Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Pertemuan Pertama (Nadzor)

"Pandanglah calonmu sejenak, Viqar, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena hal itu lebih dapat melanggengkan kasih sayang di antara kalian berdua."

— Ustadz Hanif Ar-Rasyid

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian I: Di Bawah Desau Pohon Cengkeh dan Wangi Cendana

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Hadits Pokok: "Lihatlah dia (calon istrimu), karena sesungguhnya hal itu lebih pantas untuk melanggengkan cinta dan kasih sayang di antara kalian berdua." (HR. At-Tirmidzi (no. 1087), An-Nasa'i (no. 3235), Ibnu Majah (no. 1865) — Dinilai Shahih)

Sabtu pagi di pelataran ndalem Pesantren Nurul Hikmah seolah ditatah dari ketenangan masa silam. Angin pegunungan turun perlahan melintasi pucuk-pucuk pohon cengkeh dan rumpun bambu kuning di tepi kolam wudhu, membawa kesiur dingin yang menepis terik matahari pukul setengah sepuluh. Di ruang tamu berarsitektur limasan Jawa-Madura klasik itu, aroma kayu cendana tua yang terperam puluhan tahun menguar lembut dari dinding gebyok jati, berkelindan mesra dengan semerbak uap rebusan serai, cengkeh, dan jahe yang baru saja diseduh dari arah dapur belakang.

Viqar Al-Ghifari duduk di atas tikar pandan anyaman tangan yang terbentang sejuk di atas ubin terakota merah bata. Punggungnya tegak lurus, meniru adab para santri senior tatkala sowan ke hadapan guru besar, namun di balik kemeja katun putih gading bersulam motif sulur samar di pergelangan tangannya, degup jantung pemuda itu berdentang liar—menyerupai gemuruh genderang perang yang tak kenal jeda. Keringat dingin merembes tipis di telapak tangan kanannya, membuatnya tanpa sadar meremas ujung celana bahan abu-abu gelap yang ia kenakan.

Di samping kirinya, Bunda Wardah duduk dengan anggun berbalut gamis terakota lembut dan kerudung panjang berenda rapi. Jemari perempuan paruh baya itu tak henti memutar butir-butir tasbih kayu zaitun di pangkuan, sementara matanya yang teduh sesekali melirik sang putra tunggal. Ada kilat bangga yang berkaca-kaca di sana, namun juga getar kecemasan naluriah seorang ibu yang tahu betul betapa rapuhnya dinding ketegaran yang sedang dibangun oleh putranya pagi ini.

Adapun Ustadz Hanif Ar-Rasyid, sang murabbi yang bertindak sebagai wasith—penghubung mulia dalam ikhtiar suci ini—duduk bersila di samping Viqar dengan ketenangan seorang nakhoda kawakan. Sorban putih gading tersampir rapi di bahu kanannya. Bibir sang ustadz menyunggingkan senyum tipis yang sarat makna; ia membaca persis badai emosi yang tengah memporak-porandakan batin murid binaannya itu.

Jam dinding bandul kayu jati tua bermerek Junghans yang tergantung di dekat pintu gebyok berdetak lambat dan berbobot: *tik... tok... tik... tok...* Tiap detiknya seperti palu godam yang memecah kesunyian, menakar sejauh mana keberanian seorang pemuda yang biasanya lantang membedah algoritma komputasi dan kaidah ushul fikih, kini mati kutu menanti sepasang langkah kaki di balik tirai batas.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian II: Retrospeksi Perjalanan dan Guyonan Sang Ulama Sepuh

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Pikiran Viqar sempat terlempar jauh ke belakang—sebuah lorong retrospeksi yang membawanya kembali ke kamar sewa berukuran tiga kali empat meter di pinggiran kota perantauan lima tahun lalu. Di sana, di antara tumpukan diktat riset kecerdasan buatan dan jajaran kitab kuning yang sampulnya mulai terkelupas, ia pernah bermunajat panjang dalam kepedihan. Kematian sang ayah saat usianya baru menginjak bangku madrasah aliyah telah merenggut kemewahan masa muda. Ia bersumpah di hadapan pusara ayahnya untuk tidak pernah main-main dengan anak perempuan orang lain sebelum pundaknya cukup kukuh memikul tanggung jawab nafkah dan agamanya.

Viqar ingat betul malam ketika Ustadz Hanif menyodorkan sebuah biodata bersampul hijau muda dua bulan silam. 'Namanya Ralia Syifa Az-Zahra,' bisik gurunya kala itu di serambi masjid. 'Bukan hanya putrinya Abah Syafi'i yang hafidzah tiga puluh juz, tapi dia anak muda yang mengabdi membangun kurikulum literasi anak-anak yatim di pelosok. Jika engkau mencari paras semata, dunia ini penuh bidadari fatamorgana. Tapi jika engkau mencari kawan safar menuju telaga Kautsar, istikharahkanlah gadis ini.' Malam itu, untuk pertama kalinya Viqar menangis dalam tahajudnya, bukan karena takut miskin, melainkan takut jika ia melangkah karena dorongan hawa nafsu yang berselubung pakaian takwa.

Lamunan Viqar terbuyarkan seketika tatkala suara tawa renyah dan berat membahana di ruang tamu. Kiai Haji Abah Syafi'i mencondongkan tubuhnya ke depan seraya mengusap janggut putihnya yang terpangkas rapi. Kiai sepuh bersarung tenun sutra samarinda hijau lumut itu menatap Viqar dengan kerling mata yang berbinar jenaka.

'Nak Viqar,' suara Abah Syafi'i mengalir renyah, meruntuhkan keheningan yang semula sepekat malam. 'Tegel terakota Abah ini memang baru dipel subuh tadi pakai air rebusan daun serai wangi. Tapi Abah yakin seratus persen, tidak ada kepingan dinar emas yang tercecer di sela-sela anyaman tikar pandan itu sampai-sampai kepalamu menunduk begitu dalam dari tadi, seolah sedang mencari jarum jahit yang hilang.'

Ustadz Hanif langsung tertawa tertahan seraya membetulkan lipatan sorbannya, sementara Bunda Wardah tak kuasa menahan senyum simpul yang membuat kedua pipinya memerah terhibur.

'Astagfirullah... Maafkan murid saya ini, Abah,' timpal Ustadz Hanif seraya menepuk pelan paha Viqar. 'Bocah ini kalau di kampus luar negeri mempresentasikan riset di depan para profesor dan bule, kepalanya tegak laksana singa padang pasir. Begitu diajak sowan ke serambi Nurul Hikmah, singanya tiba-tiba bermutasi jadi anak kucing yang baru kecebur selokan—mengkerut dan kedinginan!'

Tawa di ruangan itu pecah dengan sangat hangat, melarutkan sekat formalitas kaku yang semula membentang. Viqar hanya mampu tersenyum canggung seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, namun ajaibnya, beban puluhan ton yang menghimpit dadanya mendadak terasa sedikit terangkat.

Lihat selengkapnya