"Ya Rabb, betapa indahnya seorang hamba yang kekuatan fisiknya digunakan untuk memayungi mereka yang lemah... Lindungilah dia."— Ralia Syafiqah (Monolog Batin)
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
DALIL SYAR'I:
"Ar-roohimuuna yarhamuhumur-Rahmaan, irhamuu man fil-ardhi yarhamkum man fis-samaa."
Artinya: "Orang-orang yang menyayangi sesama niscaya akan disayangi oleh Dzat Yang Maha Pengasih. Sayangilah siapa pun yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu." (HR. At-Tirmidzi no. 1924 (Hadits Hasan Shahih))
Gema khotbah dari mimbar utama Masjid Istiqlal masih bergetar di rongga dadaku, terpantul pada lengkungan kubah baja nirkarat berdiameter empat puluh lima meter yang megah menjulang ke langit Jakarta. Suara sang ustadz berbicara tentang "Membangun Rumah Tangga Pembawa Surga"—sebuah tema yang bagi ribuan jamaah perempuan di sekitarku terasa bak madu surga, namun bagi jiwaku sendiri terasa seperti sembilu yang digoreskan ke atas luka parut lama yang belum sepenuhnya mengering.
Di bawah pilar-pilar silindris raksasa yang dingin dilapisi marmer putih, aku menarik ujung khimar abu-abuku lebih rapat. Udara lembap Jakarta yang menggantung sejak pagi akhirnya pecah menjadi gemuruh halilintar. Dari celah kisi-kisi angin selasar barat, aroma ozon dan debu aspal yang terbakar perlahan tersapu oleh serbuan petrichor yang menusuk hidung. Hujan lebat turun bukan dengan ritme bersahabat, melainkan bagai tirai air bah yang hendak menenggelamkan keangkuhan metropolitan.
"Suami yang sejati bukanlah dia yang pandai merangkai seribu madah cinta di ruang tamu," suara khatib menggema melintasi speaker berdaya tinggi, memantul di antara marmer dingin. "Melainkan dia yang pundaknya siap menanggung tempias badai agar orang-orang di bawah perlindungannya tetap kering dan bernapas dengan tenang."
Kalimat itu menghantam ulu hatiku. Secara otomatis, mekanisme pertahanan jiwaku menyeret ingatanku mundur dua tahun silam ke sebuah restoran berpendingin udara di kawasan Senopati. Di hadapanku kala itu, seorang lelaki berjas rapi yang digadang-gadang keluarga sebagai jodoh terhormat, menatapku dengan mata yang menuntut kepatuhan mutlak sembari mengecilkan impian kemanusiaan yang kutitipkan di panti asuhan peninggalan ayah. 'Dunia pernikahan tidak butuh idealisme sosialmu yang merepotkan itu, Ralia,' bisiknya dingin sore itu. 'Kamu cukup patuh di belakangku.' Saat aku menolak menyerahkan sertifikat tanah wakaf ayah untuk dijaminkan pada bisnisnya, pertunangan itu dibatalkan dalam hitungan detik lewat pesan singkat yang hambar. Luka itu tidak berdarah, tetapi menanamkan racun sinisme: bahwa semua laki-laki di kota ini hanyalah predator yang membungkus syahwat kekuasaan dengan jubah keagamaan.
"Allahu Akbar..." seruan salam penutup membuyarkan kilasan traumatis itu. Kajian akbar berakhir. Ribuan manusia berhamburan laksana semut yang sarangnya diguyur air. Di selasar barat, kepanikan kecil merayap. Hujan Jakarta pukul setengah satu siang itu menggila. Air talang meluap, menciptakan tirai air terjun buatan yang menghempaskan angin basah ke lantai marmer. Jamaah yang membawa tas kulit mahal beringsut mundur, takut sepatu atau gamis mewahnya terciprat lumpur halaman parkir.
Aku berdiri mematung di dekat pilar nomor sembilan belas, menenteng payung lipat kecil yang kurasa takkan sanggup menahan kebrutalan badai ini. Mataku yang sedang menyapu genangan air di pelataran tiba-tiba terpaku pada sesosok tubuh di kejauhan trap anak tangga.
Seorang kakek tua mengenakan peci putih kusam dan baju koko yang telah menguning sedang berdiri gamang. Kaki kanannya tampak kaku, diseret dengan bantuan tongkat kayu berkepala kuningan yang sudah berkarat. Di hadapannya, genangan air meluap setinggi mata kaki, memutus jalur aman menuju deretan mobil jemputan dan taksi daring. Kakek itu gemetar, terombang-ambing oleh angin kencang yang menyapu selasar luar. Orang-orang melewatinya begitu saja—sebagian sibuk menutupi kepala dengan jaket, sebagian berebut tempat berteduh di bawah naungan kanopi.
Sebelum rasa iba dalam dadaku sempat menggerakkan kakiku, seorang pemuda berkelebat dari arah tempat penitipan sandal.
Langkahnya panjang dan mantap, namun tidak tergesa yang menimbulkan kegaduhan. Ia mengenakan kemeja katun hitam polos yang lengannya tergulung rapi hingga siku dan celana kain kelabu tua yang disingsingkan di atas mata kaki. Di tangan kanannya tergenggam sebuah payung hitam bergagang kayu melengkung berukuran besar—tipe payung kokoh yang biasa dipakai petugas keamanan.
Tanpa ragu sedetik pun, pemuda itu menjejakkan kakinya langsung ke dalam kubangan air keruh yang dingin. Cipratan air mencoreng celananya, namun wajahnya sama sekali tidak menampakkan keterkejutan atau rasa jijik. Ia mendekati sang kakek dengan tubuh yang serta merta merendah—sebuah gestur ketawadhuan yang tak mungkin dipalsukan oleh kursus kepribadian mana pun.
"Mari, Kek... pelan-pelan saja," suaranya terdengar lembut menembus gemuruh rintik hujan, menggunakan intonasi khas Jakarta yang santun, tertata, tanpa nada menggurui. "Biar saya yang di sebelah kiri. Angin dari arah stasiun Juanda agak kencang. Pegang lengan jaket saya erat-erat, marmernya licin sekali."
Kakek itu mendongak, matanya yang rabun tampak basah oleh kelegaan yang tak terlukiskan. Tangan rentanya yang keriput mencengkeram lengan pemuda itu. Dan di sanalah, di bawah mataku yang tak berkedip, keajaiban akhlak itu terbentang dengan keindahan yang mengoyak-ngoyak keangkuhan batinku.
Pemuda itu memiringkan tangkai payung hitamnya hampir sembilan puluh derajat. Seluruh kubah payung itu ia dedikasikan penuh menutupi kepala dan punggung sang kakek yang ringkih. Akibatnya sangat nyata dan menyakitkan secara fisik: air hujan yang tercurah deras dari langit dan tempias tajam dari atap selasar menghantam langsung bahu kanan, punggung, dan dada pemuda itu. Dalam hitungan detik, kemeja hitamnya basah kuyup melekat pada bidang tubuhnya yang tegap. Air mengalir dari ujung rambutnya, membasahi pelipis dan garis rahangnya yang kokoh, namun kedua tangannya tetap diam laksana tiang pancang—kokoh memegangi payung dan memapah langkah kaki sang kakek yang tertatih menembus banjir selasar.
Tenggorokanku tercekat. Udara dingin Istiqlal mendadak terasa hangat membakar dadaku. Selama dua puluh enam tahun hidupku di belantara Jakarta, aku terbiasa melihat laki-laki yang memamerkan kemurahan hati demi pujian atau demi menaklukkan mangsa. Namun pemuda ini... ia bahkan tidak melirik ke kanan atau ke kiri. Matanya sepenuhnya tertuju pada batu marmer di bawah kaki sang kakek, memastikan tidak ada lumut licin yang mencelakai manusia tua yang bukan siapa-siapanya itu.
'Ya Rabb,' bisik jiwaku dalam jerit monolog yang paling sunyi, kedua tanganku tanpa sadar meremas ujung tas rajutku, 'betapa indahnya seorang hamba yang kekuatan fisiknya digunakan untuk memayungi mereka yang lemah... Jika di dunia ini masih ada lelaki dengan ketulusan yang sebakoh ini, lindungilah dia dari kebinasaan syahwat dan kejamnya dunia.'
Mereka tiba di samping sebuah mobil tua jenis Suzuki Karimun hijau lumut yang mesinnya menyala tersengal. Sang supir, seorang pria paruh baya, bergegas membuka pintu belakang. Namun ketika kakek itu hendak membungkuk masuk, ujung tongkat kayunya tersangkut pada bibir pintu bawah. Tubuh tuanya limbung. Viqar—yang saat itu belum kuketahui namanya secara pasti selain sosok bayangan samar di kajian pekan lalu—dengan refleks luar biasa menahan pinggang sang kakek dengan lengan kirinya, menopangnya bagai perisai baja.
Kakek itu selamat terduduk di jok mobil. Tetapi tas kanvas kumal yang disandangnya terlepas dari pundak, jatuh menghantam bibir selasar basah. Resletingnya yang rusak terbuka lebar, memuntahkan isinya ke atas lantai marmer yang digenangi air hujan: beberapa butir obat asma, kacamata retak, dan sebuah map karton tebal berwarna cokelat tua berikatkan tali merah.