MENGUBAH TAKDIR: Null Resonanse

Hafsah Nur Jabbar
Chapter #4

BAB 4: Jutsu-sha

Beberapa menit yang lalu, di luar area akademi, seseorang terlihat berlari dari arah Area Pasar Raya yang tak jauh dari akademi. Dia membawa sebuah bungkusan besar dengan wajah panik. Seraya menggenggam kuat-kuat bungkusan gemuk itu, dua orang bergabung bersamanya. Tiga orang itu berpenampilan sama; baju tanpa celah dan penutup muka, mereka juga sama-sama membopong bungkusan gemuk.

   “Kita untung besar!” kata seorang yang berlari paling depan. Perawakannya kurus kering, dan tampak bisa terbang tertiup angin kapan saja. “Dewi keberuntungan berpihak pada kita!” sambungnya, pakaian yang serba tertutup itulah yang membuatnya berisi.

   “Area Pasar Raya selalu sepi ketika siang hari—itu kesempatan yang bagus!” 

   Yang lain mengiyakan. 

   Ketiganya itu terus berlari secepat kilat menuju akademi setelah agenda mereka merampok barang milik orang-orang, sukses. Rencana mereka sangat mulus karena tak ada gangguan selama beraksi. Kalau pun si pemilik barang-barang ini adalah pengganggu, mereka sudah menendang para pengganggu itu kuat-kuat, atau yang lebih praktis, men-jutsu-i mereka sampai tak sadarkan diri. 

   Sekarang cuma tinggal masalah waktu hingga mereka bisa keluar dari area ramai desa ini. Hanya saja mereka tidak tahu, mereka telah diikuti! Siluet dua orang beringsut-ingsut di belakang mereka dengan kecepatan tinggi. 

   “APA ITU!?” salah seorang perampok menoleh. Sadar kalau mereka tidak sendiri. 

   “GAWAT!” seru perampok paling depan. “Itu jutsu-sha—” 

   Belum sempat dia menyuruh rekannya untuk memutar mencari jalan lain, berkas-berkas angin yang tampak seperti belati menyerempet mereka. Membuat goresan di baju-baju serba tertutup itu.

   Mereka tepat berada di depan gerbang akademi ketika memutuskan melawan para jutsu-sha itu. Tiga orang, mereka imbang secara jumlah untuk saat ini.

  Perampok yang kurus-kering tubuhnya, menatap rendah para jutsu-sha yang mulai mendekat. Ia meletakkan bungkusan yang dia bawa. “Hmph!” dengusnya, “kalian para jutsu-sha akan membayar untuk ini!” Dia mengibaskan tangannya yang tersayat belati angin tadi. 

   Ketiga orang yang mengejar perampok itu semakin dekat. Di bawah terik matahari, para perampok bisa melihatnya, seragam serba hitam, ban hijau gelap di lengan kanan mereka. Beaster. Tingkatan kedua dari seorang jutsu-sha. 

  “Mereka beaster,” kata salah seorang perampok tercekat. 

  Perampok yang tangannya berdarah itu meludah kesal. “Mau mereka ceacer, beaster ataupun auser sekalipun, AKU TIDAK PEDULI!” Ia memasang kuda-kuda, menyatukan telapak tangannya. Dua rekannya mengikuti. 

   Di depan merek, salah seorang dari jutsu-sha melompat tinggi-tinggi, tubuhnya sejenak menjadi siluet di depan matahari yang bulat. Tangannya bergerak cepat membentuk serangkaian mudra—pose tangan. Begitu kakinya menginjak tanah…

“Elemen api! Selendang Mentari!” Dari arahnya meluncur kain-kain panjang dari api, gerakannya berkibar menyambar-nyambar, meluncur tepat ke arah perampok.  

  “Pengganggu seperti mereka… akan kubuat hangus tanpa sisa!" Perampok yang kurus-kering itu mengambil napas dalam-dalam sambil mempertahankan pose tangannya, hiranya difokuskan di mulutnya, dan dalam satu embusan napas…

“Elemen api: Sapuan Penghangus!”

   Hawa panas menyengat seraya kobaran api, disemburkan secara kompak oleh ketiga perampok.

   Cepat api itu menyatu padu dan merangsek maju, tiba-tiba, Sapuan Penghangus terlihat menghantam sesuatu yang solid, gerakannya tertahan. Ketiga pengguna jurus itu melenguh puas, mengira para jutsu-sha sudah hangus bersama berhentinya pergerakan jurus. “Hah! Mereka hanya sekumpulan keroc—”

   “Lihat itu!”

  Sesuatu solid yang mereka lihat tadi seolah-olah mendekat, kobaran api yang tadinya berhenti, terbelah menjadi dua. Namun sesuatu di baliknya masih ada, dan kecepatannya kian meningkat, hingga kemudian mereka tahu itu adalah paket besar air berbentuk lonjong, yang menghadang jurus para perampok. 

   Air memadamkan api bersama dengan wujud jurus itu yang perlahan lenyap seraya meninggalkan asap yang mendesis. Sedang Selendang Mentari? Masih utuh! Dan gerakannya telah diubah, lihatlah, jurus itu benar-benar seperti selendang yang berpilin-pilin terkena angin, merangsek maju ke arah ketiga perampok, siap melelehkan kulit. 

   Para perampok itu meringis menutupi wajah mereka dengan tangan. Tidak satu pun dari mereka yang mengira jurus gabungan itu bisa dihancurkan begitu mudah. Salah satu jutsu-sha lantas membentuk dua pose tangan dengan cepat. Gerakan Selendang Mentari berubah, meliuk, mengelilingi para pencuri seperti pusaran matahari, hingga perlahan berubah membentuk kubah api yang menyala. Enam detik. Selendang Mentari melaksanakan tugasnya dengan baik. Tiga perampok terkapar tak berdaya ke tanah. Mereka terkena hawa panas yang intens. Sedangkan bungkusan curian mereka yang tercecer, tertutup selaput air inisiatif jutsu-sha supaya tidak ikut hangus di dalam kubah itu.

  


“Dengan begini—sudah selesai…” Jutsu-sha itu menyeka keringat dari dahinya, setelah selesai mengikat tiga perampok, yang terkulai dan basah kuyup itu, dengan tali kuat-kuat. 

   “Itu tadi jurus tingkat C,” kata jutsu-sha satunya, yang badannya gemuk-bulat seperti bakpao. “Jurus seperti itu bisa dengan mudah dipatahkan dengan jurus berperingkat lebih tinggi.”

  “Kau benar.” Rekannya sudah selesai memastikan para perampok itu tidak akan melarikan diri. “Mereka ini cuma perampok-tak-terlatih, tak heran jurus yang mereka kuasai cuma jurus tingkat C.” Dia mengumpulkan barang rampokan, tiga bungkus besar. Ketika dibuka, isinya adalah barang dagangan, sayur-sayuran, dan satu lagi berisi senjata-senjata yang dibungkus rapi ke dalam tas-tas kecil. 

   Ketiga jutsu-sha terlihat mencolok dengan warna pakaian mereka yang serba hitam, serasi sekali dengan vest hijau gelap di tubuh merek. Dan ya, penangkapan ini selain berhasil menarik kembali barang curian, mereka juga berhasil menarik perhatian.

   “Yah, sepertinya kita memancing perhatian…” salah seorang jutsu-sha memandang serba salah. 

  Wajah-wajah kagum dan senang mengerubungi gerbang akademi. Satu dua murid Akademi Menengah bahkan mencoba keluar dari gerbang dengan memanjat, tapi Penjaga Akademi itu tahu betul bagaimana menyikapi tingkah nyeleneh anak-anak. 

  “Teknik pembatas…” gumam sang Penjaga Akademi ketika semakin banyak murid menghampiri gerbang, “Dinding Aura Kuncian: aktifkan!” Seorang anak yang hampir mencapai ujung gerbang tiba-tiba terkena sengatan energi, tabir berupa asap ungu itu menjulang melebihi gerbang besi. Karena kaget, anak itu tak sengaja melepaskan genggamannya, tubuhnya terjerembab jatuh, ia mengaduh, kembali ke kerumunan dengan wajah ciut. Upaya penjaga akademi berhasil, melihat apa yang terjadi barusan, beberapa murid yang hendak memanjat, urung semangatnya. 

  “APA APA!? Apa yang terjadi?" Dari barisan murid-murid yang rapat, Ega muncul entah dari mana sambil berseru-seru. Dia menarik serta Vian dan Rega, yang juga jadi kepo. 

  Ketika Vian melihat ke luar melewati asap ungu yang semi-transparan itu, dilihatnya ban berwarna hijau gelap dan pakaian hitam-hitam yang amat dikenalnya. 

  “Itu… jutsu-sha…” gumamnya di belakang Ega. Rega meninggikan pandangannya, dan di depannya, sebaris anak-anak Akademi Menengah, termasuk Ega juga di tengah-tengah mereka terkagum-kagum. “Itu benar-benar jutsu-sha…”

   Vian hampir tidak percaya. 

   “Minggir-minggir!” 

   Sebuah suara kasar yang familiar membuat Vian menengok. Di belakangnya, Kael, beserta dua orang ‘pengikut Kael’ membiak kerumunan orang-orang dengan lagak sok penting. 

   “Minggir kalian, dasar anak-anak Akademi Menengah…”

   “Beri jalan untuk senior kalian.” 

  Kael selalu dikelilingi dua orang, yang jika mereka bersama, pasti selalu membuat onar dan super-menyebalkan. Mereka adalah Seven dan Grio. 

  “Wah wah wah…,” Kael muncul setelah kerumunan anak Akademi Menengah minggir karena tak punya pilihan. “Kepo dengan ini juga, eh, Zora?” 

  Melihat senyum menyebalkan Kael cukup untuk membuat Vian merasa ingin memukul wajahnya, namun dengan adanya Seven si narsis, dan Grio si ‘otak otot’—sebutan dari Ega—tidak membuat keadaan lebih baik. Sementara Rega dapat melihat dari atas pundak-pundak di depannya bahwa seseorang tiba menghampiri dua jutsu-sha itu.

   Prok prok! Seseorang menepuk tangannya. Itu si penjaga akademi, yang berdiri di depan posnya. Menjeda suara-suara di dalam kerumunan. 

   “Anak-anak, kalian tentu sudah tahu teknik pembatas ini. Jurus tingkat A. Kuat menahan kalian jika nekat melangkahinya.” Mata panda sang penjaga menyipit. “Jadi sebaiknya kalian kembali.”

   Setelah itu, banyak murid akademi yang bertolak dari depan gerbang. Sebagian karena tahu pertarungan yang ingin mereka lihat sudah selesai, sebagian lain karena tidak mau berurusan dengan teknik pembatas itu. 

   “Kalian menarik terlalu banyak perhatian hanya menangani perampok seperti mereka.” Kata sang penjaga akademi kepada para jutsu-sha. Mereka hendak membawa para perampok itu. 

   Vian hendak hati menguping pembicaraan ini. Namun, semua anak berangsur kembali, area depan gerbang sebentar lagi kosong. Lebih baik dia kembali bersama Ega dan Rega.

   “Mentor,” jutsu-sha yang mengumpulkan barang-barang rampokan kedengaran tercekat, “maafkan kami.” katanya sambil membungkuk pada jutsu-sha yang datang menghampiri mereka. 

  Sang mentor menatap mereka bergantian dengan tenang, lalu melihat ke arah penjaga akademi. “Sebagai mentor mereka, aku meminta maaf karena membuat gaduh di sini,” katanya dengan suara tenang yang sayup, “mereka masih kekurangan pengalaman.” 

   Penjaga akademi cuma menghela napas, dengan anggukan tipis pada para jutsu-sha dia kembali ke posnya. Jutsu-sha junior yang mendapat kritikan hanya bisa menunduk.

   Vian mencoba tidak mempercayainya, namun ia benar-benar melihatnya, jutsu-sha tingkat auser itu sejenak memandang lurus-lurus ke arahnya saat ia hendak berbalik pergi . 

  “Yah, lagipula ada lagi,” kata sang mentor itu memalingkan wajah ke arah Pasar Raya. Tiga jutsu-sha bimbingannya saling tatap tidak mengerti, hingga kemudian, teriakan nyaring seorang wanita terdengar dari arah Pasar Raya.

   “PENCURI—!!!” 

   Seorang wanita berlari keluar dari tokonya, mencoba menghentikan empat orang berbadan besar yang merampas barang dagangannya secara paksa, namun karena kalah kekuatan dan kecepatan, ia pun tersungkur. 

Lihat selengkapnya