Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Nasehat di Majelis Dhuha

"Bila niatmu lurus untuk membangun baitullah di dalam rumahmu, Allah yang akan meratakan jalan yang terjal. Siapkan dirimu lahir dan batin, Viqar."— Ustadz Hanif Ar-Rasyid

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak I: Pancaran Dhuha & Jejak Debu di Serambi Kauman

Serambi Utama Masjid Baitul Hikmah, Kauman | Pukul 08.45 WIB

⋆⋅☆⋅⋆

"Jika seorang hamba menikah, sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang tersisa." — HR. Al-Baihaqi (Syu'abul Iman No. 5486)

Matahari dhuha merayap perlahan melintasi atap tumpang tiga Masjid Baitul Hikmah, menumpahkan berkas cahaya keemasan yang menembus celah kisi-kisi jati berukir sulur khas Kauman. Udara Yogyakarta pagi itu masih menyisakan sisa aroma petrichor—tanah basah bekas gerimis dini hari yang berpadu dengan lamat-lamat harum dupa cendana dari serambi belakang. Butir-butir debu melayang tenang dalam jalur berkas cahaya itu, bagai zarah-zarah jiwa yang kehilangan arah di hadapan keluasan semesta. Namun di dada Viqar, tidak ada ketenangan yang serupa. Dadanya bergemuruh, menghempaskan denyut nadi yang bertalu-talu di bawah lipatan gamis katun putih gading yang ia kenakan.

Gema suara jamaah yang bersalaman perlahan melenyap, ditelan derit pintu-pintu kayu jati tebal yang mulai dirapatkan oleh takmir masjid. Semerbak wangi minyak kasturi yang ditinggalkan Ustadz Hanif masih tertinggal di udara mimbar. Viqar tetap terpaku di tempat duduknya, bersila di atas selembar sajadah beludru hijau tua yang tepian benang emasnya telah koyak dimakan zaman. Jari-jemarinya yang dingin meremas erat tepi kitab *Riyadhus Shalihin* bersampul kulit kusam. Matanya menatap lekat lantai tegel antik berpola wajik kelabu, tetapi pandangan jiwanya tersesat beratus-ratus kilometer melintasi lorong-lorong angan yang tak berani ia suarakan pada siapa pun.

Ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Seorang pemuda yang terbiasa menundukkan pandangan di setiap lorong universitas dan ruang halaqah, kini justru terbelenggu oleh bayang-bayang kesantunan seorang muslimah yang bahkan belum pernah bertukar tatap lebih dari sepersekian detik dengannya. Setiap kali nama Ralia melintas, ada getar halus yang mengalir bagai sengatan es sekaligus api di relung dadanya. 'Ya Muqallibal qulub,' bisik batinnya lirih dengan tenggorokan tercekat, 'apakah getar ini anugerah fitrah yang suci, ataukah perangkap halus hawa nafsu yang bertopengkan kekaguman pada dakwah?'

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak II: Khatam Bab Ikhlas & Hantu Masa Lalu di Lereng Merapi

Serambi Belakang Menghadap Kolam Wudhu | Memori 4 Tahun Silam & Masa Kini

⋆⋅☆⋅⋆

Kitab di tangannya masih terbuka tepat pada halaman pembuka Bab Ikhlas dan Memperbaiki Niat. Di sudut kanan bawah lembaran kertas kuning jerami itu, ada bekas noda tinta biru tua yang telah memudar—jejak kecerobohannya empat tahun silam ketika tangannya gemetar hebat menerima kabar penolakan yang meruntuhkan separuh dunianya. Pikirannya seketika terseret kembali menyusuri labirin waktu secara non-linear, melontarkannya ke sebuah beranda rumah berhawa beku di lereng Kaliurang, di mana kabut tebal menyamarkan air mata kehinaannya.

Kala itu, seorang wali santri menatapnya dengan pandangan meremehkan yang membekukan darah. *'Modal agama saja tidak cukup untuk menafkahi kehormatan anakku, anak muda. Jangan jadikan ayat-ayat suci sebagai topeng kemiskinanmu,'* kalimat itu pernah merajam martabatnya hingga ke dasar palung paling sunyi. Sejak hari nahas itu, Viqar mengunci rapat-rapat pintu hatinya dengan gembok kehati-hatian yang berlebihan. Ia bersumpah tak akan pernah lagi membiarkan harapannya bertumpu pada manusia. Namun, mengapa kini kehadiran Ralia di yayasan literasi dan kepanitiaan kajian kemanusiaan itu sanggup mencungkil kembali gembok yang telah berkarat?

Ralia tidak pernah bersolek untuk mencari perhatian. Ia berbicara dengan diksi yang hemat, bersahaja, namun sarat akan ketajaman pikiran dan keteguhan prinsip. Cara Ralia memegang amanah dakwah kaum dhuafa membuat Viqar melihat sebuah cermin ketulusan yang selama ini ia rindukan. Namun justru karena kesalehan Ralia itulah, rasa rendah diri Viqar kembali mendidih. 'Siapakah aku ini?' monolog batinnya menghakimi dengan bengis. 'Hanyalah seorang pengelana lusuh yang bahkan belum mampu memaafkan luka masa lalunya, berani-beraninya memimpikan bidadari yang begitu anggun di mata langit?'

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Lihat selengkapnya