"Masya Allah, lembut sekali tanganmu, Nak Ralia. Seperti air telaga yang menyejukkan siapa saja yang memandangnya."— Bunda Wardah
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian I: Uap Melati dan Gemeretak Cangkir yang Gugup
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Hujan rintik yang sempat membasahi genteng tanah liat rumah joglo di lereng perbukitan itu akhirnya menyerah pada hembusan angin selatan. Aroma petrichor—tanah basah yang baru saja mengecup sisa gerimis—bercampur lamat-lamat dengan harum teh melati tubruk yang mengepul dari teko tanah liat di atas meja jati berkaki empat. Di pelataran teras depan yang lapang dan dinaungi ukiran kayu jepara kuno, empat cangkir blirik enamel hijau berdiri berdampingan dengan sepiring pisang kepok goreng bertabur parutan keju dan gula palem yang masih berdesis halus.
Viqar Al-Habsyi duduk tegak di salah satu kursi rotan bersandaran tinggi. Punggungnya kaku bagai mistar baja. Kemeja katun abu-abu mudanya disetrika begitu rapi, kontras dengan gemuruh tak kasat mata yang sedang membuncah di balik rongga dadanya. Lelaki berusia dua puluh delapan tahun itu telah berdiri di podium konferensi sains internasional, membentangkan tesis teknik mesin di hadapan profesor-profesor berwajah dingin dari Kyoto hingga Munich tanpa sebutir keringat dingin pun menetes. Namun sore ini, di hadapan sehelai taplak meja renda putih dan seorang gadis berkerudung hijau lumut yang duduk berjarak dua depa darinya, jemari tangannya terasa beku.
Ia memutar-mutar tepian cangkirnya dengan sangat pelan, berusaha menyembunyikan getar renik di pergelangan tangannya. Di seberangnya, Ralia Syafiqah menundukkan pandangan dengan khidmat. Buku catatan kecil bersampul beludru hijau tergeletak anggun di pangkuannya. Jemari Ralia yang lentik menyelipkan sehelai anak rambut yang tertutup rapat di balik khimar berlapis dua. Gadis itu tidak tampak gugup, melainkan seperti sebuah telaga hening di pagi buta: tenang di permukaan, namun menyimpan kedalaman karang yang tak terduga.
"Ehem... Mas Viqar," celetuk Abah Manshur tiba-tiba seraya meraih pisang kepok yang paling montok. Sarung tenun samarinda cokelat Abah berdesir saat sang kyai sepuh itu menyandarkan punggungnya yang sedikit bungkuk. "Cangkir itu jangan cuma diputar-putar kayak baut roda traktor. Diteguk. Nanti kalau tehnya dingin, manisnya lari ke kebun pisang sebelah."
Ustadz Salman, yang duduk di sudut kanan sebagai saksi sekaligus pengawal adab ta'aruf, sontak terkekeh renyah. "Betul itu, Kyai. Viqar ini kalau memandang cangkir seolah-olah lagi menghitung koefisien gesek termodinamika. Santai saja, Akhi. Kita ini sedang menjajaki takdir surga, bukan sedang sidang yudisium skripsi di depan dekanat yang pelit nilai."
Ralia tersenyum tipis. Gerakan sudut bibirnya yang samar di balik ketenangannya membuat rona merah saga menjalar cepat ke pelipis Viqar. Ketegangan yang tadi mengkristal bagai es seketika mencair, digantikan oleh hembusan tawa tertahan yang manusiawi. Viqar berdeham, membetulkan letak duduknya, lalu mengarahkan pandangannya ke titik netral di atas meja kayu.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian II: Menanam Benih di Bumi, Menerbangkan Sayap ke Langit
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
"Bismillahirrohmanirrohim," suara Viqar akhirnya mengalun, rendah namun sarat wibawa. Nada bass-nya yang hangat mengisi keheningan teras yang mulai disapa tembang jangkrik pertama. "Ustadz Salman, Abah, dan... Mbak Ralia. Setelah lembar riwayat hidup dan biodata syar'i kita pelajari bersama pada pertemuan pertama kemarin, ada ruang-ruang masa depan yang rasanya perlu kita bentangkan bersama sore ini. Bukan untuk saling menguji kecerdasan, melainkan memastikan apakah tapak kaki kita kelak memijak arah kompas yang sama."
Ralia mengangkat kepalanya sedikit. Manik matanya yang jernih bersitatap sekilas dengan arah pandang Viqar yang sopan terjaga, lalu mengangguk lembut. "Tafaddhol, Mas Viqar. Silakan diutarakan."
Viqar menarik napas dalam-dalam. Di benaknya, melintas retrospeksi masa-masa kecilnya di asrama pesantren dan bangku kuliah negeri. Betapa banyak ia menyaksikan rekan-rekannya yang terbelah dua: ada yang menguasai Al-Qur'an namun gagap dan paranoid terhadap peradaban modern, dan ada yang cemerlang di laboratorium teknologi mutakhir namun kehilangan arah kiblat moral serta hampa dari air mata shalat malam.
"Pertanyaan pertama saya menyangkut amanah pengasuhan anak," ujar Viqar, suaranya mengalir lebih lancar kini. "Kita hidup di zaman ketika algoritma digital dan sains modern bergerak secepat kilat, sementara sekularisme merayap halus melalui layar-layar gawai di saku anak-anak. Saya seorang insinyur yang mencintai sains, dan Mbak Ralia adalah seorang hafizhah sekaligus peneliti mikrobiologi. Jika Allah mengaruniakan buah hati kepada kita kelak, bagaimana Mbak Ralia memandang orkestrasi antara menanamkan hafalan Al-Qur'an 30 juz dan membekali mereka kecakapan sains global? Saya tidak ingin anak-anak kita kelak menjadi generasi yang gamang, atau sebaliknya, mengalami kejenuhan spiritual karena beban ambisi orang tuanya."
Abah Manshur mengunyah pisang gorengnya dengan tatapan berbinar, menanti bagaimana calon menantunya akan merespons pertanyaan berbobot itu. Ustadz Salman bersedekap, tersenyum mengamati dinamika intelektual dua anak manusia ini.
Ralia membuka buku beludrunya secara perlahan. Jemarinya yang bersih membelai halaman kosong sebelum ia berbicara dengan artikulasi yang bening bagai air terjun pegunungan.
"Al-Qur'an itu akar tunjang, Mas Viqar, sedangkan sains adalah dahan dan buah yang menjangkau cakrawala," jawab Ralia tenang. "Saya sering merenungkan bagaimana para ulama klasik seperti Ibnu Sina atau Al-Biruni memandang semesta. Mereka tidak pernah mengalami krisis identitas antara ayat qauliyah dan ayat kauniyah, karena bagi mereka, meneliti sel mikroskopis di bawah lensa atau mengamati galaksi di langit adalah bentuk lain dari tasbih."
Ralia berhenti sejenak, menghela napas yang sarat refleksi batin. Dalam kilas balik jiwanya, ia teringat cibiran seorang bibi jauh saat ia memutuskan melanjutkan magister bioteknologi: *'Perempuan kok sekolah tinggi-tinggi, Ralia? Nanti anakmu siapa yang ngajarin ngeja Alif-Ba-Ta kalau ibunya sibuk di laboratorium?'* Ucapan yang kala itu sempat melukai dadanya, kini ia sulap menjadi kristal keteguhan.
"Pola asuh yang saya bayangkan bukan menjadikan anak-anak sebagai etalase kebanggaan orang tua," sambung Ralia mantap. "Saya tidak akan memaksa mereka menghafal Al-Qur'an sekadar agar saya dan suami bisa berbangga di acara wisuda tahfizh pesantren. Al-Qur'an harus dihadirkan sebagai sahabat tidur mereka, pelukan saat mereka sedih, dan pedoman berpikir yang hidup. Hafalan mereka harus berdenyut dalam akhlak. Dan sains... sains akan kita ajarkan di meja makan dan kebun belakang rumah—sebagai rasa takjub atas kebesaran Allah sang Maha Pencipta. Jika akarnya kokoh menancap di tanah iman, setinggi apa pun dahan sains mereka menjulang ditiup badai pemikiran dunia, mereka tidak akan pernah tumbang."
Viqar terdiam. Ada desau hangat yang merayap di dadanya—sebuah jawaban yang melampaui ekspektasi teoritis yang sempat ia rumuskan di kepalanya semalam suntuk.