Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Tekad di Balik Lembar Syariat

"Kejujuran di atas selembar kertas ini adalah pertanggungjawabanku di hadapan Allah. Lebih baik ditolak karena jujur daripada diterima karena kepalsuan." — Viqar Ghazanfar

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak I: Thaharah Niat & Sunyi Kotagede

Latar & Waktu: Pukul 02.15 Dini Hari | Meja Jati Kamar Belajar Viqar, Kotagede, Yogyakarta. Suasana Emosi: Hening, Khidmat, Dingin, Gelisah yang Ditundukkan

⋆⋅☆⋅⋆

Pukul dua lebih seperempat dini hari. Di luar, aroma tanah basah dan sisa rintik gerimis di Kotagede merayap masuk lewat kisi-kisi jendela kayu jati yang mulai lapuk dimakan usia. Hawa dingin khas lembah Gunung Merapi menyusup tanpa ampun ke dalam bilik belajar Viqar Ghazanfar, mengembun tipis pada tepi cangkir keramik berisi seduhan teh chamomile yang telah kehilangan kehangatannya sejak tengah malam tadi. Di sudut dinding berlumut halus, jam kuningan kuno tanpa penutup kaca berdetak dengan ritme yang telanjang: tik, tak, tik, tak—tanpa peredam, tanpa tedeng aling-aling.

Cahaya putih dari layar laptop tujuh belas inci memandikan paras tirus lelaki berusia dua puluh tujuh tahun itu. Di atas meja jati peninggalan sang kakek, tumpukan berkas tersusun rapi dengan sudut-sudut yang presisi hingga ke milimeter terakhir. Di sanalah terbentang sehelai draf dokumen bertajuk 'Curriculum Vitae Ta'aruf'—sebuah lembar syariat yang bagi sebagian orang mungkin sekadar formalitas administratif perjodohan islami, namun bagi dada Viqar yang bergemuruh kencang, lembar itu tak ubahnya titian shirath yang menuntut kejujuran tanpa cacat cela.

Kedua belah tangannya terdiam kaku di atas keyboard mekanik. Sepasang matanya menatap tajam kursor hitam yang berkedip tanpa henti di kolom isian foto diri. Di dalam folder komputernya, tersimpan beberapa potret hasil bidikan kamera profesional rekannya di Malioboro pekan lalu: sudut pencahayaan yang dramatis, kulit yang tersamarkan oleh filter penghalus pori, dan siluet rahang yang tampak gagah sempurna. Dunia modern mengajarkannya seni manipulasi citra demi sebuah penerimaan. Namun jemari Viqar justru menolak menyentuh fail-fail rupawan tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang menusuk memenuhi rongga dadanya hingga batas terdalam.

"Bismillah... malam ini bukan tentang bagaimana aku menjual keelokan diri, melainkan bagaimana aku berdiri telanjang di hadapan timbangan hisab-Mu."

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak II: Kilas Balik Cermin Retak di Laweyan

Latar & Waktu:Retrospeksi Memori 14 Tahun Silam (Surakarta, 2012) & Kilatan Masa Kini. Suasana Emosi:Perih, Menghantui, Penuh Kepahitan Masa Kanak-kanak

⋆⋅☆⋅⋆

Ingatan itu mendadak menyeruak laksana kabut beracun yang menolak dikubur. Empat belas tahun silam di sebuah rumah bergaya kolonial di Kampung Batik Laweyan, Surakarta. Viqar kecil yang masih berusia tiga belas tahun bersembunyi di balik tirai beledu hijau tua, menyaksikan ayahnya—sosok yang setiap Jumat mengenakan jubah putih bersih beraroma gaharu dan dielu-elukan jamaah pengajian sebagai figur teladan—terduduk lesu di lantai semen dengan punggung gemetar hebat.

Kala itu, pintu gerbang jati digedor membabi-buta oleh lima penagih utang berwajah beringas. Sang ayah rupanya telah bertahun-tahun menutupi kebangkrutan usaha batiknya dengan lingkaran setan riba dan manipulasi laporan pembukuan mitra dagang, semuanya demi mempertahankan martabat semu di hadapan lingkaran kerabat terhormat. Sang ibu hanya mampu bersimpuh di sudut cermin rias yang retak, menangis dalam kepasrahan yang remuk hingga air matanya membasahi mukena lusuh. Kalimat terakhir yang dibisikkan sang ibu sebelum menghembuskan napas terakhir beberapa tahun kemudian kembali bergema di telinga Viqar malam ini: 'Jangan pernah mengalasi rumahmu dengan kayu lapuk yang dicat emas, Le. Sekali badai datang, kebusukannya akan menenggelamkan anak-istrimu.'

Trauma itulah yang menancapkan duri perfeksionisme berdarah di dalam sanubari Viqar. Ia tumbuh menjadi pemuda yang fobia terhadap kebohongan sekecil apa pun. Baginya, setiap kata yang dipermanis adalah bibit durhaka, dan setiap citra yang dibesar-besarkan adalah racun berbisa yang siap meledak di kemudian hari. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia menghapus semua pilihan foto estetik di komputernya. Ia memilih satu pasfoto resmi berlatar belakang biru polos tanpa suntingan: wajah bersahaja dengan kantung mata tipis tanda malam-malam panjang meneliti manuskrip kuno, tatapan mata yang lelah namun lurus, serta kulit sawo matang apa adanya.

"Jangan pernah mengalasi rumahmu dengan kayu lapuk yang dicat emas, Viqar. Sekali badai datang, kebusukannya akan menenggelamkan anak-istrimu."

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Babak III: Ketelanjangan Fakta di Lembar Syariat

Latar & Waktu: Pukul 02.40 Dini Hari | Pengisian Bagian Finansial & Kelemahan Raga. Suasana Emosi: Tegas, Rela, Penuh Kejujuran yang Menyakitkan namun Membebaskan

Lihat selengkapnya