Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Sinyal Langit yang Menyejukkan

"Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihat... Ini baru pintu gerbang, bukan akhir. Ya Allah, mudahkanlah jika ini membawa kami menuju surga-Mu."-- — Viqar Ghazanfar

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian I: Harum Serbuk Ulin dan Dering di Ujung Senja

⋆⋅☆⋅⋆

Aroma resin kayu ulin Kalimantan yang pekat menusuk hidung Viqar Ghazanfar, bersaing sengit dengan bau kopi tubruk dingin yang telah mengendap di sudut meja drafting selama empat jam. Sinar matahari Kamis sore merambat miring melalui celah kisi-kisi jalusi kayu jati studio, memproyeksikan garis-garis bayangan geometris di atas kertas kalkir berukuran A0. Di hadapan Viqar terbentang denah struktur kubah Masjid Baiturrahmah—proyek terbesar yang pernah dipercayakan ke pundaknya.

Namun, penggaris segitiga berbahan akrilik di tangan kanannya bergetar halus.

Bukan karena kelelahan otot setelah seharian meneliti kekerasan spesimen kayu ulin yang baru tiba dari Sampit, melainkan karena setiap tiga puluh detik pandangan matanya tanpa sadar melirik layar ponsel pintar yang tergeletak di samping kalkulator ilmiah. Layar itu masih hitam pekat, dingin, dan membisu.

"Viq," suara Farhan memecah keheningan yang sejak tadi hanya diisi oleh gesekan ujung pensil mekanik dan dengung pelan kipas pendingin server. Farhan melangkah mendekat dengan sebatang jangka putar di tangannya, menatap Viqar dengan sepasang alis yang terangkat tinggi. "Kalau kau terus-menerus mengikis permukaan sampel kayu itu dengan kuku jempolmu, ketebalannya bakal susut dua milimeter. Kontraktor di lapangan nanti bisa mengira itu kayu lapis sisa kemasan buah pir, bukan ulin kelas satu."

Viqar menarik tangannya dengan canggung, lantas berdeham pelan demi menyelamatkan sisa-sisa wibawa profesionalnya. "Seratnya padat, Han. Kadar airnya sudah di bawah lima belas persen. Daya tahannya terhadap lendutan bentang delapan meter memenuhi syarat."

"Oh, tentu saja. Tuan Arsitek Agung sedang menguji modulus elastisitas kayu," Farhan terkekeh, lalu mencondongkan badannya ke atas meja, menatap lekat-lekat lingkaran hitam di bawah kelopak mata sahabatnya. "Masalahnya, yang tampak mau patah karena lendutan beban saat ini bukan kayu ulin dari Kalimantan itu, saudaraku. Tapi urat lehermu sendiri. Sejak jam dua siang tadi, kau sudah bolak-balik memeriksa soket pengisi daya ponsel empat kali, merapikan tumpukan kertas memo yang sebenarnya sudah lurus, dan barusan kau menuang air putih ke cangkir yang masih penuh kopi."

Viqar menunduk, melirik cangkir keramiknya. Cairan hitam itu kini berwarna keruh kecokelatan dan nyaris meluber ke tepi meja. Wajahnya menghangat.

"Farhan, jangan berlebihan," elak Viqar pelan seraya meraih selembar tisu untuk menyerap tumpahan.

"Berlebihan katamu?" Farhan melempar jangka putar ke wadah kaleng dengan dentang nyaring. "Dengar ya, Viqar Ghazanfar. Kita sudah berkawan sejak zaman ospek kampus arsitektur, saat kita sama-sama begadang tiga malam berturut-turut demi merakit maket stadion dari stik es krim yang akhirnya ambruk diinjak kucing kampus. Aku hafal betul setiap gerak-gerikmu. Kau hanya memasang wajah sedingin marmer Carrara begini kalau sedang menghadapi dua hal: pertama, saat presentasi tender proyek bernilai miliaran di depan dewan komisaris yang cerewet, atau kedua... saat hatimu sedang digantung di ujung tanduk penantian."

Sebelum Viqar sempat melontarkan bantahan taktis, ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar kencang.

---

*Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.*

---

Getaran itu menimbulkan resonansi mendesing di atas kaca meja drafting. Keduanya sontak mematung. Di layar yang menyala benderang dalam temaram senja, sebuah nama tertera dengan jelas:

**Ustadz Hanif Al-Mubarok**

Napas Viqar mendadak tersangkut di pangkal tenggorokan. Suasana di dalam studio arsitektur seluas sembilan puluh meter persegi itu seakan tersedot hampa udara. Bahkan Farhan, yang sedetik lalu masih mengumbar kelakar, mendadak menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya membulat, lalu ia memberi isyarat tangan yang heboh—antara mendorong Viqar untuk mengangkat panggilan dan memperingatkannya agar tidak menjatuhkan ponsel ke lantai.

"Kalau itu petugas penagih sewa gedung, bilang aku sedang umrah ke Yaman," bisik Farhan dengan nada berdesir jenaka, berusaha meredakan ketegangan yang menyesakkan dada. "Tapi kalau itu kabar dari keluarga Ralia... demi Allah, Viq, tolong atur diafragmamu. Jangan sampai suaramu terdengar seperti suara anak kambing terjepit pagar besi."

Viqar menarik napas panjang melalui rongga hidung, mengisi paru-parunya dengan kepasrahan total. Jari jemarinya yang dingin menyentuh tombol hijau di layar, lalu menempelkan perangkat ke telinganya.

"Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Ustadz..." ucap Viqar. Suaranya serak di suku kata pertama, namun ia segera menekan nada bicaranya agar kembali bertumpu pada ketenangan seorang mukmin.

"Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, Akhi Viqar," suara Ustadz Hanif mengalun di seberang sambungan. Suara itu tenang, tertata, dengan jeda ritmis khas seorang pendidik yang terbiasa menimbang setiap patah kata sebelum meluncur ke udara. "Semoga antum dan keluarga senantiasa berada dalam naungan taufik dan hidayah Allah Ta’ala."

"Aamiin, ya Rabb. Alhamdulillah, Ustadz. Bagaimana kabar antum sekeluarga?"

"Alhamdulillah, bi khair wa 'afiyah." Ada hening sejenak di seberang sana. Suara lembaran kertas yang dibalik terdengar samar, diiringi helaan napas yang membuat jantung Viqar memukul dinding dadanya dengan dentuman dua kali lipat lebih keras.

"Akhi Viqar," lanjut Ustadz Hanif, intonasinya melembut namun mengandung bobot wibawa yang tak terbantahkan. "Ana baru saja menyelesaikan musyawarah dengan Abah Syafi’i di kediaman beliau selepas salat Ashar tadi. Kami telah membahas lembar biodata ta'aruf, visi pernikahan yang antum tuliskan, serta rekam jejak yang antum sampaikan."

Lihat selengkapnya