Vian bangun keesokan paginya dengan cara yang paling tak ia suka, tersentak dari tempat tidurnya karena mimpi aneh. Di dalam mimpi, ia sedang berada di halaman rumah di pagi hari, sedang sangat senang karena akhirnya dirinya dapat menggunakan teknik elemen. Namun saat Vian menggunakan elemen angin teknik dasar, tiba-tiba saja ia kehilangan kendali atas kekuatannya. Menyebabkan puluhan koleksi pohon bonsai milik kakeknya, yang dipajang di atas rak dekat dinding pagar rumah, beterbangan kocar-kacir ke udara. Kakeknya berseru-seru meratapi bonsai yang sudah dianggapnya sebagai ‘cucu-cucunya’ yang berputar-putar dan satu per satu remuk bertabrakan dengan benda-benda lain. Vian terbangun setelah jeritan parau seorang perempuan dia dengar dari dalam angin topan yang mengitarinya, dan kakeknya yang sempoyongan menyaksikan cucu-cucunya luluh lantah dan berjatuhan dari angkasa menghantam halaman.
Vian terkejut setengah mati. Ia bangun dengan tengkuk dan kaos putihnya basah oleh keringat.
“AKU KIRA ITU BUKAN MIMPI!” hatinya mencelos.
Vian membelai rambutnya, yang seperti rumput rebah… merengut; kenapa saat-saat terbaiknya—ketika dia dapat melakukan teknik elemen, meski hanya di mimpi—harus hancur karena kekuatannya hilang kendali. Dia mengelap keringat yang menetes di dagu, rasanya aneh bangun dengan keringat seperti orang baru selesai lari maraton.
Vian berpikir, toh dia tak pernah merasakan bagaimana sensasi mengendalikan kekuatan… bukan hanya teknik elemen yang tak dapat ia lakukan, namun juga semua teknik transformasi hira.
Kalau pun dia dapat menggunakan kekuatannya itu… apakah dia yakin tidak akan kehilangan kendali, seperti di mimpinya itu?
Vian men-cih kesal, dirinya seperti dipermainkan oleh takdir.
Dia menggeleng. Rambutnya serabutan. “Jangan berpikiran begitu!” hibur Vian pada dirinya sendiri.
Setelah membuang semua pikiran liarnya, Vian lalu buru-buru bersiap, dia baru sadar berapa banyak waktu yang dilewatkannya untuk termenung.
Vian keluar dari kamarnya, sejenak memandang pintu ruangan di depannya. Itu adalah ruangan tak terpakai yang kini dialih-fungsikan menjadi gudang. Barang-barang di sana sedikit, tidak sampai seperempat ruangan. Lagipula, barang-barang Vian juga muat diletakkannya di dalam kamar, jadi hanya barang yang benar-benar sudah tidak digunakannya, dan terlalu sayang untuk dibuang yang Vian letakkan di ruangan itu, seperti buku Cara Mengendalikan Elemen Milikmu: Menjadi Hebat Dalam Sehari, yang dibelinya dulu—entah atas dasar apa—dan kini terbengkalai karena Vian sama sekali tidak bisa mempraktikkan apapun yang tertulis di buku itu.
Setelah saat yang pendek dirinya mematung, Vian merasakan dorongan dari dalam dirinya: suatu saat, dia pasti akan dapat membangkitkan kekuatannya itu, dan ketika itu terjadi, ia akan menjadi jutsu-sha terhebat!
***
Jam tujuh tepat. Larik sinar matahari telah masuk ke kamar Vian lewat jendela yang kisi-kisinya terlihat usang. Cuaca di luar sedang bagus-bagusnya. Andai dirinya bisa menikmati hari yang indah ini, pikirnya sambil memakai kaos dengan rambut masih basah. Namun, kewajibannya sebagai murid akademi tak lain tak bukan adalah belajar, ia tak boleh membolos begitu saja.
Vian menuruni tangga menuju dapur setelah kesusahan memakai kaosnya, serta terpincang-pincang saat memakai celana. Begitu melewati ambang pintu, dua roti lapis berbentuk segitiga di atas piring langsung disambarnya.
“Pagi…” ucap Vian tak jelas karena mulutnya terganjal roti. Ibunya sudah berdiri di belakang kompor.
“Tumben sekali baru bangun, Vian. Ini sudah jam tujuh. Segeralah sarapan dan,”—ibunya berbalik—“DUDUKLAH KALAU MAKAN!”
Vian, dengan roti di mulutnya, terantuk sekat pembatas di kulkas begitu mendengar ibunya menjerit. Satu potongan tomat terjatuh dari roti lapisnya.
Dengan tergesa ia memasukkan utuh-utuh satu roti lapisnya ke dalam mulut saat ibunya tak melihat. Vian harus mangap lebar saking tebalnya. Dan sekarang mulutnya kepenuhan. Dia terduduk di lantai dan mendorong pintu kulkas hingga tertutup.
“Nah begitu… kau juga harus duduk ketika sedang minum, entah itu susu atau apapun…” Ibunya kembali berbalik menghadap kompor, tanpa menaruh curiga pada Vian yang tercekat, memukul-mukul dadanya sendiri.
Sembari bertumpu berdiri, Vian memaksa menelan sisa semua makanan di mulutnya dalam sekali telan, rasanya begah sekali setelah berhasil melakukannya. Namun tak ada waktu untuk memikirkan itu, karena setelah melemparkan potongan tomat yang terjatuh tadi ke tempat sampah, Vian mengetahui saat ini sudah pukul 07:10. Dia harus bergegas kalau tidak mau terlambat di minggu-minggu terakhirnya di akademi.
Vian tiba-tiba tersedak. Suaranya sekilas seperti gagak tercekik, dan untuk itu ia menenggak sisa susu yang dibawanya.
“Ah—tunggu, Vian,” ibunya tercekat, “rambutmu masih berantakan! DAN HABISKAN DULU SARAPANMU!!!”
“Aku tidak punya waktu sebanyak itu, Ibu. Simpan saja satu potong roti yang sisa itu.”
Vian bergegas berlari ke arah ruang tengah, tapi di tengah jalan, tiba-tiba ia berhenti. Anak itu mengarahkan tatapan serius ke arah ibunya.
“Dan, Ibu,” katanya pelan, “telurnya terlalu kering—pinggirannya terlalu keras.”
Ibunya sontak terperangah. “Ya ampun, benarkah itu!?” Wanita yang punya rambut hitam indah itu langsung menaruh pandang pada telur yang sedang ia goreng.
“Padahal apinya sudah kecil… tapi kenapa bisa…,” gumam ibunya dengan khawatir. Telur itu meriap-riap. Ia berbalik—lagi. “He-hei, Vian! Rambutmu masih berantakan!” Ibunya kembali meneliti telur di wajan setelah itu.
Vian melotot lebai menatap rambutnya sendiri. “Aku bisa menggunakan tanganku!” Ia sedang melakukan pemeriksaan ulang dengan cepat—menepuk-nepuk.
Tak kurang dari satu menit kemudian, sekelebat sosok Vian melintas di depan pintu dapur bersama tas hitam di punggungnya, dan suara pintu dibuka terdengar sepuluh detik kemudian.
“Aku berangkat dulu!” ujar Vian dengan napas terengah.
Di luar, kakeknya sedang menyirami pohon-pohon bonsai miliknya, ketika pintu depan tertutup dengan suara keras.
“Wah wah wah, Vian,” katanya, “udara pagi ini segar sekali bukan?”
Tertahan sambil berlari di tempat, Vian merasa lega bonsai-bonsai yang bentuknya melingkar-lingkar itu masih berada di tempatnya, tidak beterbangan di udara.
“Ah, iya. Itu benar,” jawab Vian cepat. “Kalau begitu, Kakek—aku berangkat dulu!” Dia langsung meloncat ke atas pagar depan dan meloncat sekali lagi untuk menuju atap rumah di depannya.
Kakek Vian mengangguk-angguk. “Hmm-hmm! Itu baru yang namanya semangat.”
Sosok Vian telah menghilang dari atas atap rumah itu sekarang.
Sementara itu, di dapur, ayahnya baru saja selesai membasuh muka, ia sempat melihat Vian yang meloncat ke atap dengan tergesa. Dan itu membuat sudut bibirnya ditarik.
“Sepertinya pembicaraan semalam memberinya semangat.” Sang Ayah mengintip dari jendela. “Anak itu memiliki semangat yang tinggi,” sambungnya.
“Kuharap begitu,” istrinya membalas. Udara di depan penggorengan terlihat bergoyang oleh panas.
“Sejak kecil Vian hanya menginginkan satu hal… dan dia bekerja keras untuk itu—meski sampai sekarang ia belum bisa meraihnya…. Tapi, semangatnya tidak mudah padam. Dia mirip sekali denganmu.”
Zou tersenyum tipis. Dia tak akan menyangkal. “Anak itu… suatu saat… pasti akan berhasil.”
***
Vian benar-benar berpikir dirinya akan terlambat hari ini. Meski tidak jauh, perlu waktu setengah jam jika dirinya pergi dengan berjalan, maka dari itu Vian memilih berlari secepat kucing garong agar dapat sampai di akademi sebelum gerbang ditutup.