Saka POV
Setelah mendapatkan kabar mengenai Saskia, aku memutuskan untuk kembali ke kos. Meski Agnia pulang pun, sepertinya aku tak bisa menemuinya tanpa memperlihatkan emosi yang aku sendiri tak mengerti saat ini. Aku tak ingin Agnia tahu mengenai apa yang terjadi dengan Saskia. Mungkin dia akan merasa bersalah, meski tak ada kesalahan pada diri Agnia sedikit pun. Ini sepenuhnya salahku.
Sesampainya di kos, aku langsung mandi. Aku butuh air segar untuk membilas tubuh dan emosiku. Selain itu, aku berharap waktu bisa lebih cepat berlalu. Aku berharap Agnia sudah mau menghubungiku, meski hanya untuk memberi tahu di mana dia saat ini dan apakah dia baik-baik saja. Setelah selesai mandi, akhirnya kudapatkan kabar itu dari pesan yang dia kirim.
Aku sudah di rumah. Aku ke Narama tadi. Aku butuh waktu, Saka.
Aku mengambil napas panjang. Dia ke Narama sendirian. Agnia, pacarku, ke air terjun Narama seorang diri. Mengendarai motornya, naik turun jurang sendirian. Seharusnya aku bersamanya, menjaganya, tertawa dengannya, menciptakan memori yang bisa kami kenang selamanya. Hatiku pilu. Rasa penyesalan dan bersalah tumpang tindih menjadi satu. Dengan tangan gemetar, aku membalas pesannya.
Aku minta maaf. Terima kasih sudah memberi kabar. Aku akan menunggumu.
Aku ingin menulis bahwa dia yang ada di hatiku. Bahwa Agnia masih menjadi pilihanku. Namun, jariku terhenti. Aku takut menyakitinya lagi dengan kata-kataku.
Tak ada balasan lagi. Sepertinya tak akan ada telepon hingga kami terlelap malam ini. Pikiranku masih berat, tapi setidaknya Agnia sudah di rumah. Lalu Saskia… bagaimana keadaannya sekarang? Aku belum membalas pesan ayah Saskia sejak menerima pesannya dua jam yang lalu.
Bagaimana kabar Saskia sekarang, Pak?
Tak ada balasan. Hari memang sudah malam, dan jika Saskia kritis, maka berarti mereka ada di rumah sakit. Kepalaku kini bukan hanya terasa berat, namun juga sakit. Aku belum makan malam, namun juga tak memiliki nafsu makan. Kulemparkan ponselku ke meja lalu merebahkan diri di tempat tidur. Bisakah aku tidur malam ini? Sepertinya tidak mungkin.
Dua jam berlalu tanpa kabar apa pun dari ayah Saskia. Mataku belum terpejam hingga jam di meja menunjukkan pukul 1 dini hari. Kepalaku semakin tak karuan, begitu juga perutku. Aku menyisir kamar kos, mengingat-ingat apakah ada makanan tersisa. Aku tak suka menyimpan makanan di kamar, apalagi aku selalu makan teratur sehingga jarang ngemil setelahnya. Tapi kini, aku berharap ada sisa snack yang bisa kutemukan. Lalu aku teringat tas ransel yang kubawa sejak pagi tadi. Di dalamnya ada roti dan air mineral yang seharusnya menjadi bekalku dan Agnia ke Narama.
Aku bangkit, mengambil tas ransel, dan mengaduk isinya. Kutemukan roti sisir mentega kesukaan Agnia. Kubuka bungkusnya lalu kumakan dengan kasar. Aku membayangkan Agnia. Apa yang dia lakukan sendirian di air terjun Narama? Perutku kini sudah tak keroncongan, tapi kepalaku tetap berat dan sakit.
Sekitar pukul 4 pagi, di tengah tidur yang jauh dari lelap, suara notifikasi ponsel mengejutkanku. Aku segera meraih ponsel di samping bantal, berharap pesan dari Agnia, tapi ternyata pesan dari ayah Saskia.
Saskia sudah melewati masa kritisnya tapi masih belum sadar. Dia menyebut namamu di tengah tidurnya. Bisakah kau datang, Nak? Maaf, kami membaca surat Saskia untukmu.
Aku terpaku. Kalimat-kalimat itu terasa berat, menghantam dadaku. Sudah dua kali ayah Saskia memintaku untuk datang, dan aku menyadari bahwa semua ini... sebagian besar karena aku. Tanganku gemetar, kepalaku penuh pertanyaan dan rasa bersalah yang tak kunjung hilang.
Tanpa berpikir panjang, aku memesan tiket ke Palagan pagi ini lalu memberi kabar pada temanku bahwa aku tidak bisa bekerja karena sakit. Kereta yang sama akan membawaku ke Palagan, seperti bulan-bulan lalu ketika aku masih rutin mengunjungi Saskia.
= = = = = = = =
Udara siang yang panas menyambutku saat melangkah masuk ke rumah sakit, mencari ruang rawat Saskia. Aku sudah puluhan kali mengunjunginya di tempat seperti ini, tapi hari ini terasa berbeda. Dadaku dipenuhi rasa takut yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Rumah sakit yang asing, kasus yang jauh lebih mengerikan, tapi jiwa yang terluka tetap sama. Saskia, gadis yang dulu aku janjikan untuk kujaga.
Ingatan tentang Arjuna terlintas di benakku. Wajahnya ketika berkata, "Tolong jaga Saskia kalau aku tak ada." Aku menutup mataku sejenak, menahan rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam. Tak kusangka, janji yang pernah kuucapkan dengan mudah kini terasa seperti beban yang hampir mustahil kupikul.
Kenanga 201. Tak ada papan nama pasien di depan pintu kamar. Kuberanikan diri mengetuk dan menunggu hingga pintu dibuka dari dalam. Ibu Saskia yang membuka. Wajahnya tampak murung dengan gurat kelelahan di area matanya.
“Bagaimana Saskia, Bu?” sudah tak ada basa-basi lagi. Semua di sini berkumpul untuk Saskia.
“Masuk, Nak,” jawab Ibu Saskia sambil memberi ruang untuk aku masuk ke dalam.
Di dalam, ada kakak perempuan Saskia yang segera berdiri setelah melihatku. Dia tersenyum sayu. Aku membalas senyumnya sambil mengangguk. Di tengah ruangan, Saskia tampak lelap tertidur. Di lengannya terpasang selang infus dan selang transfusi darah. Aku ingat ayah Saskia berkata Kia memotong nadinya. Pandanganku berpindah ke lengan kirinya yang diperban.
“Dia sudah sadar, tapi saat ini tertidur karena pengaruh obat,” kata kakak Saskia—aku tidak ingat namanya. Aku hanya mengangguk.
Aku duduk di satu kursi yang paling dekat dengan tempat tidur Saskia, tak mau mengganggunya. Kami terdiam dalam keheningan hingga pintu kamar dibuka dari luar. Ayah Saskia masuk lalu sedikit terkejut melihatku.
“Nak Saka...” sapanya.