Menghitung Hari, Menghitung Cinta

Perle Gauthier
Chapter #3

Pertemuan Kedua

Alex memanjangkan lehernya ketika mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. 

"Ma, aku mau latihan sampai malam ya," teriak Max, berpamitan pada ibunya. 

"Hati-hati sayang. Jangan sampai kecapean," ucap Marie yang segera ikut keluar menemani anaknya. 

Begitu melihat Marie, Harry segera menurunkan kaca jendelanya. 

"Apa kabar tante, sehat?" tanya Harry. 

Harry berteman dengan Max sejak masih SD. Ayahnya dan ayahnya Max merupakan rekan bisnis. Sejak kecil Harry  sering bermain dan menginap di rumah Max.  Ayah Harry dan Papanya Max merintis bisnis yang sama di bidang property. Namun ayahnya Max jauh lebih sukses karena mampu menembus bisnis sama ke Dubai.  Dari sampai SMP selalu di sekolah yang sama. Ketika SMA Max sempat pindah ke luar negeri dan kembali kuliah di Jakarta.  Harry  juga dekat dengan Marie. Perempuan itu ingat kapan ulang tahun Harry. Ketika dia baru jadi mahasiswa di Sarasvati Utama, Harry dapat hadiah jam tangan mewah. Saat sedang keluar negeri, barang yang dia belikan untuk Max, dibelikan juga untuk Harry. 

Marie tersenyum lebar. 

"Sehat. Kamu jarang main lagi ke rumah. Terima kasih sudah menjemput Alex. Kalian latihan sampai jam berapa?" tanya Marie, sedikit cemas.  

Alex memutar bola mata. Ibunya selalu tidak percya akan ucapannya. 

"Kemungkinan sampai malam. Tenang saja, kami banyak break," jawab Harry.  

Marie menggangguk,lega. Sebenarnya dia mengkhawatirkan Max yang akhir-akhir ini sering terlihat pucat dan mudah lelah tetapi dia sadar sepakbola adalah satu-satunya sumber kebahagiaan anaknya. 

"Kami berangkat sekarang. Bye," ucap Max seraya mencium pipi ibunya. 

Marie melambaikan tangan sampai mobil yang dikendarai Harry keluar dari halaman rumah. 

"Tumben-tumbenan lo minta aku jemput. Jantung lo enggak kumat,kan?" tanya Harry . 

"Lo seperti ibuku saja cerewetnya." ucap Alex, sebal. 

"Gue cuma khawatir. Apa itu salah?" 

Sejak kecil Alex menderita kelainan jantung bawaan. Dia sempat dirawat lama di rumah sakit. Ibunya memperlakukan dirinya seperti vas kristal yang gampang pecah. Dia benci perlakuan itu.  Tidak ada teman di kampus yang mengetahui rahasianya selain Harry dan Raymond. Alex benci tatapan iba dari orang-orang tatkala mengetahui penyakit yang dideritanya. 

"McQueen lagi masuk bengkel gara-gara tabrakan. Gue enggak bilang mama, nanti dia semakin panik," ucap Alex. 

Alex menceritakan kesialannya menabrak mobil Yara di tempat parkir. Meskipun dia belum mendapat ganti rugi dari gadis itu tapi Alex sudah memasukkan motornya ke bengkel. Dia punya dana yang cukup untuk itu.

"Anak jurusan mana? Cantik enggak?" tanya Harry, penuh minat.  

Alex memberikan pelototan. Dia hafal dengan kelakuan playboy Harry yang selalu mengincar mahasiswa perempuan. 

"Lo lebih peduli sama perempuan yang menabrak itu  dari pada temanmu sendiri?" 

"Lo enggak suka, kan, kalau gue mengkhawatirkan kesehatanmu," tukas Harry, jahil.  

"Sialan." 

"Jadi siapa yang menabrak lo?" 

"Aku lupa namanya. Rambutnya panjang berantakan.  Galak dan pemarah. Kalau Pak Jaja tidak ada di situ, sudah kutonjok mulutnya.  Entah jurusan mana dan angkatan berapa," ucap Alex seraya mengangkat bahu tidak peduli. 

"Payah, lo." ucap Harry, kecewa.


***

Suasana lapangan sepak bola Sarasvati Utama sudah ramai. Begitu Alex dan Harry berjalan menuju bangku pemain, sorak sorak penonton terdengar di pinggir lapangan.  Seluruh tim sepak bola di kampus ini jadi idola tetapi yang paling jadi favorit adalah Alex, sang striker handal. Acara latihan sore tim sepak bola menjadi  aktivitas  paling ditunggu-tunggu. 

Alex berjalan menuju ke bangku pemain dengan cuek. Sementara Harry sempat melayani permintaan  foto bersama  para fansnya dengan manis. Dia menikmati setiap ada mahasiswi yang mengenali dan memanggil-manggil namanya. 

"Alexy my love." Terdengar suara genit dari pinggir lapangan.  

Alex memutar bola mata. Dia hafal siapa pemilik suara tersebut; Thalita. Alex tetap berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun. 

Thalita  berlari-lari kecil mengejar Alex.

"Babe, kamu sibuk banget. Ke mana saja. Aku kangen,"  kata Thalita seraya mengamit tangan Alex dengan manja.

Alex menepis lengannya dengan satu hentakan kasar  dan memberikan pelototan. 

"Buat apa kamu datang ke sini?" tanya Alex, galak. 

Lihat selengkapnya