dengan ayahnya semakin baik. Mungkin kerinduan justru mendekatkan mereka. 

"Baiklah. Kamis pagi, aku akan datang ke rumahmu, lalu kita berangkat dari sana." Dia mengangguk.

Aku dan Agnia sama-sama melihat keindahan air terjun Narama melalui gawai. Ada banyak foto-foto yang diunggah pengunjung yang langsung membuatnya tak sabar untuk segera ke sana. Hari Jumat masih 3 hari lagi. Aku memintanya menyiapkan fisik, karena untuk mencapai air terjun kita harus melalui jalan setapak yang naik turun.

---

"Dia tidak pernah meneleponmu lagi?" tanyanya tiba-tiba. 

"Siapa?" Baru beberapa detik setelah aku melihat wajahnya yang menjadi serius, aku tahu siapa maksudnya. 

"Saskia? Tidak," jawabku tegas. 

"Apa kamu menyesal? Khawatir tentang dia?" 

Aku melihat wajah Agnia sebentar sebelum menjawab. Ada raut takut di wajahnya. Aku tersenyum. 

"Aku khawatir, iya, tapi aku tidak menyesal. Andai aku melakukannya sejak lama, mungkin aku tidak akan menyakitimu dan Saskia." Mungkin Saskia bisa melihat dan melangkah menuju arahnya yang lain. 

"Terima kasih, Saka." Dia diam sejenak, menimbang sesuatu. "Mungkin sesekali kau bisa mencari tahu kabarnya." Agnia seperti tak yakin mengatakannya, namun ada ketulusan di sana. 

Aku tersenyum padanya, kuambil tangannya. 

"Mungkin suatu saat nanti, tidak sekarang, tidak dalam waktu dekat. Dan... aku akan melakukannya dengan kau di sampingku." 

Dia tersenyum kembali padaku, menyandarkan kepalanya sejenak sebelum menegakkan tubuhnya kembali.

Sebelum kami pulang, aku dan Agnia mempelajari rute menuju air terjun Narama. Kami juga melihat foto-foto yang sudah diunggah oleh para pengunjung sebelumnya. Memang indah. Aku dan Agnia tak sabar menunggu 3 hari lagi.

---

Jumat pagi pukul setengah tujuh aku sudah siap untuk menjemput Agnia. Aku akan naik bus dari sini, lalu kami akan naik motor Agnia ke Narama. Kuambil sepasang sepatu outdoor-ku, kumasukkan satu kakiku ketika nada telepon masuk di ponselku. Pasti Agnia yang sudah tak sabar, aku tersenyum membayangkan wajahnya. Aku segera mengambil ponsel dari saku. Nama Saskia yang muncul di layar. Aku tertegun sesaat. Ada apa? Tanganku bergetar. Kenapa di saat seperti ini? Tidak, Saka, kau sudah berjanji pada Agnia. Lagipula ini bukan saat yang tepat. Aku menekan tombol reject lalu nada masuk pun terhenti. Kulanjutkan memakai sepatu sambil mengusir pikiran khawatir yang melintas di kepalaku.

Lihat selengkapnya