Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Menjaga Batas Sunyi

"Harga diri seorang muslimah bukan untuk diuji lewat obrolan maya yang sia-sia. Bila aku benar-benar jantan dan mencintai karena Allah, aku akan mendatangi walinya, bukan kotak pesannya."— Viqar Ghazanfar

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak I: Simfoni Cahaya & Bayang-Bayang Kaca

Eksposisi Ruang & Simbolisme Integritas Maket

⋆⋅☆⋅⋆

Latar: Selasar Utama Jogja Expo Center, Paviliun Arsitektur | Nuansa: Megah, Kontemplatif, Getir. Fokus Psikologis:Viqar merasakan keterasingan batin; tepuk tangan ribuan pasang mata tak mampu mengisi kekosongan suci di relung hatinya. Simbolisme: Maket kayu jati & bambu bersahaja vs Kaca etalase pameran yang dingin merefleksikan kepalsuan gemerlap duniawi.

Aroma kayu gaharu yang dibakar perlahan berkelindan dengan dinginnya hawa gerimis yang merembes lewat ventilasi kaca patri Jogja Expo Center. Di bawah temaram lampu sorot berwarna tembaga hangat, maket arsitektur berskala satu banding lima puluh itu berdiri bak sebuah oase di tengah gurun materialisme. 'Baitur Rahmat: Menara Angin dan Kubah Bambu Lestari'—karya Viqar Ghazanfar—baru saja dinobatkan sebagai penerima anugerah kurator utama pada Pameran Kaligrafi & Desain Islami Nasional.

Struktur maket itu tidak menjeritkan kemewahan marmer impor atau gemerlap kubah sepuhan emas yang angkuh. Viqar merancangnya dengan kepasrahan geometris: lengkungan bambu petung yang dirajut presisi, orientasi bukaan saf yang menangkap arah kiblat sekaligus hembusan angin perbukitan Menoreh, serta sistem tampungan air hujan yang dialirkan menjadi kolam wudu alami. Para arsitek senior mengaguminya sebagai sintesis antara kearifan lokal Nusantara dan tauhid yang membumi.

Namun, di balik sorot lampu yang menghujani podium dan riuh tepuk tangan hadirin, batin Viqar justru membeku. Pemuda berusia dua puluh delapan tahun itu berdiri tegak dengan kemeja katun abu-abu bersahaja, namun sepasang matanya menatap pantulan dirinya sendiri di kaca etalase pameran. Bayangan dirinya tampak kabur, bergetar bersama rintik air hujan di luar sana. Keberhasilan profesional ini terasa hampa di hadapan satu kesunyian yang telah bermukim lama di dadanya: kesunyian seorang perantau ruhani yang sedang mempertahankan benteng iffah di tengah zaman yang menuntut segala hal dipamerkan.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak II: Retrospeksi Retak & Luka Masa Silam

Alur Non-Linear & Trauma Fitnah Digital

⋆⋅☆⋅⋆

Latar: Memori Kilas Balik Lima Tahun Lalu di Ruang Keluarga Samarinda | Nuansa: Mencekam, Penuh Tekanan Psikologis, Melankolis. Fokus Psikologis: Trauma rasa bersalah masa lalu membentuk benteng pertahanan psikologis Viqar yang sangat keras terhadap interaksi maya tanpa mahram. Simbolisme: Layar ponsel yang berpijar di kegelapan kamar malam bagai bara sekam yang perlahan melalap istana martabat keluarga.

Sebuah getaran ponsel di saku celana Farhan tiba-tiba memicu kilatan memori yang menyengat saraf kepala Viqar. Saraf kepalanya berdenyut, menghempaskannya mundur lima tahun silam ke sebuah malam kelam di beranda rumah keluarganya di tepian Sungai Mahakam.

Malam itu, hening keluarga mereka hancur berkeping-keping bukan oleh gempa bumi, melainkan oleh deretan baris pesan singkat berbalut emotikon di sebuah layar gawai. Kakak kandungnya, seorang ustaz muda yang disegani, tergelincir ke dalam lembah kehancuran rumah tangga yang memilukan. Semuanya berawal dari hal yang oleh generasi kiwari dianggap sepele: saling berbalas pesan 'tanya kabar dakwah' di media sosial, disusul tukar cerita tentang keletihan rumah tangga, hingga tirai rasa malu itu robek tanpa suara.

Viqar masih mengingat dengan getir ratapan ibunya yang bersujud di atas sajadah usang, mencium debu lantai sambil memohon ampunan Allah atas aib yang menimpa keluarga mereka. Ayah mereka wafat setahun kemudian dalam duka yang terpendam rapat. 'Viqar, anakku,' bisik sang ayah menjelang hembusan napas terakhir di ranjang rumah sakit, 'pemberani sejati bukanlah yang mampu menaklukkan menara-menara tinggi. Pemberani sejati adalah lelaki yang sanggup membelenggu syahwat jarinya di depan layar kaca yang sunyi. Jagalah kehormatan wanita, bahkan dari angan-anganmu sendiri.'

Wasiat itu terpahat bagai batu karang di dasar palung jiwanya. Baginya, layar sentuh ponsel pintar bukanlah sekadar perkakas teknologi, melainkan medan pertempuran paling berdarah bagi kesucian iman.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak III: Layar Kaca yang Menggoda & Prinsip Batu Karang

Konflik Sosial & Dialog Tajam Sarat Subteks

⋆⋅☆⋅⋆

Latar: Sudut Stand Maket Viqar, Dihadiri Rekan-Rekan Arsitek Muda | Nuansa: Tegang, Menghunus, Sarkastik Menentang Kompromi. Fokus Psikologis: Kemarahan suci Viqar melawan rayuan modernitas yang menormalisasi pergaulan bebas berkedok persahabatan islami. Simbolisme: Brosur kertas cetak mewah dengan kode QR digital yang seolah menawarkan jalan pintas murahan merusak kesakralan ta'aruf.

"Lihat ini, Viqar! Demi langit Yogyakarta, semesta sedang membukakan jalan untukmu!" Suara Farhan memecah lamunan Viqar. Sahabatnya itu melangkah tergesa sambil menyodorkan selembar brosur tebal beraroma lavender dan sebuah layar ponsel yang menyala terang.

Di atas layar persegi itu terpampang profil media sosial yang terkurasi anggun: @ralia.annisa.textile. Foto profilnya hanyalah siluet seorang muslimah berkerudung lebar yang tengah menatap sehelai tenun kaligrafi di atas bentangan meja kayu, tanpa wajah yang diobral, tanpa lekuk yang dipamerkan. Pada deretan unggahan, tampak sulaman tangan motif geometris islami bersanding dengan kutipan syair-syair Al-Ghazali tentang keindahan jiwa.

"Karya busana etnik muslimahnya dipajang di Hall B, persis di sayap kanan stan kita!" Farhan menyeringai, menyodorkan ponselnya lebih dekat ke wajah Viqar. "Akunnya terbuka untuk pesan langsung. Zaman sekarang zaman digital, Bung! Ketik salam manis, puji karyanya yang menang kurasi, selipkan emotikon senyum tipis. Bilang saja ingin diskusi sinergi arsitektur masjid dengan tekstil akustik ramah lingkungan. Bukankah itu ukhuwah islami yang sah?"

Arga dan Dimas, dua rekan arsitek di belakang Farhan, ikut menimpali sambil terkekeh ringan. "Ayolah, Viqar! Kau ini terlalu kaku seperti tiang beton bertulang! Gadis sesalihah dan secerdas Ralia Annisa tak akan menunggu lelaki yang hanya bisa berdiam diri bertawakal tanpa langkah taktis. Sedikit obrolan santai di direct message tak akan membuatmu masuk neraka!"

Wajah Viqar mengeras. Tatapannya yang semula teduh kini berubah sedingin bilah pedang Damaskus. Ia menepis perlahan ponsel di tangan Farhan tanpa mengalihkan pandangan.

"Tutup layarmu, Farhan," ujar Viqar dengan nada suara yang begitu rendah namun berbobot karang, menekan setiap desis bising di sekitar mereka. "Kalian menyebutnya ukhuwah, namun syariat menamainya pintu fitnah. Apakah kalian pikir kehormatan seorang muslimah yang menjaga dirinya bertahun-tahun di balik hijab kesucian pantas dinodai oleh ketukan pesan genit seorang lelaki asing yang bahkan belum tentu berani menghadap ayahnya?"

Farhan mendengus, merasa gengsinya terusik. "Jangan berlebihan, Viqar. Kita bukan hidup di zaman Abbasiyah! DM Instagram hanyalah media perantara!"

"Justru karena ini zaman digital, setan tidak lagi membutuhkan lorong gelap untuk menyesatkan anak cucu Adam," balas Viqar dengan sorot mata yang menghunus sanubari sahabatnya. "Setan hanya butuh ruang obrolan maya berdua tanpa mahram, disusupi pujian halus berbumbu agama. Dari sana, rasa malu dikikis perlahan hingga yang haram terasa halal. Dengar baik-baik: bila sehelai kain sutra Ralia berharga mahal di pameran ini, maka rasa malunya bernilai seribu kali lebih mulia di mata Allah. Aku tidak akan pernah menjadi pencuri yang menyelinap lewat jendela maya!"

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lihat selengkapnya