Ibu... hatiku merasa tenang membaca kejujurannya. Tidak ada kepalsuan dalam kata-katanya. Bismillah, Ralia siap untuk nadzor."— Ralia Syafiqah
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian I: Binar Lilin dan Amplop Cokelat Kraft
Ketika aroma kertas tua beradu dengan debar di dada
⋆⋅☆⋅⋆
Jarum jam dinding kayu warisan kakek berdetik lambat, mengiris keheningan kamar yang hanya diselimuti temaram lampu belajar berkap tembaga. Di luar jendela, sisa gerimis bulan Oktober masih menitik pelan di atas daun-daun pucuk merah, menghantarkan udara lembap yang merambat masuk melalui kisi-kisi ventilasi. Cangkir keramik bermotif teratai di sudut mejaku sudah lama kehilangan uap hangatnya; teh melati bercampur kayu manis itu kini mendingin, meninggalkan lingkaran cokelat tipis di tatakannya, persis seperti pikiranku yang sejak dua jam lalu berputar tanpa muara.
Di depanku tergeletak sebuah map cokelat kraft tebal berikat tali rami. Tidak ada pita hiasan, tidak ada wewangian musk sintetis yang berlebihan—hanya selembar stiker kecil bertuliskan tulisan tangan yang rapi dan tegas: *Dokumen Ta’aruf – Untuk Ukhti Ralia Syafiqah, via Ustadz Fauzan*. Ibu meletakkannya tadi petang di atas kasurku sambil tersenyum penuh rahasia, lalu berbisik dengan nada setengah menggoda, 'Jangan dipelototi sampai robek kertasnya, Nduk. Dibaca pakai hati yang wudhu.'
Ibu memang selalu punya cara memecah keteganganku. Namun bagiku, malam ini terasa bagaikan malam sidang tesis jilid dua. Bagaimana mungkin seluruh lembaran hidup seseorang—cita-cita, aib yang termaafkan, prinsip hidup, hingga selera sarapan pagi—diringkas ke dalam tujuh lembar kertas HVS delapan puluh gram?
Jari-jariku yang dingin perlahan melepas lilitan tali rami. Suara gesekan kertas terdengar renyah di telinga, menyengat degup jantungku hingga berdegup dua kali lebih cepat. Di lembar paling atas, tertera pasfoto sederhana berlatar biru pudar. Seorang pemuda berkemeja koko abu-abu muda, tanpa senyum komersial yang dipaksakan. Matanya lurus menatap lensa, namun ada keteduhan yang bersahaja—jenis tatapan dari seseorang yang lebih banyak mendengar daripada berbicara. Viqar Al-Farisi. Tiga puluh satu tahun. Arsitek lansekap dan pegiat sosial.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian II: Catatan Kejujuran yang Menggelitik Jiwa
Tawa lirih di tengah keseriusan lembar biodata
⋆⋅☆⋅⋆
Aku membetulkan letak jilbab instan rumahanku yang miring, lalu menarik napas panjang seraya menyandarkan punggung pada kursi kayu jati. Biasanya, berkas ta'aruf yang pernah diajukan para perantara beberapa tahun silam selalu dipenuhi daftar pencapaian mentereng yang membuat kening berkerut: hafalan mutqin sekian juz, jabatan struktural, hingga rentetan kriteria calon istri yang panjangnya menyaingi nota belanja bulanan.
Namun, lembar ketiga berkas Viqar seketika meruntuhkan ekspektasiku.
Pada kolom formulir resmi bertajuk *Kelemahan Diri dan Kebiasaan Buruk yang Sedang Diperbaiki*, pria itu tidak menuliskan jawaban klise seperti 'terlalu perfeksionis' atau 'sering lupa waktu saat bekerja keras'. Viqar justru menorehkan pengakuan dengan kejujuran telanjang yang nyaris membuatku tersedak ludah sendiri:
Sangat pelupa menaruh kunci motor dan kacamata cadangan; rata-rata menghabiskan sepuluh menit setiap pagi hanya untuk berkeliling ruang tamu menatap kolong sofa. (2) Sangat buruk dalam memasak; percobaan terakhir membuat nasi goreng berujung wajan gosong dan kompor berasap tebal karena saya keliru membedakan garam kasar dengan pupuk urea tanaman herbal milik Ibu di rak dapur—alhamdulillah dapur tidak meledak, namun sejak saat itu saya dilarang memegang spatula tanpa pengawasan ketat. (3) Tidak tahan melihat kucing kurus di pinggir jalan; dompet sering bocor untuk membeli sarden kaleng ketimbang camilan sendiri.
Sebuah tawa kecil lolos dari bibirku, pecah di tengah kesunyian kamar. Aku menutup mulut dengan kedua telapak tangan, khawatir Ibu di kamar sebelah terbangun. Lucu sekali. Pria dewasa dengan postur tegap di foto itu ternyata pernah menabur pupuk ke atas nasi goreng! Namun di balik kelucuan yang polos itu, ada rasa haru yang ganjil menyusup ke ulu hatiku. Betapa langkanya menemukan seseorang di zaman sekarang yang tidak bernafsu memoles cangkang dirinya agar terlihat sempurna di depan orang asing.
Mataku bergeser ke lembar berikutnya, pada kolom *Visi Jangka Panjang Pernikahan*. Di sanalah tawa kecilku perlahan pudar, digantikan oleh keheningan yang menggetarkan. Viqar menulis:
'Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua nama di buku garuda, melainkan persekutuan dua musafir yang saling meminjam pundak menuju telaga Rasulullah. Cita-cita terbesar saya bukan membangun rumah mewah dengan taman terasering, melainkan mendirikan Griya Qur'an dan Balai Kreatif Anak-Anak Jalanan di kawasan suburban utara. Saya ingin anak-anak yang terbiasa mengemis di lampu merah bisa menghafal ayat-ayat langit sambil memegang kuas lukis dan perkakas kayu. Jika Ukhti Ralia mendambakan kehidupan yang berlimpah kemewahan materi, saya khawatir langkah saya akan sering mengecewakan Ukhti. Namun jika Ukhti bersedia menjadi teman berdiskusi, pengingat shalat rawatib di kala saya lalai, dan ibu bagi generasi yang berjiwa pemaaf, maka bismillah, mari kita bangun istana sederhana itu bersama.'
Dadaku berdesir hebat. Catatan kebiasaan shalat rawatibnya terisi konsisten—qabliyah Subuh yang tak pernah ditinggalkan, witir sebelum terlelap, serta puasa Dawud yang diupayakan rutin semampunya. Ini bukan sekadar kecocokan di atas kertas; ini adalah frekuensi jiwa yang bertahun-tahun kurapal dalam doa-doa sepertiga malamku yang sunyi.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───