Hujan turun sejak sore, dan seperti biasa, Jakarta menjawabnya dengan macet.
Arga Nareswara menyandarkan kepala ke kaca jendela ambulans yang berembun, menghitung tetes air yang meluncur di sisi luar. Sebelas. Dua belas. Tiga belas. Kebiasaan lama. Angka membuat pikirannya tetap di tempat, dan malam ini ia membutuhkannya: sudah tiga hari ia tidur kurang dari empat jam sehari.
"Kamu hitung lagi," kata Dimas tanpa menoleh dari kemudi.
"Tidak."
"Bibirmu gerak, Ga."
Arga menghela napas dan membiarkan senyum kecil lolos. Di antara semua orang yang pernah menjadi partner jaganya, hanya Dimas yang memperhatikan hal-hal seperti itu. Dimas Prakoso, tiga puluh tahun, rambut yang selalu terlihat baru bangun tidur, dan kemampuan aneh untuk membuat suasana paling tegang di ruang gawat darurat terasa sedikit lebih ringan. Di dasbor, di antara radio dan tumpukan formulir, ada gelas kopi kertas yang sudah dingin. Milik Arga. Dimas yang membelinya satu jam lalu, tanpa diminta.
"Minum," kata Dimas. "Kamu kelihatan seperti orang yang baru dibangkitkan."
"Itu kopimu yang bikin begitu."
"Itu kopi terbaik di seluruh Bekasi."
"Itu kopi sachet, Dim."
"Kopi sachet yang dibuat dengan cinta."
Radio di dasbor berderak.
"Unit tujuh, unit tujuh. Kecelakaan tunggal di jalan lingkar, bawah flyover arah timur. Minibus terguling, korban terjepit. Kemungkinan dua orang di dalam. Pelapor mencium bau bensin. Polisi lalu lintas masih di jalan."
Senyum Dimas hilang dalam satu kedipan. Ia meraih mikrofon. "Unit tujuh menuju lokasi. Lima menit."
Sirene meraung. Mobil di depan mereka menyingkir satu per satu, ragu-ragu seperti biasa, lampu rem merah memantul di aspal basah. Arga menahan pegangan di atas pintu saat Dimas membanting setir ke bahu jalan. Ia tidak menghitung apa-apa lagi. Tidak ada gunanya. Sesuatu di dalam dadanya sudah mulai mengencang, perasaan yang ia kenal terlalu baik: seperti tangan dingin yang pelan-pelan menggenggam tulang rusuknya.
Bukan firasat. Firasat adalah kata yang dipakai orang lain untuk sesuatu yang lebih ringan.
Minibus itu tergeletak di sisi atapnya, di bawah bayangan flyover, seperti hewan besar yang tumbang. Lampu depannya masih menyala miring, menerangi hujan yang jatuh lurus dalam garis-garis perak. Kaca berserakan di aspal. Bau bensin terasa tajam bahkan sebelum Dimas mematikan mesin.
Tiga belas orang sudah berdiri mengerumun di tepi jalan. Beberapa memegang ponsel dengan senter menyala. Seorang bapak berjaket ojek daring mencoba menarik pintu belakang, dan Arga berteriak dari jauh, "Pak, jangan! Mundur! Tolong semuanya mundur!"
Bapak itu mundur dengan tangan terangkat. Arga turun dan sepatunya langsung terendam genangan.
Di sebelahnya, Dimas sudah membuka pintu belakang ambulans dan menarik tas medis. "Aku ke sisi sopir," katanya cepat. "Kamu cek bagian belakang."
"Oke."
Mereka berjalan cepat menuju bangkai minibus. Sepuluh langkah. Sembilan. Delapan.
Lalu suara hujan menghilang.
Bukan pelan-pelan, bukan memudar. Hujan berhenti begitu saja, seolah seseorang menarik sakelar. Yang tersisa hanya denging halus di telinga kirinya, dan tekanan di belakang mata yang ia kenal sejak berusia dua belas tahun.
Dunia retak.
Garis-garis tipis muncul di udara di depan minibus, seperti kaca yang ditekan dari belakang. Pemandangan di depannya terbelah menjadi lapisan-lapisan transparan yang saling menumpuk. Arga sudah berhenti mencoba melawannya sejak lama. Ia hanya berdiri, membiarkan semuanya masuk.
Lapisan pertama.
Dimas meraih gagang pintu sopir. Menarik. Pintu terbuka dengan jeritan logam. Bodi minibus bergeser setengah jengkal.
Atap penyok menimpa jok belakang. Suaranya kecil, seperti ranting patah. Gadis kecil di sana tidak menjerit. Itu yang paling buruk. Ia hanya memandang Arga dengan mata terbuka lebar, lalu mata itu tidak melihat apa-apa lagi.
Dimas berteriak. Arga mendengar namanya dipanggil, dari jauh sekali.
Lapisan kedua.
Arga merangkak ke jendela belakang lebih dulu. Menarik gadis itu keluar. Berhasil. Tapi di belakangnya Dimas masih berada di sisi sopir, dan kabel aki memercikkan bunga api kecil ke genangan bensin.
Api tidak meledak. Api menyebar, rendah dan cepat, seperti binatang yang tahu ke mana harus pergi. Panas menjilat wajah Arga sebelum ia sempat berbalik.
Lapisan ketiga.
Mereka menunggu pemadam kebakaran. Tujuh menit. Hujan menderas. Sopir berhenti bernapas di menit kelima. Dimas mengguncang bahunya sambil menangis, dan gadis di jok belakang masih bernapas, pelan, pelan, lalu tidak lagi.
Lapisan keempat.