"Afwan, Ukhti... lembaran kalamullah ini terjatuh di dekat undakan. Semoga tidak ada yang terinjak." — Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak 1: Bayang-Bayang Marmer dan Geometri yang Retak
⋆⋅☆⋅⋆
Matahari Syawwal yang sekarat menumpahkan cairan tembaga panas ke atas bentangan kubah hijau Masjid Agung Al-Furqan. Di pelataran barat yang membentang luas berhadapan dengan napas asin Teluk Lampung, Viqar Ghazanfar mematung di atas ubin marmer Carara yang dingin. Di tangannya, selembar cetak biru berskala satu banding lima puluh bergetar pelan, terhimpit oleh cengkeraman jemarinya yang liat. Angin selatan mendesau kencang dari arah pesisir Teluk Betung, menyusup di sela-sela jubah katun abu-abu yang dikenakannya, meniupkan aroma khas laut yang berpadu dengan wangi dupa gaharu dari ruang utama salat.
Sepuluh tahun telah berselang sejak dentam perancah besi itu meremukkan tulang rusuk gurunya, namun bagi Viqar, setiap kali meteran baja di pinggangnya beradu dengan lantai batu, bunyi gemerincing logam itu selalu terdengar seperti ratapan sekarat. 'Toleransi kemiringan saluran pembuangan ini tidak boleh melebihi dua milimeter, Pak Subhan,' ucap Viqar dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin, nyaris ditelan oleh desau angin senja. Suaranya serak, mencerminkan tenggorokan yang terbiasa kering oleh zikir dan malam-malam tanpa tidur.
Pak Subhan, pria paruh baya bertongkat dengan janggut memutih rapi, menyipitkan mata menatap garis-garis tinta hitam di atas kertas kalkir milik Viqar. 'Nak Viqar, ketelitianmu sungguh menyerupai almarhum seniormu dulu. Namun entah mengapa, setiap sudut air mancur yang kau gambar ini tampak begitu sunyi. Seolah-olah kau tidak sedang merancang tempat wudhu bagi orang-orang yang bersuka cita menyambut hari kemenangan, melainkan sebuah mihrab sunyi untuk meratapi kehilangan yang abadi.'
Dada Viqar berdenyut ngilu. *Kehilangan yang abadi.* Kalimat itu menghantam relung kesadarannya bagai palu godam. Ia menatap garis-garis simetris oktagonal di hadapannya—sebuah rancangan geometri suci yang ia susun dengan obsesi tanpa cela. Geometri adalah satu-satunya benteng yang menjaganya dari kegilaan. Dalam garis lurus, derajat siku-siku, dan hukum gravitasi, ada kepastian yang tidak pernah berkhianat; tidak seperti nafsu manusia yang rapuh, tidak seperti sepasang mata yang lalai sepuluh tahun silam di Bantul ketika pasak kayu perancah tergelincir dari pengawasannya.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak 2: Pusaran Angin dan Ilusi Fragmen
⋆⋅☆⋅⋆
Tiba-tiba, tanpa aba-aba dari langit yang menggelap, pusaran angin siklonik kecil menghantam selasar. Hembusannya menyapu debu kapur renovasi dan mengguncang tirai hijau lumut pembatas area akhwat yang tergantung di antara pilar-pilar granit raksasa. Suara derit kain tersentak keras. Dan di detik berikutnya, pandangan Viqar menangkap pemandangan yang membuat napasnya tertahan di kerongkongan.
Dari balik pembatas kayu berukir motif sulur Lampung, puluhan lembaran kertas bertebaran liar ke udara. Mereka melayang, berputar-putar di bawah langit senja laksana kawanan merpati putih yang dihantam badai tak kasat mata. Lembaran-lembaran itu bukan kertas biasa. Saat salah satu helai tersapu melintas di depan wajahnya, cahaya tembaga matahari senja memantulkan kilau tinta zafaran keemasan yang menari di atas serat kertas dluwang kuno yang tebal. Kertas hafalan mushaf.
*Gemerisik itu... mengapa suaranya begitu mirip dengan lembaran kitab milik Ustadz Salman yang tercecer dalam genangan darah di lantai beton sepuluh tahun silam?* Pikiran bawah sadar Viqar menjerit. Aliran memorinya terpecah tak beraturan. Bau bensin mesin derek, jerit sirine ambulans di jalanan Yogyakarta yang basah oleh hujan November, dan kini desau angin pesisir Bandar Lampung menyatu menjadi simfoni histeria yang menindih pelipisnya. Keringat dingin merembas di batas rambutnya yang dipangkas pendek.
Di kejauhan, di dekat undakan tangga pualam selasar akhwat, sesosok bayangan berbalut khimar abu-abu gelap tampak bergerak tergesa. Sosok itu membungkuk, berusaha meraih lembaran-lembaran yang tersapu kian menjauh ke tengah pelataran terbuka. Keanggunannya yang terkepung kepanikan menciptakan kontras yang menyayat hati di tengah keheningan masjid agung yang mulai lengang.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak 3: Jejak Khat di Bawah Kaki