MENGUBAH TAKDIR: Null Resonanse

Hafsah Nur Jabbar
Chapter #5

Bab 5: Jangan Menahan Diri!

Pagi hari. Vian sudah sibuk sekali. Dia menggeledah hampir seluruh lemari pakaian, mencari tas kaki miliknya yang hilang entah ke mana. Ibunya sudah memanggil untuk sarapan beberapa menit yang lalu dan Vian mengulurnya, ini di luar prediksi bahwa ia akan kesulitan menemukan satu benda yang krusial, sehingga dirinya malah berlama-lama ketika mandi tadi. Jika tahu akan begini, lebih baik ia tak mandi supaya bisa mencari benda ini. 

   Lima menit berlalu, Vian telah membongkar tempat tidurnya. Mengangkat kasur, melucuti sprei, juga menilik di bawah ranjang. Tak kunjung menemukan tas kaki itu, benar-benar membuat frustasi. Ibunya sudah berteriak lagi, mendesaknya untuk segera sarapan. Ini belum apa-apa dan Vian sudah penuh peluh, ia mulai berpikir bahwa mungkin tak apa tak membawa tas kaki, mungkin dia hanya akan kesulitan sedikit. 

   Ketika sudah mantap dengan pilihannya, Vian meraih tas dari kursi dan membuka loker untuk mengambil beberapa buku dan… sial, ia malah menemukan tas kaki yang dicari-carinya sejak tadi di dalam loker. Vian kadung muak dengan pencariannya ini, mau berteriak pun tak bertenaga, sehingga tas kaki itu dicampakkannya masuk ke dalam tas untuk menggenapkan kekesalan. 

   Ketika tiba di dapur untuk sarapan, selain ibunya yang sedang mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan memasak sayuran, Vian melihat ayahnya sudah rapi dengan seragam hitam-hitam, dan ban lengan biru tua. 

   "Ayah ada misi hari ini?" Tanyanya sembari menggigit roti panggang yang terlalu lama dimasak. Ia bisa mendengar crust rotinya sendiri ketika digigit. 

   "Ah, iya. Misi menjaga perbatasan,” ujarnya, “jadi Ayah akan menetap beberapa hari." Koran yang dibaca dikibaskan. 

   Sembari mulutnya penuh dengan potongan daging dan selada, Vian melihat salah satu halaman koran yang ayahnya baca. Tertulis di sana: Bank Niaga di Timur Desa Dirampok, Saksi Melihat Pelaku Melakukan Sesuatu Yang Mencurigakan Ketika Perampok Terjadi. 

   Vian menggigit sepotong roti lagi, apa yang mencurigakan dari seorang perampok yang sedang merampok, pikirnya. Toh dari awal gerak-gerik mereka pasti sudah mencurigakan. 

   "Kamu akan sendiri mulai hari ini, Vian," kata ibunya. Vian menelan rotinya bersama dengan pikiran tentang perampok itu.  

   “Eh?” lenguh Vian heran. “Kok bisa?”

   “Kau akan pergi juga?” Suaminya bertanya ingin tahu. 

   “Perpustakaan menugaskan beberapa orang termasuk aku untuk menghadiri Konferensi Besar di desa seberang."

   “Desa Yurei?” tanya Vian. Ibunya membalas dengan anggukan. 

   "Konferensi Besar ya?" Suara sang Ayah terdengar lambat. "Berarti sudah satu tahun sejak kejadian itu." 

   Vian menarik satu alisnya, ingin bertanya tentang kejadian yang ayahnya maksud, namun waktu mencekiknya. Ia harus bergegas kalau tidak mau terkunci di luar gerbang seperti Ega kemarin. 



Sekitar lima menit setelahnya Vian sudah melompat-lompat dari atap ke atap. Kalau saja kondisi lebih baik, ia lebih memilih tidak ikut latih tanding hari ini. Bukan karena tidak ingin, tapi hal lain, yang membuatnya merasa mual setiap kali memikirkan latih tanding. Mungkin bakat terpendam Ega—membolos dan berdalih—bisa berguna di saat-saat seperti ini, meski tetap akan sulit mengajak anak itu bersekongkol dalam hal ini—dia akan lebih memilih pamer kemampuan di arena daripada menuruti permintaannya. 

    Pukul tujuh kurang lima belas menit. Area gerbang dan halaman telah ramai oleh anak-anak, dan Vian termasuk ke dalam mereka. Baru saja ia melewati penjaga gerbang yang seperti biasa, berdiri di depan pos jaganya dengan wajah lesu ketika serombongan anak kelas delapan melewatinya. Vian mendengar sedikit percakapan mereka—karena mereka berbicara dengan suara yang sengaja dibuat lebay—tentang berita hangat baru-baru ini: seorang auser diserang beruang hitam setinggi enam meter yang hendak ditangkap lantaran telah menyerangan sejumlah warga desa, membuat takut orang-orang untuk masuk hutan. 

   Namun baru-baru ini sudah diketahui alasan kenapa beruang hitam itu mengganas, ia sedang dalam mode protektif tinggi, menjaga anak-anaknya setelah gua tempatnya tinggal sebelumnya hancur. 

    Tak lama setelah Vian melepaskan diri dari rombongan juniornya dengan berjalan mendahului, beberapa juniornya yang lain melewatinya. 

   “Jutsu-sha yang kemarin itu hebat sekali! Rasanya aku ingin cepat-cepat kelas dua belas!” seru anak dengan rambut merah menyala. Vian memperhatikan ujung-ujung rambutnya yang meruncing tajam. Mungkin saking semangatnya ia sehingga rambutnya ikut berdiri. 

   “Betulkan…!” Temannya yang lain menimpali. “Aku harap aku yang bertemu dan melawan orang-orang jahat itu….” 

   “Kalian berbual lagi.” Khayalan anak itu pupus seketika ia dikomentari. “Cuma orang-orang naif yang punya keinginan bertemu orang-orang jahat.” 



Dari belakang mereka, tidak enak rasanya mendengar percakapan orang sejelas ini. Dan sekarang Vian merasa sesak. Ia terlalu masuk dalam percakapan orang lain hingga tak menyadari Ega sudah ada di sampingnya. 

   “Kau memperhatikan apa?” tanya Ega santai. 

   Vian menoleh, lalu diam sejenak—loading. 

   “K-kau muncul dari mana, HAA!!?” Vian melompat. 

   Ega meringis jahil. “Eeehhh…” lenguhnya takjub, “tak biasanya kau terkejut begini.”

   Vian nyaris saja menimpuk temannya itu, sampai fokusnya tiba-tiba teralihkan pada hal lain. Dia menoleh ke depan. Di mana-mana anak-anak tadi? Apa mereka sudah pergi? Bagaimana kalau mereka menganggapnya menguping? 

   “Mencari siapa sih?” Ega ikut-ikutan memicingkan mata. 

   “Oh!” Vian tersibak. Anak-anak tadi, yang dicarinya, baru saja melewati pintu gedung akademi di depan sana, dan terlihat masih mengobrol. Untunglah. Setidaknya dia tidak dianggap penguping. Vian mengembuskan napas lega. 

   Ega yang juga memperhatikan apa yang Vian cari, merasa bingung. “Itu bukannya…,” gumamnya.

   “Kau kenal?” tanya Vian.

   Kepala Ega miring. “Tidak terlalu. Aku ingat wajahnya tapi namanya lupa….

   “Oh,” respon Vian singkat, “omong-omong, sepertinya suaramu sudah lebih baik” ujarnya sambil terkekeh mengingat-ingat momen kemarin, ketika Ega dengan suara parau ditertawakan oleh Sara dan teman-temannya. 

   Nampak wajah ketidaksukaan di wajah Ega. Alisnya terlipat. “Yahh…,” eluhnya dengan nada lega, “untunglah aku punya ramuan hebat yang bisa menyembuhkan penyakit apapun.” 

   “Hah?” Alis Vian terangkat sebelah. Si pengacau ini tidak membual, tak ada aura kebohongan darinya. Yang ada hanya aura kepercayaan diri yang meluap. Terlepas dari benar atau tidak omongannya, waktu mengejar mereka. 

   “Apapun,” kata Vian menyudahi pembicaraan, “kau tidak mau pergi? Ya sudah.” 

   Mendapati respon setengah-setengah dari temannya, Ega mencelos. “He-hei, tunggu!” 


***


Rega dan teman-teman yang lain sudah berada di arena ketika Vian dan Ega membuka pintu logam ruangan itu. Bunyinya berderik kasar, membuat kerumunan di bawah sana menoleh. Ega terkesiap melihat Pak Hiso yang sudah berdiri di tengah-tengah arena. Dia sepertinya terlihat sedang mengabsen. Angin yang masuk lewat ventilasi sekeliling bangunan meniup debu-debu halus ke wajahnya. Sejenak menggelengkan kepala, Pak Hiso melihat Vian dan Ega yang sudah bergabung dengan yang lain, sehingga dirinya memulai. 

   “Baik anak-anak,” tegasnya. Mereka semua sontak berbaris rapi, tiga baris, Vian, Ega dan Rega mengambil barisan paling belakang. 

   Pak Hiso menaikkan kacamatanya. “Ini adalah salah satu tradisi Jutsu-sha, latih tanding,” katanya, “aspek bertarung, berpikir dan pengambilan keputusan akan dinilai.”

   Sementara Pak Hiso sedang memberikan pembukaan di depan sana, Vian memikirkan hal lain: sejak masuk ke area akademi, ia merasa sedang diawasi. Seseorang, atau seperti itu, jauh dalam benaknya Vian merasa sedang diperhatikan.

   “…ingat, hanya teknik tubuh. Selain teknik tubuh dilarang…,”

   Vian tidak tahu apakah Ega dan Rega merasakan hal yang sama sepertinya. Ia menoleh, hendak hati ingin bertanya.   

   “Selanjut—”

   BUM!!!

   Para murid tersergah. Lampu arena tiba-tiba padam bersama satu dentuman bulat terdengar dari seluruh sudut bangunan. 

   “Suara ledakan?” cerocos Ega. 

   Suara-suara kedengaran kalut.  

   “Ada apa ini?” 

   “Mati listrik?”

   Srrtt—TASS!!!

   Belum rampung suara dentuman, sebuah jejak petir berwarna kuning melejit, membawa serta suara listrik yang terdengar menyeruak di telinga. Dari satu titik petir itu muncul, langsung ke depan mereka. 

   “Apa itu?”

   “Kilat?”

   Dalam cahaya remang-remang dari ventilasi, Vian melihat sekelilingnya—mastikan bukan dia yang pingsan—hanya gelap yang dia lihat. Dia menepakkan kaki. Kasar. Berarti bukan dia masalahnya, lalu, apa yang terjadi? Siapa yang mematikan lampu? Dan tentang kilat tadi, bukankah bergerak tepat ke posisi Pak Hiso?

   Je-GLENG!

   Lampu ruangan kembali menyala. Para murid menutupi wajah mereka, silau. Sejenak kemudian mata mereka dibuka, memandang kembali ke depan. Vian membuka matanya dengan masih memicing, dia tak mendengar suara Pak Hiso sekata pun sejak lampu padam. Di mana dia? Oh, itu dia di depan, masih di tempatnya, lalu… siapa wanita berambut gelap yang di sampingnya itu? 

   

***


Arena lengang. Angin sejuk dari halaman luar menyapu wajah-wajah yang bingung namun tak berani bertanya itu. Masih dalam posisi siap, anak-anak kelas dua belas A menyimpan pertanyaan dalam benak masing-masing. 

   Siapa wanita ini? Kenapa tiba-tiba muncul? Mana pas lampunya sudah menyala lagi… jangan-jangan dia yang sengaja mematikannya? Aduhh, kenapa Pak Hiso malah diam saja? Dan, lihatlah caranya berpakaian, rompinya tidak dizip, dan pakaiannya yang menyilang itu.

   Ega mencolek tangan Rega. 

   “Apa?” Rega tak menoleh, hanya suaranya yang rendah berbisik. 

   “Lihat itu.” Tunjuk Ega dengan matanya. Rega pun mengintip ke arah yang Ega coba tunjuk.

   “Seorang auser,” bisiknya selanjutnya.

   Whoosh…

Lihat selengkapnya