MENGUBAH TAKDIR: Null Resonanse

Hafsah Nur Jabbar
Chapter #3

BAB 3: Pembatas

Vian merasakan aura yang berat. Dadanya sesak. Itu Pak Hiso, guru yang mengajar Pelajaran Hira. Perlahan, Ega menurunkan tangannya, Vian melirik, Kael membenarkan tangsuitnya, mengeratkan jaket kulitnya. Mereka berdua kembali jinak.

“Kalian selamat kali ini, Vian dan Ega!” Bisik Kael dengan sangat berang sebelum menggeser pintu dan masuk kelas.

“Dasar si bedebah itu,” Ega men-cih sebal. Masih mengeretakkan jemari tangannya.

“Sudahlah, Ega.” Vian menepuk lembut pundak Ega, melunakkan perlahan jemarinya yang mengepal. “Biarkan saja.”

Ehem.” Suara dehaman terdengar lagi!

Mereka tak punya waktu lagi untuk membicarakan hal itu. Dengar? Pak Hiso sudah berdeham buat yang kedua kalinya. Itu artinya mereka akan dalam masalah besar kalau tidak masuk kelas sampai dehaman ketiga menggelegar. Hawa keberadaannya kuat sekali, terutama bagi kelas yang diajarnya—dan sayang sekali, kelas Vianlah yang diajar oleh Pak Hiso. Setiap kelas di akademi hanya memiliki satu guru yang mengampu mata Pelajaran Hira, dan Vian tak habis pikir kenapa kelasnya yang harus diajar Pak Hiso.

“Aku tidak paham kenapa kau terima-terima saja perkataan anak itu.” Ujar Ega pelan sambil cepat-cepat memasuki pintu geser yang terbuka.

Setelah menutupnya mereka langsung duduk di meja mereka, yang ada di barisan tengah paling belakang. Mereka tak menyadari bahwa seisi kelas memperhatikan mereka, termasuk Kael yang masuk duluan. Mungkin itu karena Ega sempat berteriak tadi, jadi masuk akal jika terdengar sampai ke dalam kelas. Namun, mereka masa bodoh dengan itu. Lagipula, Pak Hiso yang masuk ke kelas dalam waktu yang berbarengan dengan mereka, telah membuat kelas menjadi super hening dengan hanya sisa-sisa auranya yang mencekam.

Murid-murid terduduk bisu di tempat duduk mereka. Tak kuat menatap wajah Pak Hiso saat ini sehingga mereka memilih menatap lutut.

Di akademi, kursi dan mejanya ditata sedemikian seragam sehingga hanya ada tiga banjar, dan hal itu berlaku untuk tiap-tiap kelas, dari akademi dasar maupun akademi tinggi—dan sekarang Vian berada di kelas terakhir di akademi tinggi, kelas dua belas.

Di belakang meja guru, Pak Hiso menaruh barang-barangnya. Pelan. Tapi suaranya seolah digemakan berkali-kali lipat di dalam ruangan. “Selamat pagi, anak-anak,” ujarnya dengan suaranya berat dan khas.

“Selamat pagi, Pak…” sahut murid-murid dengan tempo lambat.

Karena Vian dan teman-temannya telah berada di kelas dua belas, kelas terakhir di akademi, maka pelajaran hira lebih terfokus pada praktik daripada materi di kelas.

“Silakan keluarkan buku kalian. Adakah yang tidak membawanya hari ini? Tidak ada? Bagus—kedisiplinan sangat dibutuhkan di masa depan, entah kalian akan menjadi seorang jutsu-sha atau yang lain,” kata Pak Hiso, “dan kukira hari ini kita akan mengulang materi saja. Menguatkan dasar adalah pilihan yang bagus,” dia membenarkan pilihannya sendiri.

“Aku meragukannya,” bisik Ega pada Vian dengan suara yang sangat lemah. “Itu hanya akan membuat semua orang mengantuk.”

Shht!” Vian mendesis.

“Aku harap tidak ada yang tidur selama pelajaran… atau kalian akan menerima ganjarannya,” Pak Hiso memulai—dan Ega langsung terduduk tegap. “Adakah yang tahu apakah itu hira?” tanya pada kelas yang hening.

“Energi!” seru teman Vian setelah beberapa jenak.

“Energi yang digunakan untuk menggunakan teknik!” yang lain menimpali.

“Bahan bakar!”

“Kekuatan!” Ega ikut menjawab bersama anak-anak lain, membuat Vian menoleh.

“Oke oke,” pungkas Pak Hiso mengakhiri jawaban kelas yang bersahutan. “Kalian benar jika menyebut hira adalah energi yang digunakan untuk menggunakan teknik,”—anak yang menjawab dengan kalimat itu membusungkan dada pada temannya dengan bangga—“jadi itu bukan sekedar energi. Karena energi, dalam tubuh manusia ada tiga—termasuk energi hira—jadikan itu sebuah catatan di buku masing-masing.”

Kelas kembali hening, digantikan suara anak-anak yang menulis.

“Maka dari itu, bisakah seseorang bersedia menyebutkan secara sederhana dan tepat tentang definisi energi hira?”

“Saya, Pak!”

Vian mengangkat kepalanya.

Huh… dia lagi,” Ega sudah mendahuluinya dengan komentar tak bersemangat.

“Ah, Sara!” kata Pak Hiso cemerlang, “silakan, Nak.”

Sara, anak perempuan berambut merah muda tergerai itu berdiri di mejanya, tersenyum bangga sejenak. “Hira adalah energi spiritual dari dalam tubuh manusia,” katanya, “ia berfungsi sebagai bahan bakar ketika menggunakan ‘teknik’. Karena teknik membutuhkan hira sebagai syarat pengaktifannya.”

“Bagus sekali! Beri tepuk tangan untuk Sara.”

Satu kelas lalu riuh dengan tepuk tangan. Ega seakan-akan sengaja memperkeras tepuk tangannya, Vian heran melihat tingkahnya: “Kau masih kumat?”

“Lalu,” Pak Hiso menyambung, “apa maksud dari ‘teknik’ yang Sara sebutkan tadi? Adakah yang ingin menjawabnya untuk Bapak?” Pak Hiso mengernyit dahi.

“Pak!” sahut Sara bersemangat—lagi. “Teknik adalah cara-cara yang dilakukan manusia untuk memanfaatkan energi hira secara maksimal, Pak!”

“Yaps! Itu benar.” Pak Hiso menjentikkan jarinya. “Satu jawaban yang bagus lagi, Sara. Jadi, Teknik adalah cara untuk memanfaatkan energi hira secara maksimal—nah, teknik yang memanfaatkan hira ini disebut juga dengan ‘teknik hira’. Tambahkan ke catatan, anak-anak. Nah, bagus… kalian harus mengerti istilah-istilah dasar semacam ini—lantas, adakah yang tahu ada berapa teknik hira itu? Apakah jumlahnya tidak terbatas?”

“Saya, Pak!”

Para murid mengalihkan pandangan mereka ke banjar paling kanan kelas, pada meja paling depan.

“Wah, Alia!” kata Pak Hiso sambil berjalan mendekatinya. “Kau tahu?” tanya Pak Hiso tertarik.

“Tentu saja, Pak,” jawab Alia dengan suara melengking khasnya.

“Kalau begitu silakan.”

“Baik—singkatnya, jumlah teknik Hira itu dikelompokkan menjadi tiga teknik utama.” Alia mengangkat tiga jarinya, lalu mulai menghitung. “Ada teknik tubuh… teknik senjata… dan teknik transformasi. Itulah tiga kelompok utama dalam teknik hira yang kita kenal, Pak!”

Pak Hiso manggut-manggut mendengar jawabannya. Dan jika melihat Pak Hiso dalam kondisinya yang sekarang, sulit dipercaya bahwa beberapa menit yang lalu dia mengancam-tanpa-kata pada tiga anak yang hampir berkelahi supaya mau masuk kelas. Vian mengakuinya, aura mencekam darinya sudah sepenuhnya hilang, yang sekarang Vian rasakan hanyalah aura senang dari sosok Pak Hiso di depan kelas. Sikap antusias yang dia tunjukkan memanglah murni.

“Jawaban bagus! Apakah jumlah jurus yang ada di dalam kelompok-kelompok itu—teknik tubuh, senjata dan transformasi—jumlahnya itu tetap? Tidak berubah?” tanya Pak Hiso selanjutnya.

“Jawabannya adalah: tidak, Pak!” Suara Alia menonjol di kelas. “Jumlah jurus dari tiap teknik terus mengalami perubahan, seiring dengan berkembangnya jurus-jurus baru.”

“Beri tepuk tangan kalian!”

Kelas dipenuhi suara riuh tepuk tangan lagi. Beberapa anak yang lewat di luar pun menengok oleh riuh rendah suara tepuk tangan dari dalam kelas.

“Penjelasannya lebih enak didengar,” komen Ega dengan suara yang terdengar lega.

Vian menyipitkan mata ke arah Ega—skeptis. Dia yakin Ega cuma sebal pada Sara, makanya dia lebih suka saat orang lain, selain Sara, yang menjawab pertanyaan dari Pak Hiso. Meski jika dirinya disuruh memilih antara mendengar jawaban Sara, atau Ega sendiri yang menjawab pertanyaannya, pasti dia memilih mendengarkan jawaban Sara saja karena tidak mau ‘repot-repot’.

“Dasar maniak-coklat tukang pilih-pilih…” cibir Vian.

Sementara tepukan tangan surut, di banjar seberang dari sisi kanan kelas, Sara terlihat tersaingi. Alisnya yang menukik dan giginya beradu. Ekspresinya itu seperti berkata: “Dasar Alia… akan kubalas kau nanti! LIHAT SAJA!”

Alia balas menengok ke arah Sara, yang duduk di seberang kelas pada baris kedua. Garis mulutnya ditarik membentuk senyuman jahil: “Hahaha… kau lihat itu, Sara? Pak Hiso lebih tertarik pada jawabanku, lho…”

“Baiklah.” Pak Hiso menepuk sekali tangannya, membuat murid-murid kembali fokus. Ia telah kembali ke tengah kelas sekarang. “Kurasa tak banyak yang bisa dibahas dari teknik tubuh dan teknik senjata—sesuai namanya, kedua teknik bertarung ini menggunakan hira untuk memperkuat senjata dan tubuh pengguna.”

Murid-murid kembali mencatat.

“Maka dari itu, kita akan fokus pada teknik transformasi,” pungkas Pak Hiso memutuskan. Dia kembali ke meja guru di depan-tengah kelas. “Kalian pasti sudah tahu, bahwa teknik transformasi terbagi lagi menjadi tiga…”

Sara dan Alia terlihat bersiap mengangkat tangan mereka, keduanya tak mau kalah untuk menjadi yang pertama. Mereka bertukar pandangan tajam hingga…

Lihat selengkapnya