Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Sepasang Mata yang Menunduk

"Masya Allah, lembut sekali tanganmu, Nak Ralia. Seperti air telaga yang menyejukkan siapa saja yang memandangnya."— Bunda Wardah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian I: Gemelatuk Porselen dan Sekilas Pandang yang Terjaga

⋆⋅☆⋅⋆

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui sela kisi-kisi jendela kayu jati tua di rumah Abah Syafi'i, melukis garis-garis emas di atas anyaman tikar mendong dan taplak meja berenda putih. Udara desa masih menyisakan sisa embun pegunungan yang sejuk, bercampur wangi serai, sangrai jahe merah, dan harum kayu manis yang berembus samar dari arah dapur belakang. Di beranda, seekor kucing belang tiga tidur melingkar di atas undakan batu kali, sama sekali tak peduli bahwa di ruang tengah berukuran lima kali enam meter itu, detak jantung seorang pemuda bernama Muhammad Viqar Al-Ghazi tengah bertalu layaknya genderang perang.

Viqar duduk bersila dengan punggung tegak, jemari tangannya bertaut rapi di atas pangkuan celana kain gelapnya. Setiap beberapa detik, ia membetulkan letak songkok hitamnya yang sebenarnya sudah terpasang presisi di kepala. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai merembes di pelipisnya. Bukan karena hawa ruangan yang panas—karena kipas angin gantung kuno di langit-langit berputar tenang mendengungkan kesejukan—melainkan karena beberapa jenak yang lalu, pintu berderit halus dan sesosok bayangan berbalut gamis hijau lumut berpadu khimar krem melangkah masuk menghantarkan baki kayu.

Pandangan sekilas itu. Pandangan pertama yang diizinkan syariat sebagai lentera ikhtiar—nadzar syar'i yang suci.

Hanya satu detik, barangkali tak lebih dari dua hembusan napas. Namun bagi Viqar, detik yang ringkas itu serasa membekukan seluruh peredaran darahnya. Wajah itu tidak dibubuhi riasan berlebih; hanya paras bersih dengan sepasang alis rapi alami dan binar keteduhan yang tak bisa dipalsukan oleh kosmetik apa pun di dunia. Pandangan mereka sempat bersilang di udara—satu sambaran hening yang menggetarkan sanubari—sebelum secara serempak, seolah dipandu oleh titah malaikat tak kasatmata, kedua pasang bola mata itu luruh ke lantai semen berlapis karpet marun.

Viqar menunduk begitu dalam hingga ia bisa menghitung motif floral pada karpet di bawah lututnya. Pergolakan dalam dadanya bukan rasa takut yang mencekam, melainkan desakan rasa malu yang luar biasa agung—haya' yang lahir dari kesadaran bahwa wanita di hadapannya adalah milik Allah yang amat terjaga, belum halal baginya bahkan untuk sekadar dinikmati lewat pandangan mata.

'Astaghfirullahal 'Azhim... Subhanallah,' bisik batin Viqar berulang-ulang, meredam debar yang berloncatan tak keruan. Di balik ketundukannya, sebuah rekaman masa lalu melintas bagai kilatan proyektor tua.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian II: Retrospeksi di Balik Songkok dan Rapuhnya Sebuah Doa

⋆⋅☆⋅⋆

Tiga tahun yang lalu, Viqar bukanlah pemuda dengan ketenangan semacam ini. Ia pernah merasa pongah ketika bisnis konveksi santri yang dirintisnya di kota melaju kencang. Ia mengira kemampuannya menganalisis pasar sudah cukup untuk menaklukkan masa depan. Namun, badai krisis menamparnya telak. Penipuan mitra bisnis, tumpukan hutang bahan baku, dan malam-malam panjang di mana ia hanya sanggup makan nasi aking berteman kecap manis telah meremukkan kesombongannya berkeping-keping.

Di sudut musala kecil pinggiran kota saat itu, dengan kening menempel lekat pada sajadah basah, Viqar belajar mengeja ulang arti tawakal. Bahwa seorang lelaki tak akan pernah mampu menjadi qawwam—pemimpin dan pelindung—hanya dengan modal saldo rekening atau gelaran gelar sarjana. Jika hatinya kosong dari takut kepada Allah, kepemimpinannya hanyalah tirani kecil yang siap menzalimi anak perempuan orang lain.

'Apakah aku sudah layak, ya Rabb?' jerit jiwanya kini, menatap ujung jempol kakinya sendiri. Di depannya duduk Abah Syafi'i, seorang ulama kharismatik yang dihormati seantero kecamatan, ayah kandung dari gadis yang selama enam bulan ini namanya hanya berani ia ketuk dalam doa sepertiga malam terakhir.

Sementara itu, di seberang meja kayu jati berkaki lengkung, Ralia meletakkan cangkir porselen bermotif dedaunan dengan kehati-hatian yang luar biasa. Tangannya gemetar samar, membuat cangkir teh jahe itu berdenting pelan dengan tatakannya—klinting! Bunyi kecil itu terdengar nyaring di tengah keheningan ruang tamu yang sarat khidmat.

Pipi Ralia sontak merona merah dadu di balik cadar tipis atau tepian khimarnya yang menjuntai. Ia menggigit bibir bawahnya perlahan, merasa amat canggung dan malu. Namun dari arah samping, sebuah tangan lembut nan hangat tiba-tiba meraih pergelangan tangannya, mengelusnya dengan kelembutan yang meluruhkan seluruh kecemasan dunia.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian III: Dapur Belakang dan Sentuhan Tangan Bunda Wardah

⋆⋅☆⋅⋆

Tangan itu milik Bunda Wardah, ibunda Viqar. Wanita paruh baya berwajah teduh dengan kerudung ungu plum itu tersenyum begitu manis hingga sudut matanya membentuk kerutan-kerutan kasih sayang yang murni. Sejak melangkah masuk ke pekarangan rumah ini, tatapan Bunda Wardah tak lepas mengamati Ralia—bukan dengan tatapan inspektur yang menilai cacat cela calon mantu, melainkan dengan pandangan seorang ibu yang sedang menatap permata titipan surga.

Bunda Wardah mencondongkan tubuhnya, menggenggam kedua telapak tangan Ralia yang dingin lalu membimbingnya perlahan menuju sudut partisi kayu dekat dapur, memberi ruang bagi para lelaki di ruang tamu untuk berbincang santai.

"Masya Allah, Nak Ralia..." bisik Bunda Wardah, suaranya selembut desau angin di dedaunan cemara. "Lembut sekali tanganmu, Nak Ralia. Seperti air telaga yang menyejukkan siapa saja yang memandangnya."

Kalimat itu sederhana, namun bagi Ralia, kata-kata tersebut menghantam dinding dadanya dengan dentuman haru yang dahsyat. Kerongkongannya seketika tercekat. Air mata hangat merebak di pelupuk matanya, tertahan sekuat tenaga agar tidak menetes membasahi pipi.

Lihat selengkapnya