Kalau menurut Anti, ada dua jenis laki-laki di dunia ini.
Yang pertama: laki-laki yang berusaha keras demi masa depan.
Yang kedua: laki-laki yang… tidak perlu berusaha keras, karena masa depannya sudah tersedia.
Dan Vio, tanpa ragu, dimasukannya ke kategori kedua.
“Lo yakin dia nggak kerja?” tanya Rani sambil menyeruput es teh di kantin.
“Yakin.”
“Terus duitnya dari mana?”
Anti mengangkat bahu santai. “Ya dari orang tuanya, lah. Kan keluarganya punya ruko empat pintu.”
Rani berhenti minum. “Empat pintu?”
“Iya.”
“Empat pintu itu banyak, ya?”
Anti menoleh. “Ya… lumayan lah.”
“Lumayan apaan. Itu udah lebih dari Indoapril,” gumam Rani.
Anti tersenyum kecil. Entah kenapa, setiap membicarakan Vio, ada rasa bangga yang tidak bisa ia sembunyikan.
Padahal… mereka bahkan belum dekat.
“Gue tuh, ya,” lanjut Anti pelan, “nggak masalah cowok santai. Yang penting dia punya pegangan hidup.”
Rani mengangkat alis. “Pegangan hidup atau pegangan warisan?”
Anti langsung nyengir. “Ya… dua-duanya boleh.”
Rani menggeleng pelan. “Gue takutnya lo salah.”
Anti diam sebentar. Lalu menjawab ringan, “Nggak mungkin.”
Padahal… dari awal, semuanya sudah terlihat tidak biasa.
**
Siang itu, seperti sudah jadi kebiasaan baru, Anti kembali melirik ke arah sudut kantin.
Dan seperti biasa—Vio ada di sana.
Duduk di tempat yang sama. Dengan posisi yang sama. Dan… aura “jangan ganggu gue” yang sama.
“Dia tuh, ya,” bisik Rani, “kayak NPC.”
“Hah?”
“Kayak karakter game yang nggak bisa diajak interaksi banyak.”
Anti menahan tawa. “Lo jahat banget kalo ngatain orang.”
“Tapi bener, kan?”
Anti tidak menjawab. Ia justru memperhatikan Vio lebih lama. Ada sesuatu yang berbeda.
Di saat semua orang sibuk ngobrol, bercanda, atau ribut soal tugas—Vio terlihat… tenang.
Seolah dia tidak perlu terburu-buru. Seolah hidup tidak menuntut apa-apa darinya.
Dan bagi Anti, itu terlihat… nyaman.