"Wahai Pembolak-balik hati, jika getaran ini membawaku lalai dari mengingat-Mu, maka cabutlah. Namun jika ia adalah jalan menuju ridha-Mu, bimbinglah langkahku lewat jalan syariat-Mu."— Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
--- Babak I: Derak Waktu & Sembilu Wudhu ---
Setting: Kamar Loteng Viqar, Dago Giri, Bandung Utara | Waktu: Dini Hari, 03.15 WIB | POV: Viqar Ghazanfar. Nada Emosi: Dingin, Mencekam, Kontemplatif
⋆⋅☆⋅⋆
Denting bandul jam dinding kayu jati peninggalan kakek berdentang tiga kali, disusul satu ketukan pendek yang bergetar ngilu di dinding kamar loteng Dago Giri. Tepat pukul 03.15 WIB. Udara pegunungan Bandung Utara malam itu laksana sembilu; ia menyelinap tanpa permisi melalui sela-sela kusen kayu yang mulai renggang, membawa uap basah pepohonan pinus dan kabut pekat yang menempel tebal di kaca jendela.
Viqar Ghazanfar terhenyak dari tidurnya yang gelisah. Keringat dingin merembes di keningnya, berkontras aneh dengan hawa beku yang menusuk tulang rusuk. Bayangan masa lalu kembali merajam alam bawah sadarnya: kenangan delapan tahun silam ketika mendiang kakaknya, Reyhan, tewas dalam keputusasaan setelah terjerat asmara terlarang yang menodai kehormatan keluarga dan meruntuhkan fondasi pesantren mereka. Trauma itu adalah hantu tak kasatmata yang selalu mengintai setiap kali degup aneh mengetuk pintu dadanya.
Ia melangkah gontai menuju pancuran wudhu di sudut luar kamar. Ketika air dingin menyentuh kulit mukanya, Viqar tercekat. Dinginnya bukan sekadar menusuk daging, melainkan merontokkan segala khayalan fana (*thulul amal*) yang sejak senja tadi berputar tanpa kendali di benaknya. Nama Ralia Humaira—gadis santun berpembawaan tenang yang baru dikenalnya dalam forum preservasi manuskrip Sunda Kuno—telah menggetarkan sudut terdalam jiwanya. Namun bagi Viqar, getaran yang mendahului akad adalah ancaman maut bagi kemurnian tauhidnya.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
--- Babak II: Ghadhul Bashar di Pelataran Braga ---
Setting: Pelataran Pustaka Kuno, Jalan Braga, Bandung (Flashback Senja Hari) | Waktu: Dua Hari Sebelum Munajat | POV: Viqar Ghazanfar & Ralia Syafiqah. Nada Emosi: Tegang, Menahan Gejolak, Beradab
⋆⋅☆⋅⋆
Pikiran Viqar melayang kembali ke pertemuan dua hari lalu di pelataran perpustakaan arsip kolonial di Jalan Braga. Hujan rintik membasahi aspal temaram kota kembang saat Ralia mengembalikan naskah terjemahan Mushaf Kuno Priangan kepadanya. Angin lembap mengibarkan ujung jilbab abu-abu gelap gadis itu, namun pandangan Ralia tetap kokoh tertunduk menatap paving basah—sebuah ketundukan (*ghadhul bashar*) yang justru memancarkan wibawa tak tertundukkan.
"Kang Viqar..." tutur Ralia lembut, logat Priangan halusnya bergetar tipis dengan kesantunan yang kental. "Aya sababaraha catetan dina bab titian rasa anu ku abdi tos ditilik. Nanging... aya hal anu langkung sesah dijagi tibatan ngarawat lambaran daluwang kuna ieu."
Viqar menelan ludah, menahan pandangannya agar tidak tergelincir menatap bola mata bening di hadapannya. Ia hanya memandang jemari Ralia yang memegang tepi berkas dengan jarak terukur. "Perkawis naon, Neng Ralia?"
"Ngarawat manah, Kang," tukas Ralia lirih namun sarat akan subteks yang menekan relung batin Viqar. "Kecap tiasa janten racun upami teu dibungkus ku rasa ajrih ka Gusti Allah. Jangan sampai risalah kebaikan ini ternoda oleh angan-angan yang mendahului kehendak takdir. Abdi mementa idin... supados urang henteu saling ngahubungi lewat pesen maya anu teu aya mangpaatna."
Perkataan Ralia bagai cambuk yang menggores harga dirinya sekaligus mengobati penyakit hatinya. Ralia tidak sedang menolak; Ralia sedang menegakkan benteng kesucian.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
--- Babak III: Mihrab Kayu & Luka yang Menganga ---
Setting: Mushalla Pribadi Ralia, Cisarua, Lembang | Waktu: Dini Hari, 03.20 WIB | POV: Ralia Syafiqah. Nada Emosi: Sunyi, Remuk Redam, Terluka
⋆⋅☆⋅⋆
Belasan kilometer ke utara, di lereng bukit Lembang yang diselimuti kabut tebal, sebuah lentera minyak zaitun berpendar keemasan di sudut mushalla kayu jati pribadi milik Ralia. Aroma dupa gaharu dan wangi kesturi yang tertinggal pada sajadah tenun mendiang uminya menguar perlahan, membelai hidungnya yang dingin.