Menghitung Hari, Menghitung Cinta

Perle Gauthier
Chapter #4

Pertandingan Persahabatan

Pertandingan persahabatan antara kampus Sarasvati Utama dengan UI berlangsung pada hari Minggu. Pemilihan hari disesuaikan agar tidak bertabrakan dengan jadwal perkuliahan. Lokasinya di kampus Sarasvati Utama.Meskipun pertandingan baru dimulai pukul sepuluh tetapi semua anggota UKM sepakbola sudah datang sejak pukul delapan. Raymond meminta Yara untuk memotret satu per satu tim sepak bola.  Dia datang ke markas sepak bola dua jam sebelum pertandingan .

"Hai Yara, ayo masuk. Anak-anak sudah ada di dalam," sambut Raymond. 

Raymond memperkenalkan Yara dengan tim sepak bola yang sudah datang yaitu Harry, Yudi, Nanda dan Ganda. Lalu, ada juga sepuluh mahasiswa baru. 

"Kalian mau berfoto di mana? Aku mau atur posisi kamera dan tripod," tanya Yara seraya menatap sekeliling markas yang penuh sesak dengan barang. Dia membutuhkan tempat dengan background polos. 

"Bebas saja, kamu yang menentukan," kata Raymond.

Yara akhirnya memilih tempat di satu sudut yang dindingnya terbilang polos. Raymond mengabsen teman-temanya untuk berfoto. Satu anak mendapat jatah berfoto sekitar lima menit namun banyak yang molor.

Yara tertawa geli melihat mereka yang bergaya bak atlet profesional. Sebagian besar fasih bergaya tanpa perlu diarahkan. Ada pula yang meminta bergaya dengan jersey yang berbeda untuk disimpan sebagai dokumentasi pribadi. yara melayani dengan senang hati. Mengetahui orang yang dipotret senang dengan hasil fotonya merupakan kepuasan tersendiri. 

"Semua anggota sudah kebagian jatah foto?" tanya Yara setelah Harry menjadi orang terakhir yang difoto. 

Raymond mengecek daftar nama timnya. "Tinggal satu lagi, Alex. Dia belum datang." 

Yara bisa menduga, dari perilakunya yang urakan itu, pasti Alex datang belakangan. 

"Kamu tunggu saja. Beberapa menit sebelum pertandingan bisa kamu foto. Secukupnya saja. Alex tidak suka difoto," kata Raymond. 

Yara mengangguk. Tanpa perlu Raymond meminta, dia juga malas untuk memotret Alex terlalu banyak. 

Seluruh tim sepakbola dan Yara bergerak ke lapangan. Alex belum juga datang. Pria itu baru muncul beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Raymond segera menggeret Alex ke ke pinggir lapangan. Semua pemain dan tim lawan sudah berkumpul di lapangan. 

"Jangan protes! Kita butuh foto setiap pemain. Ini buat proposal pengajuan dana ke dekan untuk kompetisi nasional," kata Raymond, sedikit mengancam. 

"Oke, oke," ucap Alex.

Alex hanya ngedumel dalam hati tapi berani menolak. Dia mendengar dari Harry semua anggota sudah difoto kecuali dirinya. Ada rasa penasaran juga, seperti apa Yara akan memotret dirinya. 

"Mau berfoto di mana?" tanya Alex.  

"Dekat tembok," jawab Yara seraya menunjuk pos kecil di dekat lapangan. Temboknya berwarna putih cocok menjadi backgroud foto. 

Alex bediri dekat tembok menunggu aba-aba dari Yara.

"Kamu mau aku bergaya seperti apa?" tanya Alex.

"Terserah, saja. Bebas," jawab Yara.

Yara malas mengarahkan gaya. Sedari tadi semua pemain sepak bola fasih bergaya tanpa perlu diarahkan. Zaman sekarang di mana orang sering berswafoto, orang sudah natural saja bergaya. 

 "Fotografer macam apa kamu, enggak bisa mengarahkan gaya," cela Alex.

 "Tangan bisa di pinggang, melipat tangan di depan dada atau tersenyum." Yara memberi pengarahan. 

 "Aku tidak suka tersenyum," tukas Alex,ketus.

 "Aku hanya memberi usul. Terserah kamu, mau seperti apa," balas Yara. Hari masih pagi dia tidak mood untuk berdebat.

Alex meletakkan kedua tangan di pinggang tanpa senyum dan mata yang menatap galak. Yara menjepret Alex dalam pose itu sebanyak lima kali. Lalu, dia meminta Alex berpose dengan gaya lain. Alex melipat kedua tangan di depan dada, masih tanpa senyum. 

"Selesai. Terima kasih," ucap Yara.

Lihat selengkapnya