MENGUBAH TAKDIR

Hafsah Nur Jabbar
Chapter #1

BAB 1: ANAK YANG TERPILIH

Bintang. Bulan. Langit.

Tiga kata yang layaknya sebuah pasangan yang tak dapat dipisahkan. Kehadiran mereka di bentangan langit malam sangat memukau siapa pun. Begitu juga kiranya yang dirasakan oleh seorang anak laki-laki berambut hitam dan bermata coklat di depan rumahnya.

Di bawah langit gelap berbintang itu, di antara jutaan cahaya lampu rumah-rumah yang terlihat bak bintangnya bumi, dia menatap terpaku. Matanya berbinar. Kagum.

Avian Zora. Itulah namanya.

Orang tua dan teman-temannya di akademi biasa memanggilnya Vian. Hanya sedikit yang memanggilnya dengan nama klannya, Zora, dan hanya sebagian gurunya yang memanggilnya begitu.

Vian begitu menyukai pemandangan alam seperti ini. Barangkali teman-teman sudah jenuh mendengarnya berkata: “Hei lihat! Titik-titik kecil yang tersebar tak beraturan itu ternyata bintang dan planet yang berukuran sangat besar. Bahkan ukurannya bisa lebih besar dari bumi dan matahari, lho!”

Begitulah. Vian sangat menyukai pemandangan. Apapun itu. Namun matahari terbit, matahari terbenam, dan langit malam, adalah tiga hal yang terindah baginya.

Vian kadang tertegun lama, mendongakkan kepala ke langit. Membiarkan angin mengepakkan ujung Hoodie hitamnya. Dia tahu, hal yang dia lihat teramat indah, sehingga suara-suara di sekitarnya menjadi sayup, dan menjadi hening. Tapi keheningan sesaat itu pecah saat ibunya memanggil, meminta Vian supaya masuk.

“Aku datang!”

Vian beranjak dari halaman, masuk ke dalam rumah dengan agak berat hati. Padahal dirinya masih teringin melihat langit. Semalaman kalau bisa.


Ini adalah bumi tempatnya tinggal.

Ini adalah keluarga yang amat dicintainya. Bersama Ayah, Ibu dan kakeknya, Vian tinggal di desa Nurei, salah satu dari dua desa besar di Negara Tanah. Neneknya sudah meninggal saat dia masih bayi. Hanya cerita-cerita kebaikan neneknya yang acap Vian dengar dari kakeknya.

Vian sangat menyayangi mereka. Tidak kalah sayangnya ketika melewatkan momen yang dia sebut sebagai puncak senja.

Rumahnya tidak besar, tidak kecil juga, bisa dibilang ukuran standar di sini. Vian tidak akan protes selama itu nyaman ditinggali. Sejak Vian lahir, dia sudah tinggal di rumahnya ini.



Vian menggeser pintu kaca dapur. Buru-buru menutupnya ketika ibunya berkelit cepat ke arahnya.

Ibunya tidak suka udara dingin. Dia selalu menyuruh Vian memakai pakaian hangat jika udara dirasanya dingin.

“Hari ini Ibu masak apa?” tanya Vian ketika sampai di depan meja. Menarik kursi, dan sejenak mengerling meja yang masih kosong.

“Masih ada sawi dan beberapa potong paha ayam, jadi Ibu menumis dan menggorengnya,” jawab ibunya singkat.

Vian bisa melihat tangan ibunya sigap memainkan semua instrumen dapur.

“Baunya harum,” kilah Vian mengerjapkan mata. Dia senang ada sawi di menu makan malam ini.

Ayahnya muncul dari ruang tengah tak lama kemudian. Pria berbadan tegap itu mengenakan baju rajut hitam, terlihat gagah. Vian sempat mengira ayahnya menggunakan seragam jutsu-sha, ternyata hanya pakaian rajut berwarna hitam biasa.

“Wah.” Ia berjalan menghampiri meja. “Makanannya sudah siap ya?”

Vian mendengar piring berdenting dari arah kompor.

“Tunggulah sebentar lagi.”

Ibunya sering terlihat sibuk ketika di rumah. Jarang sekali Vian melihat ibunya bersantai-santai. Dan sebagai pustakawan, dia pasti juga sibuk sekali di kantor.

“Omong-omong, Kakek di mana?” tanya Vian pada orang tuanya.

“Kakek tadi ada di luar, sedang bersantai sambil minum teh,” ibunya membalas. Tangannya menumis bumbu, yang mulai tercium harum.

“Bisa kau panggilkan Kakek untuk makan malam, Vian?” Tanya ayahnya sambil melihat-lihat berita utama di halaman paling depan koran hari ini.

“Siap.”

Vian beranjak dari kursinya. Dan ketika melewati pintu depan, dia menemukan kakeknya sedang duduk di teras dengan cangkir dan gelas kecil di atas meja di sampingnya.

“Ah, Vian.” kata sebuah suara yang terdengar lega melihat Vian muncul dari balik pintu. “Apa sudah siap?” tanya kakeknya.

“Iya.” Vian membesitkan senyum.

Mata coklat pucat itu mengerling ke arahnya.

“Baiklah kalau begitu.”

Pria yang rambutnya hampir putih semua itu berjalan masuk rumah, pakaian longgarnya berkelebat menyapu udara. Vian mengekor di belakangnya sembari membawa nampan berisi gelas dan teko.

Ketika mereka tiba di dapur, piring-piring telah penuh dengan sawi tumis dan ayam goreng yang harumnya memenuhi ruangan.

“Makanannya sudah siap.” kata ibunya. Ia gesit melipat celemek. “Ayo, kita makan. Kurang mantap jika keburu dingin dingin.”

“Wah akhirnya!” suaminya sumringah.

“Baik…!”

Vian bergabung ke meja setelah meletakkan nampan di meja dekat wastafel. Dia duduk di sebelah kakeknya.

Nasi telah siap di piring semua orang. Sekarang yang tinggal Vian lakukan hanyalah mengambil sawi tumis itu sebanyak yang bisa dia muat di piringnya.

Makan malam senyap pada awalnya. Hanya bunyi sendok yang beradu dengan piring yang mereka dengar. Dengan sekali sang Kakek memuji rasa masakan ini. Hingga setelah lengang beberapa lama…

“Bagaimana di akademi, Vian?” Ayahnya bertanya di sela-sela kesibukannya menggigit paha ayam, dan terdesah-desah setelahnya lantaran kepanasan.

Vian cepat-cepat menyelesaikan kunyahannya, di seberang, ibunya tunggang-langgang menuangkan minum.

“Seperti biasa. Tidak ada yang berubah,” jawab Vian. Ia merasa seret.

“Sebentar lagi kau akan lulus.” Sambung ayahnya setelah suhu lidahnya membaik. “Bagaimana? Apa kau sudah punya rencana?”

“Rencana apa maksud Ayah?” tanya Vian ketus. Ia menenggak air. “Lagi pula masih satu semester lagi sampai aku lulus. Aku tidak merasa enam bulan itu cepat!”

“Tidakkah kau akan meneruskan ke akademi lanjut…” Ayahnya menebak sambil mengunyah. “Atau—tidak?”

Vian diam sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke luar. Ke halaman.

“Aku belum tahu.”

“Kenapa bisa tidak tahu, Vian?” Kakeknya ikut bertanya. Nimbrung, setelah selesai dengan makanannya.

Vian menoleh ke arah kakeknya yang membetulkan syal hijau yang melingkari lehernya.

“Tidakkah seharusnya kau sudah tahu?”

Wajah Vian mendadak murung. Nafsu makannya seperti hilang ditelan bumi. Dia menelan ludah. Berat sekali.

Lihat selengkapnya