Menghitung Hari, Menghitung Cinta

Perle Gauthier
Chapter #8

Acara Music Quarter

Setiap awal semester kampus Sarasvati Utama punya acara musik yang paling ditunggu-tunggu. Namanya Music Quarter yang digelar di akhir pekan. Pesta ini menjadi penanda berakhirnya   ospek mahasiswa baru dan menjadi ajang ramah tamah semua mahasiswa dari berbagai jurusan. Acara digelar  di taman kampus dengan pemandangan danau. Ada beragam penampilan musik dari mahasiswa, musisi indie dan pemusik terkenal dari pagi hingga petang. 

Sekeliling area pesta ada banyak booth makanan dan booth unit kegiatan mahasiswa yang  mempromosikan kegiatan sekaligus merekrut anggota baru. Bagi para kandidat ketua dan wakil ketua BEM, Music Quarter jadi ajang kampanye pendahuluan. Semua berlomba-lomba untuk menarik massa. 

Tim kampanye Lucas dan Yara sudah bersiap sedari tadi malam. Mereka tidak hanya menyiapkan selebaran tetapi juga akan membagikan makanan, minuman dan pin.  Sesuai janjinya Alex menyumbang dana kampanye yang cukup besar untuk Yara. 

Lucas berdecak kagum ketika melihat konsumsi yang diturunkan Yara dan sopirnya dari mobil. Ada empat  kardus makanan dan satu boks pin. Di setiap kotak dilengkapi dengan selebaran yang berisi kampanye singkat Lucas dan Yara yang dicetak dengan desain estetik. 

" Sudah aku bilang, untuk kampanye awal ini tidak perlu menghambur terlalu banyak uang. Perjalanan masih panjang," kata Lucas. "Kamu habis berapa untuk salt bread dan macha latte ini?" tanya  Lucas seraya mengintip isi kotak makanan. 

"Kebetulan aku sudah menyiapkan dana yang lumayan. Menurutku  gebrakan pertama itu penting, biar orang tahu siapa kita," ucap Yara. 

Yara tidak bilang perihal sumbangan dana dari Alex. Biar itu jadi rahasianya.  Saat menerima transfer  uang dari Alex, Yara merasa dia seperti melacurkan diri tetapi begitu mendengar pujian Lucas, muncul rasa bahagia. 

"I like your spirit.  Selama ini kita tidak pernah membahas serius dana kampanye. Mungkin kita berdua perlu meluangkan waktu untuk mendiskusikan itu," kata Lucas. 

Lucas merasa tidak enak hati melihat begitu banyak dana yang sudah dikeluarkan Yara. Sebelum memutuskan Yara sebagai kandidat wakil, dia dan Dimas mencari beberapa  pengurus BEM perempuan yang potensial. Dari sekian nama, hanya Yara yang antusias. Perempuan itu langsung mengiakan ajakannya.  Yara juga tidak ragu tatkala Lucas mengajukan syarat agar  berbagi dana kampanye. 

"Tentu, saja," ucap Yara, sumringah. 

Yara memimpikan moment dia bisa  nongkrong berdua saja dengan Lucas.  Sejak semester pertama Yara sengaja bergabung pengurusan BEM. Sayang saja, mereka kebanyakkan bertemu secara berkelompok. Sering terbersit keinginan Yara masuk perkuliahan yang sama dengan Lucas tetapi tidak mungkin. Lucas kuliah di jurusan HI sementara  dia di jurusan komunikasi. Kesempatan satu kuliah hanya terjadi di semester satu ketika mereka mengambil mata kuliah bahasa Inggris.

"Terima kasih, Pak Saleh. Nanti saya telepon kalau acara sudah selesai," ucap Yara pada sopirnya. 

"Kamu enggak pernah  lagi bawa mobil sendiri?" tanya Lucas ketika mereka berjalan menuju booth kampanye. 

"Mobilku lagi rusak. Sementara ini aku diantar jemput dengan sopir," jawab Yara.

"Bagaimana kalau aku antar pulang setelah acara selesai?  Enggak perlu minta sopirmu menjemputmu," kata Lucas.  

"Kalau enggak merepotkan, aku enggak masalah," ucap Yara, sedikit tersipu. 

Jantung Yara  berdebar dengan cepat mendengar tawaran itu. Yara tidak tahan melirik ke arah Lucas. Pria itu selalu tampil rapi bahkan di acara santai seperti hari ini . Dia mengenakan  kemeja garis-garis navy blue, jins hitam dan sneaker favoritnya Onitsuka. 

Dari kejauhan Dimas menyambut Lucas dan Yara dengan senyum lebar. Tangannya dilambai-lambaikan penuh semangat. Dia ikut membantu membawakan dus-dus yang ada.

"Di samping booth kita, ada booth Nando dan Giana tetapi masih sepi," kata Dimas. 

"Kalau booth Adeline dan Mia di mana?" tanya Yara.

"Mereka enggak pasang booth tapi bawa food truck," jawab Dimas. 

"Gila banget! Itu modalnya berapa?" seru Lucas. 

"Aku enggak heran. Adeline punya bisnis food truck dengan teman-temannya. Ramalanku dia akan bagi-bagi burger dan kentang goreng kan?"  kata Grace. Lantas, dia menunjukkan Instagram bisnis milik Adeline dan teman-temannya yang sesama model itu. 

"Tenang, guys. Mereka hanya bagi-bagi makanan. Kita bagi-bagi makanan, minuman dan pin.  Hitungannya kita menang. Berani,deh, diadu," ucap Yara, berapi-api.  

Dimas tertawa terbahak. 

"Aku senang optimismemu,"   kata Dimas   sembari memberikan dua jempol pada Yara.


***


Alex  menguap lebar sambil berbaring dengan malas di rumput. Di sampingnya ada Harry dan Raymond yang bermesraan dengan pacarnya.   Harry memperkenalkan pacar barunya yang anak dari kampus UI. Sementara Raymond masih awet dengan pacarnya yang juga  kuliah di teknik. Mereka duduk di bawah pohon sembari menunggu penampilan musik. 

"Lex, kekasihmu datang,"ucap Raymond dengan nada jahil. 

“Waah ada perempuan berbahaya,” seloroh Harry.

Alex yang setengah tertidur  langsung membuka mata. Rasa kantuknya mendadak hilang. Dia tidak memperhitungkan kalau Thalita datang ke sini juga. 

Lihat selengkapnya