Alex menatap IPK 2,1 yang terpampang di iPadnya dengan nanar. Biasanya dia tidak peduli dengan IPK yang dimilikinya tetapi sekarang kondisinya berbeda. IPK itu penting agar dia bisa ikut dalam kompetisi nasional tahun depan.
"Gue sarankan semester ini lo harus benar-benar serius kuliah kalau mau ikut turnamen nasional. Pendaftaran masih akhir semester," nasehat Harry.
"Okay, okay. Ini gue mau daftar mata kuliah," ucap Alex seraya menunjukkan iPadnya.
Sistem pendaftaran perkuliahan di Sarasvati Utama dirancang secara online. Setiap mahasiswa cukup memasukkan nama dan nomor induk mahasiwa pada kolom yang tersedia. Selama kuota tersedia dan mata kuliah prasyarat terpenuhi mereka bisa mengambil mata kuliah yang ada.
Alex mengecek daftar perkuliahan semester ini yang harus diambil. Kepalanya langsung pening. Tidak ada satu mata kuliah pun yang menarik perhatiannya.
"Sialan banyak yang sudah penuh. Jadi gue harus mengambil kuliah apa?"
"Sudah gue bilang, Lo itu terlambat. Sudah lah lo pilih saja yang masih tersisa dan dosennya murah angka," kata Harry.
"Enaknya yang mana ?" tanya Alex sembari menggaruk-garuk kepala.
Harry melotot sebal. Dia merebut iPad dari tangan Alex dan membantu memilihkan yang dia rasa sesuai. Dari kursi yang masih tersedia, terpilih empat mata kuliah; Tehnik Kehumasan , komunikasi pemasaran, Marketing public relation dan fotografi jurnalistik.
"Kenapa gue enggak bisa mendaftar Tehnik Kehumasan ya? Ini kuotanya masih ada." Alex kebingungan.
Harry mengecek mata kuliah yang dipilih oleh Alex.
"Ada pra syarat pengambilan mata kuliah sebelumnya. Kalau lo ambil Teknik Kehumasan harus sudah lulus Pengantar Ilmu Komunikasi. Lo sudah pernah ambil atau belum?"
"Sudah. Itu mata kuliah semester pertama."
"Berapa nilai lo? Lulus atau enggak?" tanya Harry.
Alex mengecek daftar nilainya. Dia tersipu, malu.
"Sinting lo. Masa Pengantar Ilmu Komunikasi saja tidak lulus. Lo harus ambil ulang kuliah itu dulu semester ini," maki Harry.
"Yaelaah. Malas gue mengambil lagi mata kuliah Bu Martha. Dia dosen menyebalkan dan killer."
"Mata kuliah yang lain sudah penuh, lo enggak punya pilihan. Lagi pula, itu kuliah pengantar yang wajib, bagaimana mungkin anak komunikasi tidak lulus mata kuliah pengantar? Jangan bikin malu lah," cela Harry seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Alex memutar bola matanya. Dia mengecek mata kuliah yang dimaksud dan kembali mengomel. "Pengantar Ilmu Komunikasi juga penuh. Kampret!" Alex menyandarkan tubuh di sofa dengan sebal. "Jadi gue harus bagaimana?"
"Lo coba meminta kelonggaran pada Bu Martha. Barangkali dia mau menambahkan satu bangku untuk murid yang sudah bangkotan ini," kata Harry.
Alex menggeram sebal. Dia benar-benar tidak punya pilihan.
"Gue temani lo bertemu Bu Martha. Lo ngomong yang sopan dan merendah. Jangan pakai marah-marah," kata Harry.
Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, Harry percaya pada kemampuannya bernegosiasi. Harry pernah mendengar, meskipun Bu Martha killer tetapi dia dosen yang perhatian dan sangat mendukung mahasiswa yang belajar sungguh-sungguh.
Suasana kantor prodi komunikasi tampak lenggang. Sebagian besar mahasiwa sudah mendaftarkan kuliah. Hanya beberapa saja yang masih mengurus administrasi seperti mengganti jam perkuliahan atau berkonsultasi dengan ketua jurusan.
Martha terkejut ketika melihat Alex ingin berkonsultasi soal perkuliahan dengannya.
"Silakan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Martha.
"Begini, Bu. Saya ingin meminta dispensasi. Saya mau mengambil ulang Pengantar Ilmu Komunikasi tetapi kuota kelas sudah penuh."
"Kenapa baru sekarang kamu mendaftar?"
"Saya kemarin ada keperluan keluarga yang mendesak."
Martha tahu Alex berbohong. Dia terkenal sebagai mahasiswa jurusan komunikasi yang punya rekor membolos paling tinggi dan tidak pernah mengerjakan tugas akhir. Kalau pun mengerjakan tugas akhir dengan bantuan AI tanpa peduli apa yang ditulisnya benar atau tidak. Beberapa dosen lain, selalu meluluskan dengan memberi nilai C tetapi tidak dirinya.