Menghitung Hari, Menghitung Cinta

Perle Gauthier
Chapter #7

Sebuah Kesepakatan Baru

Waktu menunjukan pukul delapan kurang. Yara melonggok ke dalam kelas yang masih kosong. Dia ingin meluangkan waktu sebentar untuk membaca materi kuliah sebelum kelas dimulai.

"Kalian tidak mau masuk? "tanya Yara.

"Nanti saja, kalau Pak Anthony datang," jawab Febby, menyebut nama dosen pengajar. 

"Aku masuk duluan, ya,"  ucap Yara.

Sebelum Yara masuk kelas, Febby berucap," Ra, jangan duduk paling depan. Di baris ketiga saja." 

Yara tertawa kecil. Kedua sahabatnya ini benci duduk di depan karena takut ditanya-tanya oleh dosen. Dia mengambil posisi aman yang sesuai dengan permintaan kedua temannya.  Yara larut dalam bacaan sampai terdengar suara dosen di depan kelas. Nisa dan Febby sudah duduk  ada di sampingnya. 

"Selamat pagi anak-anak. Sebelum perkuliahan dimulai, saya absen dulu," ucap Anthony membuka laptop. 

Satu per satu mahasiswa mengacungkan jari ketika namanya dipanggil. 

"Alexander Maxwell Maramis,"  panggil Anthony. 

Semua siswa, termasuk Yara mengedarkan pandangan sampai ke bangku belakang. Mahluk menyebalkan itu tidak ada. 

"Alexander   Maxwell Maramis," ulang Anthony. 

"Tidak ada, Pak," salah satu mahasiswa berinisiatif menjawab. 

Anthony menggelengkan kepala. Dia tahu Alex hanya mendaftarkan nama di perkuliahan  dan tidak akan memunculkan batang hidungnya hingga akhir semester. Dia yakin diakhir semester Alex akan menyerahkan tugas yang semuanya dibuat dengan bantuan AI.

"Kita lanjutkan. Sebelumnya saya minta ada salah satu dari kalian menjadi ketua kelas untuk memudahkan distribusi tugas dan bila ada kepentingan mata kuliah bisa jadi orang yang saya hubungi, "ucap  Anthony. 

Semua mahasiswa saling berpandang-pandangan. 

"Ada yang bersedia?" 

"Yara saja,  Pak," ucap satu mahasiswa. 

Ucapan itu disetujui oleh yang lain. Anthony menatap ke arah Yara. Dari raut wajah perempuan itu, dia bisa menilai  Yara paling menonjol di antara mahasiswa lainnya. Sinar matanya cerdas dan ada ambisi besar terpancar di situ. Namun, dia berusaha tidak hanya mengandalkan pada satu murid saja. 

"Ada kandidat lain?" tanya Anthony. 

"Evan,  bisa Pak," ucap beberapa mahasiswa yang duduk di sisi kanan.  

"Ada yang setuju Evan?" tanya Anthony. 

Hanya segelintri saja mahasiswa yang mengacungkan jari tetapi diprotes oleh yang lain. Akhirnya disepakati Yara menjadi ketua kelas.  Yara tidak menolak penugasan tersebut. Dia sudah terbiasa mengemban tugas seperti itu.

"Baiklah. Saya putuskan Ayarra Wulandari sebagai ketua kelas. Tolong kamu kumpulkan nama seluruh mahasiswa dan nomor kontaknya. Kamu buatkan WA grup sebagai tempat berkomunikasi soal kuliah," ucap Anthony. 

"Baik, Pak," ucap Yara

Yara mengambil secarik kertas dan membuat list nama yang langsung dia minta teman-temannya mengisi. 

Kuliah Komunikasi pemasaran dimulai. Semua mahasiswa menyimak dengan serius penjelasan dosen.  Ketenangan itu terusik dengan suara pintu yang dibuka secara terburu-buru.  Semua mata menoleh ke arah pintu. Berdiri di situ Alex.

"Maaf pak, telat," ucap Alex, singkat. 

Yara melirik pada  jam di dinding. Alex telat empat puluh lima menit. 

Terdengar bisik-bisik para mahasiswi. Mereka terpukau dengan ketampanan Alex. Pria itu memberi tatapan dingin pada setiap perempuan yang mengulas senyum saat dia lewat. 

Alex duduk di bangku paling belakang dan  meneguk air minum dari tumbler dengan rakus. Setelah itu, dia membuka laptop dengan raut  seperti anak hilang.  Alex tidak bermaksud datang telat. Akibat keseringan bolos kuliah, dia tidak hafal posisi kelas perkuliahan. Dia nyasar sampai ke gedung lain. Setelah tiba di gedung D, dia naik turun tangga untuk menemukan  ruang perkuliahan Komunikasi Pemasaran. 

Lihat selengkapnya