"Bagi kami, kemuliaan nasab dan harta bukanlah syarat utama. Jika pemuda ini takut kepada Allah saat marah dan menyayangi karena Allah saat lapang, pintu rumah kami terbuka untuknya." — Abah Syafi'i
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak 1: Desir Gebyok dan Sunyi yang Menghimpit
Simbolisme: Kisi-kisi Gebyok Jati Kuno & Uap Teh Melati yang Perlahan Menipis
⋆⋅☆⋅⋆
Sore di Kudus Kulon selalu memiliki caranya sendiri untuk memenjarakan waktu. Di ruang tengah pendopo kediaman Abah Syafi'i, cahaya matahari condong ke barat, terpecah menjadi bilah-bilah keemasan yang menembus kisi-kisi gebyok jati berukir sulur kembang teratai. Di atas meja bundar berkaki tiga yang dipelitur gelap, dua cangkir porselen putih beraroma melati masih mengepulkan uap tipis, berdampingan dengan piring ceper berisi kue semprit dan lapis legit yang belum tersentuh. Namun, bagi Ralia yang duduk bersimpuh di samping ibunya, kehangatan teh itu sama sekali tak mampu mengusir hawa dingin yang merayap di sela-sela buku jemarinya.
Jantung gadis dua puluh empat tahun itu berdenyut dengan irama yang tak lazim. Setiap detak jarum jam pendulum tua buatan Belanda di sudut dinding kayu terasa menghantam dinding dadanya laksana palu godam. Ia menatap ujung khimar abu-abu mudanya yang terjuntai kaku di atas pangkuan rok panjangnya. Tangannya bertaut rapat di bawah lipatan kain, saling meremas untuk menyembunyikan getar yang tak sanggup ia jinakkan. Mengapa sore ini udara terasa begitu rapat, seolah setiap tarikan napas harus dibayar dengan rasa bersalah yang tak ia ketahui asal-muasalnya?
Ibu Fatimah yang duduk di sampingnya seakan menangkap riak halus itu. Tanpa mengalihkan pandangan dari pintu depan yang terbuka lebar menghadap pelataran bebatuan kali, jemari ibunda yang lembut dan beraroma bedak dingin menangkup punggung tangan Ralia. Sentuhan itu hangat, namun justru membuat kerongkongan Ralia tercekat. Kasih sayang seorang ibu selalu memiliki ketajaman yang menelanjangi ketakutan seorang anak, bahkan ketakutan yang paling rapat disembunyikan di dasar sujud tengah malam.
Kutipan Kunci (Monolog Batin Ralia):* "Ada hari-hari di mana masa lalu tidak mengetuk pintu dengan kemarahan, melainkan menyelinap lewat aroma melati yang mendingin di atas meja jati."
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak 2: Salam di Ambang Pintu dan Langkah Sang Utusan
Simbolisme: Langkah Kaki di Pelataran Batu Bata & Map Cokelat Bersegel Lilin Marun
⋆⋅☆⋅⋆
"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh... nyuwun sewu, Abah Syafi'i, Ibu..."
Sebuah suara perempuan paruh baya yang renyah namun sarat ketenangan memecah desau angin yang menggerakkan dedaunan sawo kecik di pelataran. Dari ambang pintu gebyok, sosok Ummu Maryam melangkah masuk dengan langkah kaki yang tertata rapi. Gamis hitamnya melambai anggun menyapu undakan teras, sementara wajahnya yang teduh dihiasi senyum takzim khas santri putri kasepuhan pesisir. Di dada kanannya, ia mendekap sebuah map cokelat tebal berikat pita kain beludru hitam, sebuah wadah dokumen tertutup yang terpatri segel lilin marun di sudut lipatannya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Mangga, mangga pinarak, Ummu Maryam. Tafaddhol, sungguh sebuah kemuliaan panjenengan kersa rawuh ing gubug kami," sambut Abah Syafi'i dengan suara bariton yang dalam dan menenteramkan jiwa. Abah yang mengenakan baju koko putih berbordir benang gading dan peci beludru hitam menggeser duduknya, memberi isyarat penghormatan sembari mempersilakan sang tamu menempati kursi rotan kehormatan di seberang meja.
Pertukaran adab itu berlangsung mengalir laksana air telaga yang tenang. Ada kepatuhan purba yang terjaga dalam setiap helaan napas di ruang itu—tata krama Jawa yang disepuh oleh ketundukan syariat. Ummu Maryam meletakkan bingkisan kue tradisional di atas meja sebelum dengan amat hati-hati, kedua telapak tangannya meletakkan map cokelat bersegel itu tepat di tengah taplak meja berenda putih. Suara sentuhan map dengan kayu jati tua itu terdengar begitu lirih, namun di telinga Ralia, gaungnya bagai dentang genderang perang yang membuyarkan seluruh benteng pertahanannya.
*Kutipan Kunci (Ummu Maryam):* "Nyuwun sewu, Abah, Ibu... kulo namung dados lantaran setunggal lampah sae, ngasta titipan manah ingkang nyuwun dipunuji wonten ing sangandhaping pitedahipun Gusti Allah."
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak 3: Retrospeksi Kelam: Hujan Badai di Peron Tawang
Simbolisme: Gerimis Semarang Tawang & Kertas Kaligrafi yang Koyak Bersimbah Air Hujan