Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Sketsa di Pelataran

"Menjaga kalamullah dalam dada itu mudah jika dihafal, Ralia. Yang berat adalah menjaganya dalam akhlak dan langkah kaki kita sehari-hari." — Abah Syafi'i

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak I: Sketsa Bayang di Antara Desir Tiner dan Getar Jati

⋆⋅☆⋅⋆

Latar & Waktu: Studio Arsitektur Hadhariyah, Lorong Jagalan, Kotagede | Pukul 15.45 WIB. Fokus Psikologis: Kerapuhan ego intelektual Viqar saat bergulat dengan trauma kegagalan masa lalu dan bayang sosok penjaga mushaf. Simbolisme:Cangkir Porselen Retak Berisi Ampas Teh Melati (Keindahan yang tetap bertahan dan memuat esensi murni meski dinding jiwanya telah retak oleh benturan takdir.)

Angin basah sisa gerimis ashar merayap pelan melalui kisi-kisi jendela kayu jati di lantai dua Studio Hadhariyah. Udara Kotagede petang itu berbau tanah liat basah, minyak tiner, dan sisa pembakaran arang perak dari bengkel kriya di seberang gang sempit Jagalan. Di atas meja gambar miring selebar satu setengah meter, Viqar Al-Ghazi mematung. Jemarinya yang biasanya tangkas menjepit rapido rotring kini terhenti di atas kertas kalkir berukuran A0.

Mata abu-abu kecokelatannya terpaku pada selembar kertas kalkir yang telah terkoyak sedikit di sudut kiri bawah—sebuah sobekan kecil yang tak sengaja tersenggol siku, namun mengirimkan sentakan aneh ke pangkal ulu hatinya. Setiap kali matanya menatap sobekan itu, memori tak diundangnya melesat kembali ke pelataran Masjid Pathok Negoro sepekan lalu.

Kala itu, angin puting beliung mini menggulung serambi masjid tua tersebut. Di tengah riuh peziarah yang berlari menyelamatkan diri, seorang gadis berkain kerudung abu-abu gelap berlutut di atas ubin marmer dingin. Bukan keselamatan dirinya yang ia lindungi, melainkan lembaran-lembaran mushaf berhuruf jawi kuno yang terlepas dari jilidannya. Gadis itu menangkupkan kedua lengannya, menahan hempasan badai debu dengan tubuh ringkihnya agar tidak ada sebutir kerikil pun yang mencemari ayat suci yang berserakan.

Viqar ingat betul degup dadanya saat itu. Ia yang terlatih mengukur kekuatan struktur beton bertulang tiba-tiba merasa lumpuh di hadapan kerapuhan yang begitu agung. Gadis itu tidak menjerit, tidak panik. Bibirnya basah melafalkan istighfar yang bergetar lembut, dan sepasang matanya yang teduh menatap kertas mushaf itu seakan-akan ia sedang mendekap bayi yang terluka.

Kini, di studio yang hening, Viqar mengembuskan napas panjang. 'Kenapa bayangan itu tak mau pergi?' gumamnya lirih dalam batin. Monolognya bergulat dengan rasa bersalah yang mengakar. Tiga tahun lalu di Istanbul, ketika maket kubah masjid rancangannya ambruk dalam pengujian seismik laboratorium universitas karena ia terlalu congkak mengabaikan elastisitas tanah basah, ia bersumpah tidak akan pernah lagi membiarkan 'perasaan' menyusup ke dalam kalkulasi garisnya. Namun petang ini, seluruh rumus geometri fraktal yang ia hafal mendadak bisu. Garis yang ia tarik selalu berujung pada lengkungan yang menyerupai cara tangan gadis itu melindungi lembar mushaf tempo hari.

"Kita menghabiskan bertahun-tahun belajar mengukur ketahanan batu dan baja terhadap gempa, namun kita tak pernah siap saat satu hembusan akhlak meruntuhkan benteng kesombongan di dada sendiri."

**Viqar Al-Ghazi (Monolog Batin)**

*Subteks:* Penyerahan diri seorang intelektual muda yang menyadari batas ilmu duniawinya di hadapan keindahan ruhani.

*Retrospeksi:* Kilas memori kelam di Istanbul saat simulasi kubah beton runtuh karena kelalaian struktur mikro, menyadarkan Viqar bahwa keangkuhan matematis tanpa berkah ilahi hanyalah keruntuhan yang tertunda.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak II: Tajamnya Kelakar Farhan dan Subteks yang Terkunci

⋆⋅☆⋅⋆

Latar & Waktu: Ruang Tengah Studio Arsitektur | Pukul 16.20 WIB. Fokus Psikologis: Mekanisme pertahanan diri (defensive rationalization) Viqar saat motif terdalamnya diuji oleh sahabat yang paling mengenalnya. Simbolisme: Jangka Logam Berkarat Tipis di Sudut Meja (Alat pengukur jarak presisi yang mulai kehilangan ketajamannya karena goresan emosi yang tak terprediksi rumus.)

⋆⋅☆⋅⋆

Pintu geser kayu studio berderit terbuka, memutus hening yang pekat. Farhan Mahendra melangkah masuk dengan dua cangkir enamel bermotif loreng hijau yang mengepulkan aroma kopi tubruk nasgitel pekat. Suara tawanya yang renyah langsung membuyarkan lamunan Viqar.

'Bagus sekali, Tuan Arsitek Agung Kotagede,' celetuk Farhan seraya meletakkan cangkir ke tatakan kayu dengan denting pelan. 'Sudah tiga puluh menit aku memperhatikanmu dari balik partisi kaca. Pensilmu tidak bergerak barang satu milimeter pun, tapi matamu menatap kubah di kertas kalkir itu seperti seorang pujangga Arab klasik memandang rembulan di gurun Najd. Ada apa, akhi? Apakah kalkulasi struktur portal baja kita kalah memikat dibanding kenangan gadis mushaf kemarin?'

Viqar mendongak, matanya menyipit dengan ketenangan yang dipaksakan. 'Jaga lisanmu, Farhan. Aku sedang menimbang sudut kemiringan talang air agar limpasan hujan tidak membasahi lantai selasar barat. Kotagede berangin kencang saat musim pancaroba.'

'Alasan teknik sipil yang sangat fasih, tapi sama sekali tidak meyakinkan hatiku,' timpal Farhan sembari menarik kursi putar beroda. Nadanya berubah dari kelakar santai menjadi lebih tajam dan menelisik. 'Aku mengenalmu sejak kita tidur di lantai asrama santri Tebuireng sepuluh tahun lalu, Viqar. Kamu hanya melamun seperti orang linglung kalau dua hal terjadi: saat kamu merasa bersalah pada Tuhan, atau saat kamu menemukan sesuatu yang melampaui logika akalmu. Kemarin lusa kamu menolak proyek renovasi hotel butik bintang empat di Malioboro yang nilainya ratusan juta, lalu malah bersikeras mengambil sayembara rancang-bangun komplek sosial-madrasah di pelosok Purbayan ini secara cuma-cuma. Jangan katakan ini cuma kebetulan.'

Viqar menatap uap kopi yang menari di udara temaram. Tangannya mengepal pelan di atas penggaris baja. 'Farhan... kamu tidak melihat bagaimana jemari itu gemetar menahan kertas mushaf yang basah. Di zaman ketika orang-orang menginjak kehormatan agama demi tepuk tangan manusia, ada jiwa yang rela tubuhnya terhempas debu hanya agar selembar firman tak terinjak sandal peziarah. Itu bukan sekadar pemandangan, Farhan. Itu tamparan untuk kita yang mengaku merancang rumah ibadah tapi isi kepala kita masih penuh tarif per meter persegi.'

Farhan terdiam sesaat, sorot matanya melembut, menyadari bahwa di balik ketus dan dinginnya sikap Viqar, ada luka kerohanian yang sedang berusaha disembuhkan melalui khidmah ini.

"Gedung itu cuma tumpukan bata dan semen mati, Viqar. Yang membuatnya diberkahi bukanlah kubah emasnya, melainkan apakah orang yang paling lemah dan paling papa merasa dimuliakan saat menjejakkan kaki di dalamnya."

**Farhan Mahendra**

*Subteks:* Mengingatkan esensi dasar arsitektur Islam: kemaslahatan manusia (jalbul mashalih) melampaui estetika visual semata.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak III: Gerimis di Bilik Rumah Quran Al-Ikhsan

⋆⋅☆⋅⋆

Latar & Waktu: Selasar Belakang Rumah Quran Al-Ihsan, Purbayan | Pukul 16.45 WIB. Fokus Psikologis: Luka kehilangan masa kecil Ralia yang beresonansi dengan tangisan santri yatim, melahirkan ketabahan tanpa pamrih. Simbolisme: Peci Rajut Putih yang Jahitannya Terurai di Pangkuan (Cinta seorang ayah yang tak lagi berwujud raga, menyisakan serat-serat kerinduan yang terus dipegang anak yatim.)

Satu kilometer ke arah timur dari studio Viqar, di balik tembok tebal benteng cepuri yang berlumut, suara rintik hujan menimpa talang seng Rumah Quran Al-Ihsan bagai tabuhan rebana perlahan. Di serambi berlantai terakota merah yang dingin, Ralia Syakila duduk bersila dengan punggung tegak bersahaja. Di hadapannya, seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun bernama Zaid menundukkan kepala begitu dalam hingga dahinya nyaris menyentuh meja kayu rehal.

Butir-butir air mata membasahi halaman Surah Ad-Duha yang terbuka. Isak tangis anak kecil itu tertahan di tenggorokan, membuat bahu kurusnya berguncang hebat.

'*Alam yajidka yatiiman fa-aawaa...*', suara Zaid tercekat. Ia tak sanggup melanjutkan ayat keenam itu. Tangannya yang mungil meremas erat peci rajut putih pudar di pangkuannya—peci peninggalan ayahnya yang wafat di ruang isolasi rumah sakit dua tahun silam tanpa sempat ia peluk untuk terakhir kali.

Ralia tidak menyuruhnya berhenti menangis. Ia tidak melontarkan kalimat klise yang menuntut ketegaran palsu. Dengan gerak perlahan yang penuh takzim, Ralia mengulurkan tangannya yang tertutup manset kain gamis, lalu menyeka lelehan air mata di pipi Zaid menggunakan saputangan katun beraroma mawar kesturi.

Di dalam dadanya sendiri, ngilu yang teramat purba kembali berdenyut. Kilasan ombak Pantai Glagah lima belas tahun lalu—suara sirene ambulans yang meraung di kejauhan, kabut garam yang pedih di mata, dan rasa hampa ketika menyadari bahwa dunia kini harus ia arungi tanpa ada lagi tangan kokoh yang menjaganya—kembali menyergap. Ralia tahu persis dinginnya ketiadaan seorang ayah.

Lihat selengkapnya