"Pria yang memikul tanggung jawab anak yatim dengan kedua pundaknya sendiri bukanlah pria yang kurang berharta, melainkan pria yang sedang menanam pohon naungan di surga. Saya bangga dengan kebaikan antum, Mas Viqar."— Ralia Syafiqah
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Jarum panjang jam dinding berbingkai kayu jati di ruang tamu itu bergerak dengan ketukan yang teramat patuh. Lima menit menjelang pukul dua belas siang. Terik matahari Jagakarsa yang garang di luar sana tersaring lembut oleh tirai renda krem tipis, melemparkan kisi-kisi bayangan geometris ke atas hamparan karpet permadani bermotif kashmir. Udara di dalam ruangan itu sebenarnya sejuk berkat embusan pendingin ruangan yang berbisik halus, namun telapak tangan kananku terasa dingin bagai batu kali yang baru diangkat dari dasar sungai. Di atas meja bundar berkaki tiga, cangkir porselen putih berisi teh melati milikku sudah lama kehilangan kepulan uapnya; hanya menyisakan lingkaran embun tipis di tatakan porselen yang melingkar serupa garis kompas yang membeku.
"Tehnya sama sekali belum tersentuh, Mas Viqar," suara Ralia memecah hening dengan nada yang teramat santun, nyaris menyerupai petikan dawai harpa yang hati-hati. Ia duduk di seberang meja, terhalang jarak syar'i sekitar dua meter yang dijaga ketat. Khimar berwarna salem pastel yang dikenakannya jatuh rapi membingkai parasnya yang teduh tanpa polesan berlebih. "Atau gulanya kurang terasa? Tadi sengaja saya buatkan dengan takaran sedikit, khawatir Mas Viqar tipikal pria modern yang anti-karbohidrat."
Aku menarik napas perlahan melalui rongga hidung, berusaha menstabilkan diafragma yang mendadak terasa kaku bagai bekisting beton belum kering. "Bukan karena anti-gula, Ralia," jawabku seraya tersenyum tipis—senyuman yang kuharap terlihat wajar dan tidak mempermalukan profesiku sebagai perancang tata ruang. "Justeru saya khawatir kalau ditambah gula, kadar manis di ruangan ini melampaui ambang batas toleransi tubuh saya. Dan terus terang... debar jantung saya sejak pukul sepuluh tadi sudah setara menghadapi sidang komprehensif tugas akhir arsitektur ditambah presentasi tender bernilai miliaran di hadapan dewan komisaris yang gemar cemberut."
Tawa kecil yang tertahan meluncur dari balik jemari Ralia yang menutup bibirnya sejenak. Matanya menyipit ramah, memancarkan binar cerdas yang selama dua jam diskusi telah membuktikan bahwa perempuan ini bukan hanya pandai menata kata, melainkan memiliki kedalaman cara berpikir yang memikat. Di sudut serambi yang berbatasan langsung dengan pintu geser kaca ruang tamu, Abi Farhan yang sejak tadi khusyuk membaca terjemahan Kitab Al-Hikam melipat kacamata bacanya. Lelaki berambut perak dengan garis wajah wibawa itu menoleh, tersenyum dengan sorot kebapakan yang menenangkan. "Kalau Nak Viqar setegang itu, Abi sempat mengira kamu mau meninjau retak rambut di plafon rumah tua ini. Tenang saja, Nak. Sesi nadzor ini bukan interogasi dinas tata kota."
"Alhamdulillah, terima kasih, Abi," sahutku menundukkan kepala takzim, sebelum jemariku bertaut erat di atas pangkuan celana kain hitamku. Inilah saatnya. Waktu pertemuan hampir usai, dan bila aku membiarkan detik demi detik ini berlalu tanpa menyingkapkan tabir terpenting dalam kehidupanku, maka segala pembicaraan manis tentang visi rumah tangga islami tadi hanyalah fatamorgana yang dibangun di atas pasir dusta. Aku melirik jam dinding sekali lagi. *Ash-shidqu yunji*—kejujuran itu menyelamatkan, bisik nuraniku menggemakan kaidah ushul yang selalu dipesankan guru ngajiku. Aku menegakkan punggung, menatap Abi Farhan dengan kesungguhan bulat. "Abi... jika diizinkan, sebelum azan Zuhur berkumandang dan pertemuan ini kita tutup, ada satu perkara krusial yang ingin saya sampaikan secara langsung kepada Ralia. Tentu tetap dalam naungan pengawasan dan pendengaran Abi."