Anti sebenarnya tidak pernah benar-benar percaya ada cinta pada pandangan pertama. Baginya, cinta itu harus dipikirkan. Harus masuk akal. Harus punya masa depan.
Sampai dia melihat Vio.
“Masih dingin, ya, anaknya,” bisik Rani di samping Anti sambil melirik ke arah laki-laki yang sedang duduk santai di ujung kantin.
Anti ikut melirik. Dan entah kenapa… jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Vio duduk sendirian. Tangannya sibuk dengan ponsel. Wajahnya datar, seperti orang yang tidak peduli dengan dunia.
Tidak tertawa. Tidak ngobrol. Tidak ikut bercanda seperti yang lain.
Dingin. Cuek. Jauh.
Dan anehnya… itu menarik.
“Gue suka yang begitu,” kata Anti tiba-tiba.
Rani langsung menoleh cepat. “Yang mana? Yang nggak punya ekspresi itu?”
“Iya.”
“Serius lo? Itu bukan cool, Anti. Itu tanda-tanda kurang vitamin sosial. Makhluk hidup apa kulkas berjalan?”
Anti mendengkus pelan. “Lo nggak ngerti.”
“Gue ngerti. Lo lagi halu.”
Anti tidak membalas. Tatapannya masih tertuju pada Vio.
Di kepalanya, entah sejak kapan, terbentuk pemikiran aneh:
Cowok dingin itu pasti setia.
Tidak banyak bicara. Tidak banyak gaya. Tidak banyak perempuan.
Sederhana.
Masuk akal.
Atau setidaknya… terdengar masuk akal.
“Namanya Vio, kan?” tanya Anti.
“Iya. Teman sekelas kita dulu waktu kelas dua.”
“Oh…”
Anti pura-pura biasa saja, padahal pikirannya langsung sibuk.
Teman lama.
Anak orang kaya.
Dan… dingin.
Kombinasi yang, entah kenapa, terasa seperti jackpot di matanya.
**
Hari itu, Anti pulang dengan pikiran yang tidak biasa.
Biasanya dia memikirkan tugas kuliah, uang jajan yang menipis, atau ibunya yang selalu mengingatkan untuk cepat lulus.
Tapi hari itu… yang ada di kepalanya cuma satu: Vio.
“Ngapain sih gue mikirin dia?” gumam Anti sambil membuka pintu rumah.
Ibunya yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.
“Mikirin siapa?”
Anti langsung tersentak. “Eh—nggak! Nggak siapa-siapa!”
Ibunya menyipitkan mata. “Kalau ngomong sendiri sambil senyum-senyum gitu biasanya mikirin cowok.”
Anti menghela napas panjang. “Ibu ini… detektif atau orang tua, sih?”
“Keduanya,” jawab ibunya santai tanpa merasa bersalah.
Anti melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri di sebelahnya.