Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Menyerahkan Nama ke Murabbi

"Tugasmu menjemput sebab telah selesai untuk hari ini, Viqar. Sekarang, gantungkan seluruh harapmu pada Sang Pemilik Hati." — Ustadz Hanif Ar-Rasyid

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


--- BABAK 1: Ambang Pintu & Keheningan yang Mengintimidasi ---

Latar: Gedhong Perpustakaan Pribadi Ustadz Hanif, Gang Rukunan, Kotagede. Simbolisme: Dinding Bata Ekspos Berlumut & Kabut Tipis - Menandakan lapisan waktu dan dinginnya isolasi batin Viqar yang selama empat tahun membeku dalam keraguan.

⋆⋅☆⋅⋆

Kabut tipis sisa hujan subuh masih menggelayut malas di atas genting-genting lawas Kotagede. Di lorong sempit berlantai batu kali yang diapit dinding bata merah berlumut, tapak sepatu Viqar terdengar laksana detak jam yang dihitung seorang terpidana. Setiap embusan napasnya mengepul putih di udara pukul tujuh pagi yang menusuk tulang. Di balik saku dalam jas kelabu tuanya, sebuah amplop cokelat tebal bersudut kaku terasa menekan rusuk kirinya—tepat di atas debar jantung yang tak kunjung menemukan ritme wajar.

Ia berhenti di ambang daun pintu jati berukir sulur lung-lungan khas Mataram. Dari ventilasi kayu di atas kosen, menguar aroma yang amat ia kenali: perpaduan debu kertas kitab kuning bertarikh ratusan tahun, seduhan kopi jahe panas, dan wangi minyak za'faran yang selalu menempel pada jubah murabbinya. Pintu itu sedikit renggang. Keheningan di dalam ruangan itu bukan kesunyian yang hampa, melainkan keheningan yang padat dan menghakimi, seolah ribuan jilid tafsir di rak-rak dinding tengah menatapnya dengan pandangan menguji.

“Bismillah... La hawla wa la quwwata illa billah,” bisik Viqar. Ujung jemarinya gemetar hebat saat mengetuk kayu jati padat itu tiga kali. Bunyi ketukan itu bergema pelan namun meremukkan keberaniannya yang rapuh.

“Masuklah, Viqar. Jangan biarkan dinginnya angin Kotagede membekukan niat yang telah kau panaskan dalam sujud malammu,” suara dari dalam terdengar teduh, berat, dan berwibawa. Suara Ustadz Hanif Ar-Rasyid tidak pernah meninggi, namun memiliki ketajaman yang sanggup menguliti kepura-puraan manusia.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


--- BABAK 2: Penyerahan Berkas & Getaran Tangan yang Disembunyikan ---

Latar: Meja Jati Ukir Abad ke-19, beralas kain lurik hijau lumut. Simbolisme: Amplop Cokelat Bersegel Lilin Malam Tanpa Nama - Kehormatan diri yang terkunci; rahasia pencarian jodoh yang suci sebelum disentuh oleh pandangan liar dunia luar.

⋆⋅☆⋅⋆

Lantai tegel kunci bermotif flora menyambut langkah Viqar yang tertatih oleh beban mental. Di sudut ruangan, sebuah jam pendulum kuno buatan Belanda berdentang satu kali dengan gaung tembaga yang muram. Ustadz Hanif duduk di balik meja kerja jati berpelitur gelap yang tertata rapi. Di hadapannya terbentang naskah mushaf Al-Madinah bersampul beludru hijau, sebuah kaca pembesar berganggang kuningan, dan cangkir keramik bermotif teratai yang masih mengepulkan uap tipis aroma serai.

Viqar bersimpuh di atas kursi rotan beralas bantal beludru, menundukkan pandangannya serendah mungkin menatap serabut karpet permadani Persia yang telah pudar. Dengan dua belah tangan yang diupayakan sekuat tenaga agar tidak tampak bergetar, ia merogoh saku jasnya. Amplop cokelat itu ditariknya keluar. Di atas permukaannya tidak tertulis nama siapa pun, hanya ada stempel lilin merah bertuliskan huruf Arab 'Waw'—lambang wasith sekaligus perlambang janji perlindungan.

“Kulo nyuwun lumunturing sih panjenengan, Ustadz... Menawi dipun keparengaken, punika amanah kulo pasrahaken sadaya,” ucap Viqar dalam bahasa krama alus yang patah-patah, suaranya tercekat di tenggorokan yang tiba-tiba sekering pasir gurun. Tangannya menyodorkan berkas biodata diri itu melintasi bentangan meja jati.

Ustadz Hanif tidak langsung menyambarnya. Beliau memandang wajah Viqar selama beberapa detik yang terasa laksana keabadian. Mata sang murabbi yang teduh namun jernih laksana telaga pegunungan seakan tengah membaca gelombang tak kasat mata di kening pemuda itu. Perlahan, kedua tangan sepuh yang guratan uratnya menyiratkan riwayat ribuan malam bermunajat itu terangkat, menerima berkas tersebut dengan kedua telapak tangannya secara takzim.

“Bismillahi majreha wa mursaha. Allahumma barik fi hadzal khuthwah,” doa sang ustadz lirih, meniupkan napas lembut ke atas lipatan amplop sebelum meletakkannya tepat di samping mushaf.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


--- BABAK 3: Retrospeksi Memori & Bau Abu Masa Silam ---

Latar: Kilas Balik: Pendopo Kaliurang & Ingatan Pahit Empat Tahun Lalu. Simbolisme: Cincin Perak Tanpa Permata di Jari Manis Kiri - Sisa peninggalan almarhum ayahnya; pengingat akan kemiskinan dan batas kasta yang pernah menghancurkan martabatnya.

Lihat selengkapnya