Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Bayang-Bayang Masa Lalu

"Carilah wanita yang ketika kau memandangnya, kau teringat pada surga, Viqar. Dan jaga dia sebagaimana ayahmu dahulu menjagaku dalam naungan doa." — Bunda Wardah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak I: Ratapan di Ambang Pintu dan Kilau Gerimis

Latar & Waktu: Rumah Peninggalan Keluarga Besar, Malang Jawa Timur | Pukul 20.45 WIB | Malam Gerimis Berkabut. Nuansa Emosi: Mencekam, Dingin, Terguncang.

⋆⋅☆⋅⋆

Dalil Pendukung (QS. Ar-Rum: 21):

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Wa min âyâtihî an khalaqa lakum min anfusikum azwâjal litaskunû ilaihâ wa ja‘ala bainakum mawaddataw wa raḫmah, inna fî dzâlika la'âyâtil liqaumiy yatafakkarûn

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

Malam merangkak lambat di atas atap genteng tanah liat rumah keluarga besar di lereng dingin kota Malang. Gerimis yang turun semenjak asar belum juga menuntaskan dendamnya pada bumi, meninggalkan rintik-rintik runcing yang membias di permukaan kaca jendela ruang tengah. Di luar, dahan pohon akasia tua bergesekan dengan kosen kayu jati, mengeluarkan derit ngilu yang terdengar bagai rintihan tertahan. Di dalam ruangan, lampu gantung kuningan memendarkan cahaya temaram kekuningan, menelanjangi debu-debu halus yang menari cemas di udara sunyi.

Tiba-tiba, daun pintu berukir kaligrafi kufi itu diketuk tergesa. Tiga ketukan tak beraturan yang disusul oleh suara desah napas memburu. Sebelum Viqar sempat melangkahkan kakinya dari sudut lemari kitab, pintu tersebut telah didorong dari luar. Sesosok tubuh terhuyung masuk, membawa serta semerbak hawa basah tanah dan aroma keputusasaan yang pekat. Itu Sarah.

Kakak perempuannya berdiri membatu di atas ubin terakota. Gamis abu-abu mudanya basah kuyup di bagian pundak dan keliman bawah, bercampur percikan lumpur jalanan. Jilbabnya yang biasa tersampir anggun kini koyak peniti di sisi kanan, menyingkap helai rambut yang basah menempel di pelipisnya yang pucat pasi. Namun, bukan rembesan air hujan yang meremukkan rongga dada Viqar seketika, melainkan kedua kelopak mata Sarah yang bengkak keunguan—mata yang telah kehilangan seluruh kilau binar keangkuhan masa mudanya. Tas jinjing kulit hitamnya terlepas dari genggaman, jatuh berdebam menghantam lantai dingin tanpa ada upaya untuk memungutnya kembali.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak II: Fatamorgana Janji Manis yang Runtuh

Latar & Waktu: Sofa Kayu Beludru Marun, Ruang Tengah | Pukul 21.15 WIB | Suasana Ruang Tengah. Nuansa Emosi: Tajam, Menyesakkan, Sarat Subteks Menekan

⋆⋅☆⋅⋆

"Habis sudah, Viqar... semuanya binasa tanpa sisa," suara Sarah tercekat di kerongkongan, parau dan bergetar hebat bagai dawai biola yang ditarik melampaui batas lenturnya. Ia menolak didudukkan di sofa empuk, justru merosot ke lantai, menumpukan keningnya di atas lengan kursi kayu yang dingin. Isak tangis yang tertahan selama perjalanan kereta dari Surabaya akhirnya meledak, mengoyak kesenyapan rumah yang biasa teduh dengan lantunan tilawah.

Viqar berdiri membeku terpaku dua depa di hadapan kakaknya. Rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal di dalam saku baju koko katun putihnya hingga kuku-kukunya memutih. Matanya menangkap pantulan bayangan Sarah di cermin oval antik yang tergantung di dinding—cermin tua dengan retakan tipis di sudut kanannya, seolah menggambarkan keutuhan rumah tangga kakaknya yang telah hancur berkeping-keping. Di atas meja marmer, secangkir teh chamomile yang baru saja diseduh Bunda Wardah mengepulkan uap tipis yang perlahan sirna, dingin tanpa sempat dijamah bibir siapa pun.

"Lima tahun kami menjalin rasa yang kami sebut cinta sejati di bangku kuliah dahulu... lima tahun bertukar kata manis di bawah rembulan, meyakinkan diri bahwa kami saling memahami lebih dari siapa pun," ratap Sarah dengan jemari yang mencengkeram kain gamisnya sendiri hingga kusut masai. "Tapi begitu akad terucap tanpa keridhaan almarhum Ayah dan restu tulus Bunda, manis itu berubah menjadi racun mematikan. Lelaki yang dahulu bersumpah akan menjadi pelindung nafasku, kemarin melemparkan talak tiga ke wajahku hanya karena aku menegurnya yang pulang larut dalam keadaan mabuk maksiat. Janji manis pacaran itu... demi Allah, semuanya palsu, Viqar! Itu hanya topeng iblis yang memikat nafsu semata!"

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Lihat selengkapnya