"Aku tidak berani menjanjikan kemewahan dunia, tapi aku bersumpah demi Allah untuk tidak menyuapkan sesuap pun nasi haram ke dalam mulut keluargaku." — Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak I: Tirai Kabut Bukit Randu & Gema Tadarus
Pintu Masuk Kontemplasi & Deskripsi Atmosfer Fajar. Latar: Bukit Randu, Bandar Lampung | Pukul 04.45 WIB, Dua Hari Menjelang Pembuatan Proposal | Nada: Hening, Getir, Berselimut Gigil.
⋆⋅☆⋅⋆
Kabut tipis melayang lambat di punggung Bukit Randu, menyerupai selendang putih yang compang-camping diseka jemari angin Selat Sunda. Dari ketinggian lereng batu kapur ini, Kota Bandar Lampung masih terlelap dalam lekukan bayang-bayang lembah yang sunyi. Hanya kelap-kelip lampu Pelabuhan Panjang di kejauhan yang masih bernapas lemah, berkedip layaknya kunang-kunang raksasa yang kelelahan mengawasi lambung kapal-kapal kargo pengangkut biji kopi dan lada hitam.
Uap dingin mengepul dari setiap tarikan napas Viqar Ghazanfar. Jaket kanvas kelabu yang dikenakannya tak sanggup membendung tusukan hawa pegunungan yang merayap hingga ke sumsum tulang. Namun dingin lahiriah itu sesungguhnya tiada arti dibanding getaran ganjil yang meremas rongga dadanya sejak sepertiga malam terakhir. Di bawah sana, gema tadarus Al-Qur'an dari corong menara Masjid Agung Al-Furqon meliuk-liuk di udara subuh—mengalunkan ayat-ayat ar-Rahman yang terdengar bagai bisikan dari alam malakut: fa bi-ayyi ālā'i Rabbikumā tukazzibān.
Setiap kali bait ayat itu menyentuh pendengarannya, Viqar menundukkan wajah. Ada sebongkah sesak yang mendadak mengganjal di kerongkongannya. 'Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?' batinnya berbisik perih. Hari ini, tepat empat puluh delapan jam sebelum ia menyerahkan lembar proposal ta'aruf yang akan menentukan separuh sisa umurnya di muka bumi, ia merasa sekecil zarrah yang terombang-ambing di atas hamparan permadani semesta.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak II: Kilasan Memori Meja Makan yang Hangus
Retrospeksi Non-Linear & Trauma Warisan Masa Kecil. Latar: Punggung Randu & Kilas Balik Rumah Masa Kecil di Teluk Betung | Nada: Traumatis, Pedih, Rasa Bersalah Progresif.
⋆⋅☆⋅⋆
Matanya terpejam, dan detik itu pula waktu serasa robek ke belakang. Angin bukit sirna, digantikan oleh aroma anyir kayu lapuk dan bau minyak tanah dari lampu teplok belasan tahun silam di pesisir Teluk Betung. Ia kembali menjadi bocah sembilan tahun yang meringkuk di kolong meja kayu jati bertaplak sobek.
Telinganya masih merekam dengan kejernihan yang mengerikan: denting piring kaleng yang terlempar ke lantai plesteran semen, disusul deru suara petugas berpakaian dinas yang menggeledah laci-laci lemari ayahnya. Hamzah, ayahnya—seorang juru timbang pelabuhan yang dahulu ia anggap pahlawan tanpa cacat—berdiri kaku dengan kedua tangan terborgol rantai besi. Di atas meja makan yang biasanya menjadi tempat membaca juz 'amma, berserakan bundelan amplop cokelat bertuliskan angka-angka suap pelolosan muatan ilegal.
'Bawa anakmu menjauh, Halimah!' teriak ayahnya kala itu dengan suara serak parau yang pecah seperti cermin retak. Namun yang paling membakar benak Viqar bukanlah bentakan sang ayah, melainkan tatapan mata ibunya. Perempuan salehah itu tidak menangis tersedu; ia hanya menatap piring nasi hangat yang baru saja dimasaknya, lalu menutup wajahnya dengan ujung mukena kumal.
'Demi Allah, Mas...' bisik ibunya malam itu dengan air mata yang menetes ke butir-butir nasi, 'aku rela anakku mengunyah kerak singkong bakar tiap petang, daripada tenggorokannya disirami minyak neraka dari uang gelap ini.' Tiga tahun kemudian ibunya wafat menanggung malu dan sakit yang tak pernah diobati, sementara sang ayah membusuk di balik jeruji penjara Sukamiskin.
Viqar membuka kelopaknya dengan sentakan kasar. Keringat dingin merembas di pelipisnya. Trauma itu tidak pernah mati; ia hanya berhibernasi di palung kesadarannya, menunggu saat ia sendiri hendak melangkah menjadi seorang kepala keluarga.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak III: Arsitektur Visi di Atas Kertas Usang
Merumuskan Visi Kepemimpinan & Pilar Rumah Tangga Qur'ani. Latar: Gazebo Batu Puncak Randu | Menjelang Rekah Fajar Pukul 05.15 WIB | Nada: Fokus, Khidmat, Keteguhan Prinsip