Menghapus Bayangmu

Alexa Rd
Chapter #43

Langkah Terakhir

Author POV

 

Langit biru cerah dengan angin yang semilir di ibu kota Kotabaru sore ini membuat banyak orang memilih berjalan-jalan di sekitar taman kota. Sebuah taman yang cukup besar dengan sungai buatan di tepinya menyuguhkan suasana alami di tengah hiruk pikuk ibu kota yang selalu ramai. Jalur setapak yang lebar memungkinkan pengunjungnya bermain sepeda, sepatu roda, atau berjalan kaki di bawah pepohonan yang rindang. Di antara para pengunjung yang ingin menikmati taman sore itu, terlihat sepasang pria dan wanita berjalan beriringan sambil mengamit lengan satu sama lain. Mereka terlihat mesra dengan sepasang cincin yang melingkar di jari manis.

 

"Tali sepatumu lepas," kata sang pria pada istrinya. Tak menunggu lama, dia lalu membungkukkan badannya untuk membetulkan ikatan tali sepatu tanpa hak milik istrinya. Kepalanya mendongak. "Sudah nyaman?" tanyanya. 

"Iya, terima kasih," kata sang istri. 

Si pria tersenyum lalu berdiri kembali, memberikan lengannya untuk digamit sang istri. Mereka berjalan sambil sesekali terlihat bercakap-cakap dan saling tertawa ringan. Sepasang suami istri yang terlihat bahagia dan saling mencintai satu sama lain. 

 

Perjalanan mereka berhenti di depan sebuah kafe besar dengan dinding kaca. Sang istri terlihat menunjuk ke dalam, mengajak suaminya masuk untuk beristirahat. Si suami pun membuka pintu besar yang juga terbuat dari kaca. Bau aroma kopi langsung menyambut mereka di dalam. Mereka memilih duduk di meja dengan pemandangan jalan setapak yang baru saja mereka tinggalkan. 

 

Sang istri menekuni buku menu yang sudah dipersiapkan di meja, sementara sang suami sibuk melihat-lihat bagian dalam kafe. Dia tak ingat ada kafe ini sebelumnya. Sepertinya baru, namun bisa jadi dia salah karena sudah lama tak berjalan-jalan di sekitar sini. Pikirannya masih mengagumi tata ruang kafe bergaya klasik ini hingga tatapan matanya bertemu dengan seseorang. Perempuan itu sebaya dengan mereka. Ketika tatapan keduanya bertemu, tubuh keduanya seperti mematung. Perempuan berambut panjang setengah bahu dengan setelan blazer dan celana panjang mematung di depan mini bar kafe, melihat pria yang baru saja duduk tadi. 

 

"Saka mau pesan kopi?" tanya si wanita yang masih menekuni buku menu. Tahu pertanyaannya seperti tak didengarkan, dia mengangkat wajahnya. Dia melihat suaminya terpaku ke arah samping, wajahnya mengikuti arah pandangan suaminya itu. 

 

Merasa ada sepasang mata lain yang juga melihat ke arahnya, wanita dengan setelan blazer tersadar lalu membalikkan badannya menuju meja yang lebih tersembunyi di bagian dalam kafe. Dari tempat dia duduk, dia masih bisa melihat pasangan suami istri tadi, begitu juga sebaliknya, namun dia memilih sibuk dengan laptopnya yang sedari tadi sudah di sana. 

 

Merasa ditinggalkan, Saka mengembalikan pandangannya pada wanita di hadapannya, istrinya. 

"Apa dia Agnia?" tanya Saskia. 

Saka tahu percuma mengatakan sebaliknya. Mata dan tubuhnya tak bisa berbohong. Yang dilihatnya tadi adalah perempuan yang selama ini tak pernah bisa dia lupakan. Perempuan yang dia tinggalkan sedemikian rupa setelah membuat dirinya merasa utuh sebagai seseorang yang mencintai. Saka menganggukkan kepalanya. 

"Saskia mau pesan apa?" tanyanya, mengganti topik pembicaraan. 

 

Kini Saskia yang terdiam. Pandangannya melihat ke arah Agnia sekilas. Dia hanya bisa melihat dari samping, tapi jelas Agnia tidak sedang menunggu seseorang. Dia terlihat tetap sibuk dengan laptop dan kertas-kertas di mejanya. 

"Saka tidak mau berbicara dengannya? Kalian sudah lama tidak bertemu, kan?" tanyanya. 

Saka tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kami. Ayo pesan kopi saja lalu kita lanjutkan jalan-jalan." Dengan isyarat tangannya, Saka memanggil pelayan sambil mencoba meredam apa yang bergejolak di hatinya. 

 

Sementara itu, Agnia tidak berkonsentrasi menatap layar laptopnya. Tulisan laporan keuangan kafe barunya terlihat kabur. Dadanya masih mengingat rasa sakit yang ditimbulkan oleh dua orang yang baru saja masuk ke dalam kafe miliknya. Dia tak ingin lagi terus ada di sana. Ditutupnya layar laptop dan ditatanya kertas-kertas di meja. Biar nanti dirapikan pegawainya. Dia hanya ingin segera keluar dari sini. 

 

Agnia bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah luar. Sayang sekali pintu utama kafe ada di belakang meja Saka dan Saskia sehingga mau tak mau Agnia harus melihat mereka sekali lagi. 

"Bu Agnia!" panggil salah seorang pegawainya. 

Agnia berhenti tepat di tempat saat ia terpaku melihat Saka tadi. "Ada apa?" tanyanya pada laki-laki yang memanggilnya tadi. 

"Ada telepon di dalam dari Pak Yudha, PT Yobuta," kata pegawai tadi. 

Lihat selengkapnya