"Hari pertama masuk kuliah udah sial. Apes, apes." Yara mengeluarkan sumpah serapah sendirian.
Yara melangkah secepat mungkin menuju markas BEM. Hari pertama kuliah seharusnya menjadi hari yang menyenangkan, malah jadi hari yang sial. Dia tidak bisa membayangkan hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Dia sadar dirinya sangat ceroboh kalau sudah urusan menyetir mobil. Belum lagi memikirkan ongkos kerusakan motornya, Alex.
Kesialan terjadi akibat kebodohannya sendiri. Yara begadang sampai jam dua malam karena keasyikan menonton Netflix dan lupa pasang alarm ponsel. Padahal dia sudah menyiapkan semua pakaian, alat-alat tulis dan perlengkapan kuliah sejak minggu lalu. Kalau bukan ibu yang mengendor kamarnya, Yara bisa kebablasan tidur sampai siang. Dia yang biasanya patuh dengan lalu lintas, pagi ini menerobos dua kali lampu merah agar sampai di kampus dengan cepat. Sialnya, begitu di tempat parkir malah mobilnya ringsek.
"Selamat pagi, Yara," sambut Lucas di markas BEM.
"Hai Lucas. Aduh, maaf ,ya, aku terlambat. Ospeknya sudah mulai?" tanya Yara.
"Sepuluh menit lagi. Semua mahasiswa baru sudah berkumpul di lapangan. Are you okay? Kamu seperti habis dari medan perang, " tanya Lucas sedikit khawatir.
Yara tersipu. Dia menatap bayangan tubuhnya di jendela. Rambutnya yang ditata dengan model cepol itu berantakan. Tas selempangnya terbuka dan terlihat isinya berantakan keluar. Dia lupa memoleskan lipstik yang biasanya dilakukan sebelum turun dari mobil. Padahal dihadapannya ada gebetannya.
"Aku tadi ada kecelakaan kecil di tempat parkiran."
"Astaga. kecelakaan apa?" tanya Lucas.
"Hanya rebutan tempat parkir. Don't worry masalahnya sudah beres," ucap Yara. Dia tidak menyebutkan kalau mobilnya rusak.
"Yeah, masalah parkir di kampus kita memang menyebalkan. Aturannya tidak boleh ada yang reservasi tempat parkir tapi Pak Jaja suka pilih kasih. Aku tahu ada beberapa mahasiswa yang sering diberikan tempat khusus sama dia, ucap Lucas, sebal.
Dan salah satu nya adalah Alex, Yara mengomel dalam hati.
"Ospek hari ini sangat padat dan semuanya di luar ruangan. Kamu sudah sarapan? Ini aku belikan kopi dan roti," kata Lucas seraya menyerahkan cup kopi dan roti hangat di meja.
Yara kembali tersipu. Ucapan itu seolah menghapus kekesalannya. Lucas memang selalu penuh perhatian. Itu pula yang membuatnya jatuh cinta. Sudah lama dia memendam rasa cinta tapi tidak berani mengungkapkannya.
Lucas termasuk tipe mahasiswa serius. Jurusannya pun berbeda dengan dia sehingga sulit bertemu. Salah satu alasan Inez bergabung di organisasi kampus adalah untuk bisa mendekatkan diri dengan Lucas.
Lucas Mikhael Tanusudibyo, mahasiswa tingkat tiga jurusan Hubungan Internasional. Terkenal sebagai mahasiswa cerdas dengan nilai IPK 3,8 yang nyaris sempurna. Kulitnya bersih, wajahnya mulus dengan sedikit sisa-sisa shaving. Rambutnya hitam legam di belah samping. Selain menggunakan jam tangan Omega, di pergelangan tangan yang lain dia menggunakan gelang-gelang kulit dan gelang prusik paracord ala anak pendaki gunung. Tampilannya rapi dengan jins hitam, kemeja Lacoste dan sneaker.
Tahun ini Lucas berperan sebagai ketua tim pelaksana ospek mahasiswa baru selama dua minggu. Tugas diterima Lucas dengan senang hati. Dia mengajak Yara menjadi bagian dari panitia. Ini bisa jadi kesempatan bagi mereka agar dikenal oleh semua mahasiswa baru. Mereka akan mendaftarkan diri menjadi calon wakil dan ketua BEM pada pemilihan BEM tahun ini.
"Guys, sudah waktunya. Kita harus berkumpul di lapangan," panggil Dimas yang menjabat sebagai seksi acara, dia berdiri di depan pintu.
Mereka berjalan melintasi gazebo dan tiba di lapangan. Semua mahasiswa baru sudah berkumpul di situ. Semua mahasiswa baru wajib ikut masa orientasi atau ospek selama dua minggu. Tampilan mereka mudah dikenali karena menggenakan kemeja putih lengan panjang dan rok hitam bagi mahasiswi dan celana hitam bagi mahasiswa dan sepatu keds warna hitam. Ada karton besar tergantung di leher mereka lengkap dengan nama dan jurusan.